Ujian Berbasis Komputer

Dalam sistem pendidikan nasional, ujian akhir sudah ada sejak masa kemerdekaan (bahkan di masa penjajahan) hingga kini dengan sebutan yang berbeda-beda. Dewasa ini, ujian akhir oleh pemerintah disebut Ujian Nasional sebagai bagian dari evaluasi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan pada jenjang SMP dan SMA yang sederajat pada mata pelajaran tertentu, (BSNP, 2015), sedangkan Silverius (2010) menyatakan ujian nasional merupakan jenis penilaian yang dilakukan pemerintah untuk mengukur keber- hasilan peserta didik yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan pada jalur sekolah/madrasah yang diselenggarakan secara nasional. Oleh karena itu, Ujian Nasional diselenggarakan pada akhir pembelajaran di satuan pendidikan untuk menentukan pencapaian pembelajaran peserta didik di SMP dan SMA sederajat. Penilaian hasil belajar yang dilakukan pemerintah merupakan upaya penguatan hasil penilaian internal oleh pendidik maupun satuan pendidikan (Hadiana, 2015). Dengan demikian, penilaian yang dilakukan pemerintah atau disebut penilaian eksternal, merupakan bentuk penilaian yang saling melengkapi dan menguatkan hasil pendidikan di satuan pendidikan.

Penilaian dengan memanfaatkan komputer, pada awalnya berkembang di pusat-pusat konseling di bidang psikologi (Gregory, 2013) untuk membantu para klien yang mengalami hambatan di bidang psikologi. Komputer digunakan untuk menerima pendaftaran klien yang dapat mengikuti penilaian dan secara otomatis klien dapat dihadapkan pada sejumlah butir soal pada komputer serta secara otomatis dapat keluar hasil aspek yang di nilai dari seorang klien setelah pelaksanaan penilaian. Pemanfaatan komputer untuk penilaian di kalangan psikologi semakin berkembang dan termasuk pemanfaatannya di bidang pendidikan khususnya untuk penilaian hasil belajar. Dalam pelaksanaan penilaian (ujian) memunculkan dua alur yaitu ujian tertulis atau PBT dan ujian berbasis komputer atau CBT. PBT merupakan pelaksanaan ujian berbasis kertas seperti dilakukan selama ini, sedang CBT merupakan pelaksanaan ujian berbasis komputer. Model CBT menurut Luecht dan Sireci (2011) dikelompokkan menjadi: 1) Computerized Fixed Tests (CFT); 2) Linear-on-the-Fly, Tests (LOFT); 3) Computerized Adaptive Tests (CAT); 4) a- Stratified Computerized Adaptive Testing (AS); 5) Content-Constrained CAT with Shadow Tests; 6) Testlet-Based CAT and Multistage Computerized Mastery Tests (combined); dan 7) Computer-Adaptive Multistage Testing. Setiap model memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan ujian serta model-model tersebut dapat dibedakan menjadi ujian berbasis komputer dengan paket soal pasti/tertentu (CBT) dan soal yang diatur atau disesuaikan dengan kemampuan peserta ujian (CAT). Model CAT memuat sejumlah butir soal dengan tingkat kesukaran yang bervariasi dan karakteristik butir soal lainnya. Peserta ujian langsung menghadap komputer dan butir soal yang dapat dikerjakan muncul satu per satu di layar komputer sesuai dengan kemampuan peserta ujian. Dari soal yang tersedia bila peserta ujian tidak dapat menjawab atau salah menjawab pada tingkat tertentu maka ujian berakhir. Berdasarkan soal yang dapat dikerjakan dapat diketahui atau diperoleh tingkat kemampuan peserta ujian dan bila melampui target yang telah ditetapkan maka peserta ujian dinyatakan berhasil dan bila belum peserta ujian dapat mengulang kembali sampai yang bersangkutan dinyatakan lulus.

Ujian Nasional Tahun 2015 yang menerapkan ujian berbasis komputer yang disebut UNBK, merupakan ujian yang relatif setara dengan ujian tertulis seperti selama ini dilakukan. Per- bedaannya terletak pada soal yang tersedia dalam file komputer. Kajian pelaksanaan ujian berbasis komputer dilakukan oleh Santosa (2009) yang meneliti pengukuran hasil belajar mahasiswa universitas terbuka. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa pengukuran hasil belajar mahasiswa dapat dilakukan melalui ujian yang berbasis komputer. Pengembangan perangkat lunak atau aplikasi untuk menunjang pelak­sanaan ujian nasional telah dikembangkan oleh Puspendik meliputi infrastruktur (jaringan komputer), aplikasi program, pengembangan bank soal terkalibrasi, dan sumber daya manusia (Bagus, 2013). Keberhasilan pelaksanaan UNBK sangat ditentukan ketersediaan aplikasi program dan jaringan internet. Melalui pengembangan perangkat tersebut, pelaksanaan UNBK dapat dilakukan secara online sebagaimana kajian dari Suprananto (2012) secara khusus untuk ujian Pendidikan Kesetaraan. Model UNBK masa depan dimaksudkan pelaksanaan ujian dilakukan secara online baik dalam lingkup kabupaten/kota atau provinsi atau nasional dan hasil ujian segera diperoleh peserta didik setelah mengikuti ujian. Model UNBK ini juga diharapkan dapat melayani peserta didik yang telah menggunakan Kurikulum 2013 dengan sistem kredit semester. Dengan demikian, peranan teknologi dapat memper- cepat hasil ujian hingga sertifikat dapat diperoleh peserta didik setelah pelaksanaan ujian berlangsung. Hal itu, dapat berdampak pada adanya peluang atau waktu untuk mempersiapkan diri peserta didik yang ingin melanjutkan pelajaran ke jenjang yang lebih tinggi ataupun untuk meningkatkan kompetensi bagi sekolah kejuruan.