e-learning

Penggunaan TIK dalam kehidupan sehari-hari sudah merupakan kebutuhan untuk mem- permudah interaksi antarmasyarakat. Di lingkungan sekitar kita, tampak produk-produk TIK yang memengaruhi kehidupan seperti televisi, telepon genggam, pemutar DVD/VCD, Ipods, laptop atau komputer. Produk tersebut sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan kita dalam rangka mempertahankan kehidupan. Adanya produk TIK tersebut memudahkan dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Melalui siaran dan acara televisi kita dapat mengetahui perkembangan berita yang ada di dunia serta sebagai sarana hiburan. Telepon genggam memudahkan kita berkomunikasi tanpa ada batas atau sekat-sekat. Demikian pemutar DVD/ VCD dapat digunakan sebagai sarana hiburan di rumah atau kegiatan olahraga (senam) sedang komputer digunakan untuk berbagai keperluan seperti sebagai sarana belajar, mencari informasi, atau sarana hiburan.

Pengaruh perkembangan TIK yang demikian pesat merambah seluruh lapisan kehidupan termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan memberikan peluang perubahan dan kemung- kinan baru di dunia pendidikan. Berbagai produk TIK menyebabkan perubahan dalam proses interaksi pembelajaran di satuan pendidikan. Produk TIK telah memaksa para pendidik untuk mengubah strategi dalam proses pembelajaran dengan penerapan produk-produk TIK. Pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran menjadikan pembelajaran yang inovatif, lebih interaktif, dan kolaboratif, sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara efektif dan menyenangkan (Purwanto, 2004). Proses pembelajaran dengan memanfaatkan produk TIK dikenal dengan pembelajaran e-learning yang dilaksanakan dalam berbagai bentuk seperti penyediaan bahan ajar secara online, pem­belajaran jarak jauh, pembelajaran Moodle dan Facebook, program computer assisted learning atau pembelajaran berbasis komputer.

Pembelajaran e-learning merupakan pem­belajaran online dengan menggunakan format digital melalui teknologi informasi (Kusnohadi, 2014). Pembelajaran yang dilakukan pendidik pada dasarnya merupakan pembe-lajaran konvensional di dalam kelas atau di luar kelas dengan menerapkan berbagai produk TIK sebagai media pembelajaran dalam bentuk multi media, yaitu perpaduan antara teks, grafis, suara, animasi, dan video yang disajikan dalam komputer atau media elektronik (Tanrere dan Sumiati, 2012). Pembelajaran dengan menggunakan TIK dipercaya memberikan hasil pembelajaran yang lebih unggul dibandingkan tanpa menggunakannya. Mengapa demikian, karena dengan bantuan produk TIK para peserta didik dapat lebih mudah untuk menguasai materi pelajaran dan bahkan peserta didik dapat ditugaskan memelajari materi atau kompetensi yang lebih dengan mencari materi yang relevan melalui internet atau multimedia. Bentuk multimedia yang diperlukan untuk menunjang kegiatan pembelajaran di satuan pendidikan yaitu multimedia interaktif (Waldopo, 2011), dimana peserta didik dapat belajar secara aktif dengan menggunakan media elektronik seperti video, VCD, DVD. Media elektronik tersebut memuat materi pembelajaran dan peserta didik dapat mengamati proses yang terjadi dan kegiatan yang berkaitan dengan topik bahasan tertentu dari materi pembelajaran. Media tersebut dapat dilakukan secara berulang sehingga peserta didik memahami materi tersebut.

Pembelajaran dengan memanfaatkan TIK dapat memberi kebebasan peserta didik untuk memelajari materi atau kompetensi sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Dalam hal ini pendidik berfungsi sebagai fasilitator atau pembimbing untuk mengarahkan materi atau pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui pembelajaran online dalam proses pembelajaran di kelas. Kebebasan yang dimiliki peserta didik untuk belajar atau mendalami suatu materi atau kompetensi berdampak pada kemampuan belajar dan wawasan serta peserta didik merasakan belajar itu menyenangkan. Pembelajaran dengan penerapan TIK dapat meningkatkan hasil proses pembelajaran dan menguatkan hasil pem­belajaran di kelas (Evranita, 2009) serta menambah wawasan dan keterampilan peserta didik. Untuk mengetahui hasil proses pem­belajaran maka dilakukan penilaian yang berfungsi memberikan informasi tentang peserta didik yang sudah atau belum memahami materi pembelajaran. Hasil penilaian digunakan sebagai bahan diskusi dengan peserta didik ataupun orang tua (wali) untuk meningkatkan pengua- saan materi atau kompetensi peserta didik. Proses ini akan meningkatkan hasil pembelajaran sebab bagi peserta didik yang belum memahami pelajaran dapat memelajarinya lebih lanjut di rumah dengan bimbingan orang tua (wali).

Penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran yang bertujuan untuk mengetahui sejauhmana proses pembelajaran yang dilakukan berhasil atau tidak. Melalui penilaian yang dilakukan pendidik dapat mendeteksi materi yang sudah dikuasai dan belum oleh peserta didik. Materi yang belum dikuasai dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran ulang atau menjadi materi penugasan sehingga peserta didik dapat menguasainya. Penilaian dalam proses pem­belajaran terdiri atas penilaian formatif dan sumatif (Nitko dan Susan, 2011). Penilaian formatif dapat membantu para pendidik untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik dan hasil penilaian digunakan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dan mendeteksi kesulitan belajar peserta didik. Penilaian formatif dilakukan dalam bentuk ulangan harian atau penugasan selama proses pembelajaran. Penilaian sumatif dilakukan untuk mengetahui capaian peserta didik setelah proses pembelajaran berlangsung satu semester atau atau satu tahun pembelajaran dalam bentuk ulangan semester, kenaikan kelas, atau ujian akhir. Penilaian dilakukan dalam rangka pencapaian kompetensi selama peserta didik mengikuti pendidikan di suatu satuan pendidikan tertentu. Pengukuran kompetensi mutlak dilakukan sebagai bahan pertanggungjawaban satuan pendidikan kepada masyarakat atau pemerintah atau suatu yayasan tentang kemajuan belajar peserta didik yang yang telah dipercayakan pada satuan pendidikan.

 

Ujian Berbasis Komputer

Dalam sistem pendidikan nasional, ujian akhir sudah ada sejak masa kemerdekaan (bahkan di masa penjajahan) hingga kini dengan sebutan yang berbeda-beda. Dewasa ini, ujian akhir oleh pemerintah disebut Ujian Nasional sebagai bagian dari evaluasi sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran dan penilaian pencapaian standar kompetensi lulusan pada jenjang SMP dan SMA yang sederajat pada mata pelajaran tertentu, (BSNP, 2015), sedangkan Silverius (2010) menyatakan ujian nasional merupakan jenis penilaian yang dilakukan pemerintah untuk mengukur keber- hasilan peserta didik yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan pada jalur sekolah/madrasah yang diselenggarakan secara nasional. Oleh karena itu, Ujian Nasional diselenggarakan pada akhir pembelajaran di satuan pendidikan untuk menentukan pencapaian pembelajaran peserta didik di SMP dan SMA sederajat. Penilaian hasil belajar yang dilakukan pemerintah merupakan upaya penguatan hasil penilaian internal oleh pendidik maupun satuan pendidikan (Hadiana, 2015). Dengan demikian, penilaian yang dilakukan pemerintah atau disebut penilaian eksternal, merupakan bentuk penilaian yang saling melengkapi dan menguatkan hasil pendidikan di satuan pendidikan.

Penilaian dengan memanfaatkan komputer, pada awalnya berkembang di pusat-pusat konseling di bidang psikologi (Gregory, 2013) untuk membantu para klien yang mengalami hambatan di bidang psikologi. Komputer digunakan untuk menerima pendaftaran klien yang dapat mengikuti penilaian dan secara otomatis klien dapat dihadapkan pada sejumlah butir soal pada komputer serta secara otomatis dapat keluar hasil aspek yang di nilai dari seorang klien setelah pelaksanaan penilaian. Pemanfaatan komputer untuk penilaian di kalangan psikologi semakin berkembang dan termasuk pemanfaatannya di bidang pendidikan khususnya untuk penilaian hasil belajar. Dalam pelaksanaan penilaian (ujian) memunculkan dua alur yaitu ujian tertulis atau PBT dan ujian berbasis komputer atau CBT. PBT merupakan pelaksanaan ujian berbasis kertas seperti dilakukan selama ini, sedang CBT merupakan pelaksanaan ujian berbasis komputer. Model CBT menurut Luecht dan Sireci (2011) dikelompokkan menjadi: 1) Computerized Fixed Tests (CFT); 2) Linear-on-the-Fly, Tests (LOFT); 3) Computerized Adaptive Tests (CAT); 4) a- Stratified Computerized Adaptive Testing (AS); 5) Content-Constrained CAT with Shadow Tests; 6) Testlet-Based CAT and Multistage Computerized Mastery Tests (combined); dan 7) Computer-Adaptive Multistage Testing. Setiap model memiliki kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan ujian serta model-model tersebut dapat dibedakan menjadi ujian berbasis komputer dengan paket soal pasti/tertentu (CBT) dan soal yang diatur atau disesuaikan dengan kemampuan peserta ujian (CAT). Model CAT memuat sejumlah butir soal dengan tingkat kesukaran yang bervariasi dan karakteristik butir soal lainnya. Peserta ujian langsung menghadap komputer dan butir soal yang dapat dikerjakan muncul satu per satu di layar komputer sesuai dengan kemampuan peserta ujian. Dari soal yang tersedia bila peserta ujian tidak dapat menjawab atau salah menjawab pada tingkat tertentu maka ujian berakhir. Berdasarkan soal yang dapat dikerjakan dapat diketahui atau diperoleh tingkat kemampuan peserta ujian dan bila melampui target yang telah ditetapkan maka peserta ujian dinyatakan berhasil dan bila belum peserta ujian dapat mengulang kembali sampai yang bersangkutan dinyatakan lulus.

Ujian Nasional Tahun 2015 yang menerapkan ujian berbasis komputer yang disebut UNBK, merupakan ujian yang relatif setara dengan ujian tertulis seperti selama ini dilakukan. Per- bedaannya terletak pada soal yang tersedia dalam file komputer. Kajian pelaksanaan ujian berbasis komputer dilakukan oleh Santosa (2009) yang meneliti pengukuran hasil belajar mahasiswa universitas terbuka. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa pengukuran hasil belajar mahasiswa dapat dilakukan melalui ujian yang berbasis komputer. Pengembangan perangkat lunak atau aplikasi untuk menunjang pelak­sanaan ujian nasional telah dikembangkan oleh Puspendik meliputi infrastruktur (jaringan komputer), aplikasi program, pengembangan bank soal terkalibrasi, dan sumber daya manusia (Bagus, 2013). Keberhasilan pelaksanaan UNBK sangat ditentukan ketersediaan aplikasi program dan jaringan internet. Melalui pengembangan perangkat tersebut, pelaksanaan UNBK dapat dilakukan secara online sebagaimana kajian dari Suprananto (2012) secara khusus untuk ujian Pendidikan Kesetaraan. Model UNBK masa depan dimaksudkan pelaksanaan ujian dilakukan secara online baik dalam lingkup kabupaten/kota atau provinsi atau nasional dan hasil ujian segera diperoleh peserta didik setelah mengikuti ujian. Model UNBK ini juga diharapkan dapat melayani peserta didik yang telah menggunakan Kurikulum 2013 dengan sistem kredit semester. Dengan demikian, peranan teknologi dapat memper- cepat hasil ujian hingga sertifikat dapat diperoleh peserta didik setelah pelaksanaan ujian berlangsung. Hal itu, dapat berdampak pada adanya peluang atau waktu untuk mempersiapkan diri peserta didik yang ingin melanjutkan pelajaran ke jenjang yang lebih tinggi ataupun untuk meningkatkan kompetensi bagi sekolah kejuruan.