Manusia dalam keseimbangan determinisme dan fatalisme

Berenang Dalam Sunnatullah

Berenang Dalam Dualisme Kehendak dan Perbuatan

 

Manusia dalam Keseimbangan Determinisme dan Fatalisme berenang dalam sunnatullah berenang dalam dualisme kehendak dan perbuatan

 

  1. Pendahuluan

Allah SWT adalah Pusat. Pusat segala pusat. Pusat nilai, kebaikan, kebenaran, kesadaran, penciptaan, hukum, aturan, syari’ah, juga paradigma. Dialah Yang Satu, satu-satunya sesuatu, satu-satunya Dzat, yang tidak terkurung dalam dimensi ruang maupun waktu. Selain Allah, tanpa kecuali, semuanya terkurung dan terikat belaka dengan segala akibatnya.

Walaupun Allah adalah satu-satunya yang tidak terkungkung dalam dimensi-dimensi tadi, namun Dia berkenan untuk dikenal manusia. Semata-mata karena seluruh sifat ke-Ilahian-Nya yang teramat Agung dan Mulia, rahmat-Nya yang amat luas tertebar dan tertabur ke seluruh pelosok alam semesta, yang membuat manusia diizinkan untuk mengenal dan mendekatkan diri pada-Nya. Juga karena Welas Asih dan kasih sayang-Nya yang tidak terbatas. Lebih dari itu, Allah bahkan mengajarkan kepada manusia cara berkomunikasi pada-Nya. Terhadap manusia yang papa dan tampak hina sekalipun, Allah tetap berkenan menerimanya. Ini amat berbeda dengan manusia. Bila berpunya dan berkuasa sedikit saja sudah malas dan enggan disapa sesama, terlebih oleh orang yang di bawahnya.

Sesungguhnya bisa saja Allah bersimaharaja dengan diri-Nya sendiri dalam kesendirian-Nya dengan seluruh sifat Kemuliaan, Keagungan, juga Kemegahan-Nya sembari membiarkan manusia terbengkelai. Tidak terurus. Tetapi Maha Suci Allah dari gambaran naif seperti itu. Allah terlalu Rahman dan Rahim untuk meninggalkan para hamba-Nya. Meskipun ternyata banyak di antara manusia sendiri yang tidak tahu diuntung. Tidak pintar bersyukur.

Sebegitu jauh Allah berkenan untuk dikenal namun cara manusia memahami-Nya beserta seluruh ajaran, tuntunan, qudrah dan iradah-Nya lebih banyak berpusar di kisaran permukaan. Tidak selalu mudah bagi manusia untuk memahami semua itu. Salah satu musababnya adalah kenyataan keterbatasan. Manusia adalah sesuatu yang berbatas dan terbatas. Berbatas karena dibatasi dimensi ruang dan waktu. Terbatas karena tidak semua hal dimampui, disanggupi atau terjangkau. Sulit dilukiskan utuhnya sebuah pemahaman manakala pelaku pemahaman adalah kenyataan berbatas dan terbatas sementara sasaran pemahaman adalah Kenyataan Tak Berbatas dan Tak Terbatas. Oleh kenyataan nisbi terhadap Kenyataan Mutlak. Dan Allah adalah Kenyataan Mutlak sementara manusia adalah kenyataan nisbi. Kenyataan maya.

Allah dan manusia beserta seluruh makhluk lainnya adalah dua hal yang jelas-jelas berbeda. Dua hal yang berada dalam dua wilayah yang berbeda jauh. Pencipta adalah satu hal dan si tercipta adalah lain hal. Lalu, bagaimana sesuatu yang maya mencerna sesuatu Yang Serba Maha jika tanpa kekurangan?. Tidak selalu mudah memang tetapi juga tidak boleh berhenti atau jalan di tempat untuk menyambut sapaan-Nya. Setidak-tidaknya upaya penyelaman lebih jauh (jauh: menurut perspektif manusia) tersebut sebagai pengejawantahan beribadah kepada-Nya. Dari sinilah Teologi mendapat sejumlah rujukan awal keberangkatannya.

Teologi, ada yang menyebutnya sebagai Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam, menitikberatkan ranah pembahasannya pada ajaran-ajaran dasar agama.[1] Bila dibalik, tidak seluruh persoalan, nilai dan ajaran agama dibahas dalam Teologi. Al-Islam terlampau luas untuk dikaca dari perspektif tunggal. Pemikiran-pemikiran Teologi pun menjadi majemuk ketika berhadapan dengan kemajemukan umat. Pada gilirannya,dinamika pemikiran tumbuh dan hidup. Harapannya, tentu saja, dinamika yang mengusung rahmat.

Sebelum lebih jauh, penting untuk disadari bahwa istilah aliran, madzhab atau istilah lain searti tidak harus atau tidak selalu menunjukkan pengertian keluar dari arus utama. Tidak harus bersifat hitam atau putih. Sebab sebagai realitas kata, istilah-istilah semacam acap bersifat pengelompokan, pemilahan dan semacamnya.

“Syukurlah tidak terdapat aliran-aliran yang diakui benar oleh Islam memperselisihkan paham mengenai pokok-pokok agama. Perselisihan itu tidak merusakkan ke-Esaan Allah, kesaksian bahwa Muhammad itu Pesuruh Allah”.[2] Tidak kurang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, memerintah tahun 99-101 H, yang tersohor karena kealiman dan kesederhanaannya, menengarahi hal yang sama dalam kalimat berbeda: “Aku tidak senang jika sahabat-sahabat Nabi SAW itu tidak berselisih, karena jika mereka hanya mempunyai semacam perkataan saja niscaya mereka menghadapi kesempitan”.[3] Lebih tandas lagi Rasulullah dalam satu kesempatan menekankan sisi rahmat dalam perbedaan.Ikhtilafu ummati rahmatun. Dalam sisi ini bukan sasaran perbedaannya yang dikejar melainkan berkembangnya dinamika umat. Dan bila berjalan dengan arah yang benar berarti kemajuan.

Tidak bisa disanggah bahwa pemikiran-pemikiran dalam ruang Teologi berpengaruh terhadap cara kelompok maupun perseorangan umat bersikap dan bertindak. Seseorang bisa berpengharapan dalam menyikapi hidup karena hembusan pemikiran dimaksud dan sebaliknya tidak berpengharapan, seperti layu, juga bisa karenanya. Demikian juga manakala bergairah atau tidak bergairah dalam hidup. Semua ini dengan segenap akibatnya masing-masing.

Segenap pemikiran Teologi memang seharusnya digagas dan diarahkan untuk meraih pencapaian-pencapaian batiniah dan lahiriah terbaik. Namun dalam pelataran implementasinya tidak selalu demikian. Ini dibuktikan dengan torehan sejarah kelabu yang sempat terjadi di tubuh umat. Yang anggun tentu saja pengelolaan bersama ikhwal perbedaan pemikiran yang ada menjadi kekuatan konstruktif. Oleh karena itu bergulirnya pemikiran-pemikiran yang inklusif, tanpa saling menyingkirkan, kiranya dapat dipandang sebagai sebuah harapan. Atau setidaknya sebagai darah baru.

Yang menjadi silang pendapat dalam ranah ini adalah hal-hal yang berhubungan dengan kehendak dan perbuatan manusia. Perdebatan dan adu dalih selalu hangat jika sudah masuk pada: Apakah manusia memiliki kemerdekaan menciptakan kehendak dan perbuatannya sendiri ataukah kehendak dan perbuatan manusia itu diciptakan Allah?. Merdeka atau terpaksa?. Determistik atau fatalistik?. Inilah yang pada giliran selanjutnya, kedua kutub pemikiran yang saling berhadapan tersebut di sisi lain membiaskan penghadapan baru antara sifat kekuasaan mutlak Allah diseberangkan dengan sifat mutlak keadilan-Nya. Langsung maupun tidak. Pun kedua kutub pemikiran tersebut sama-sama berakar pada dalil-dalil nash. Menarik memang dan sangat mengundang.

Aliran Asy’ariyah, dipelopori Abu Hasan al-Asy’ari, telah berusaha sepenuh hati menjembatani berbagai pemikiran Teologi yang ada ke dalam satu rumusan yang padu. Dalam perjalanannya pemikiran-pemikiran Asy’ariyah mendapat banyak tempat di hati umat. Namun hal demikian bukan berarti sama sekali bebas dari kritik. Ada yang menyebut rumusan-rumusan pemikiran Asy’ariyah tidak mudah dipahami. Tidak sederhana. Bahkan yang mengatakan bahwa aliran Asy’ariyah pada dasarnya merupakan penyempurnaan dari alirah Jabariyah [4] pun ada. Apa makna semua ini? Persoalan makna dimungkinkan bisa berbagai. Namun satu hal yang jelas, kalimatun wasathan belum berlabuh dan menyandarkan diri di suatu tempat. Pekerjaan rumah masih belum selesai. Menjadi tugas bersama untuk menuntaskannya.

Menilik kebutuhan di atas, dengan segenap kerendahan hati, penulis mengedepankan pemikiran baru dalam pusaran dinamika terkait. Ini sebuah ikhtiar untuk mencoba ikut menjawab. Tentu saja bukan untuk menyatakan bahwa upaya ini yang paling tuntas.  Setidak-tidaknya turut serta, bila boleh disebut demikian, memperkaya khasanah pemikiran dunia Islam. Bila pemikiran-pemikiran dalam upaya ini bisa diterima, dan dipandang dapat memberikan jawaban atas persoalan yang ada, maka semua ini semata-mata atas petunjuk dan bimbingan Allah. Semua ini ada dan datang dari-Nya.

Yang menjadi pusat perhatian dari upaya ini adalah keinginan untuk membangun semacam jembatan yang menghubungkan (dan merangkum) berbagai pemikiran Teologi yang ada. Sebagaimana dimengerti, berbagai pemikiran yang ada, atau yang pernah ada, bila dikelompok-kelompokkan menurut alur kesegarisan atau dilakukan polarisasi maka akan mengerucut ke dalam dua kutub besar. Yang satu bercorak deterministik, meyakini manusia merdeka berkehendak dan berbuat. Ganjaran akhir berupa syurga dan hukuman akhir dalam neraka adalah adil bila dikenakan pada manusia sebagai rentetan langsung dari kemerdekaan yang dimiliki. Ini karena sifat Allah Yang Maha Adil. Yang lain bercorak fatalistik, meyakini manusia tidak ubahnya laksana bidak-bidak catur dalam cengkeraman sang pecatur atau wayang dalam genggaman sang dalang. Kehendak dan perbuatan manusia diciptakan oleh Allah. Syurga dan neraka juga dipandang sebagai paksaan. Ini tidak lain karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Atas diri manusia.

Kedua kutub tersebut jelas berjarak dan berhadapan secara diametral. Oleh karenanya bila terjembatani akan dapat saling didekatkan. Jembatan yang dibangun di sini tetap menjaga ciri khas masing-masing kutub, bukan untuk saling menghapus atau menghapus yang satu atas nama yang lain. Jembatan yang akan diusung bukanlah jembatan yang didatangkan dari jauh, tetapi dari dekat-dekat saja. Dekat karena sering didengar, acap dilafalkan. Ialah sunnatullah. Dalam rajutan hubungan ini, kutub yang pertama menjadi lengkap bila dipertalikan dengan kutub kedua. Sementara kutub pemikiran kedua menjadi genap bersama kutub pemikiran pertama. Saling menggenapi saling melengkapi.

Adapun istilah sunnatullah berasal dari dua kata, sunnah dan Allah. Menurut makna kamus, kata sunnah memiliki banyak arti yang secara umum saling berdekatan. Kata sunnah dengan makna sirah berarti: jalan, cara, metode. Dengan makna thariqah berarti: tabiat, watak. Dengan makna syari’ah berarti: syari’at, peraturan, hukum. Bisa juga bermakna hadits. Bila dirangkum istilah sunnatullah memiliki pengertian keseluruhan arti di atas yang dengannya untuk mengatur, menggerakkan, mengelola, menertibkan, menjaga, menyeimbangkan seluruh ciptaan Allah dari langit, bumi, dan segenap isinya. Hukum alam yang membuat air mengalir, hukum yang mengelola pergerakan materi-materi angkasa, 3+2=5, manusia dianugerahi rasa takut untuk melindungi dirinya, menangis karena kesedihan, orang dihajar warga masyarakat karena mencuri, manusia dikaruniai agama agar menjadi baik, benar, selamat, dan hal-hal semacam termasuk dalam cakupan sunnatullah. Amat luas cakupannya. Demikian luasnya sehingga tidak ada yang tidak tergenggam oleh sunnatullah. Setiap apa yang disebut ciptaan Allah, maka dilingkup ciptaan atau makhluk itulah sunnatullah bergulir dan bekerja tanpa jeda.

Selanjutnya buku ini diberi judul:

Manusia dalam Keseimbangan Determinisme dan Fatalisme.

Berenang dalam Sunnatullah,

Berenang dalamDualisme Kehendak dan Perbuatan.

Pemberian judul dengan pemilihan kata dan susunan kalimat seperti di atas diharapkan ketika seseorang membacanya untuk kali awal akan segera memperoleh gambaran umum tentang pemikiran yang diusung dalam buku ini. Setelah gambaran yang bersifat umum terajut di dalam isi kepala juga diharapkan terbitnya minat untuk mengikutinya hingga selesai dan tuntas. Walaupun judulnya tidak pendek, telah diupayakan sebaik mungkin untuk jelas, lugas, menghindari makna bersayap di luar kaitan.

Pada halaman-halaman berikutnya dijabarkan dengan sejumlah penjelasan terkait perihal keterhubungan antara kedua kutub pemikiran di atas dalam samudra luas sunnatullah. Digambarkan dengan sebutan samudra karena sunnatullah merupakan realitas umum di lingkup seluruh makhluk Allah. Akan didapat kesimpulan di mana pada galibnya manusia dalam kehendak dan perbuatannya sehari-hari bersifat bebas tetapi pada saat yang sama juga terpaksa. Atau terpaksa tetapi sekaligus bebas. Seterusnya teka-teki yang disodorkan secara terbuka oleh Al-Qur’an yang menyangkut sebagian ayat-ayatnya bersuasana deterministik dan sebagian lainnya bersuasana fatalistik seperti terdengar saling berhadapan secara diametral nanti akan terbukti bahwa hal-hal tersebut tidak seperti tampaknya. Mustahil antar ayat-ayat Al-Qur’an saling bertentangan. Insya Allah.

Realitas sunnatullah, dengan kata lain sunnah Allah, yang tertabur di setiap titik dalam dimensi ruang dan tertebar tanpa jeda dalam dimensi waktu memang bagaikan samudra yang terhampar luas dan dalam. Sunnatullah, sejauh yang penulis ketahui, belum pernah dipakai untuk menjawab persoalan kehendak dan perbuatan manusia dalam hubungannya dengan arus pemikiran terkait. Untuk persoalan-persoalan di luarnya acap dipakai untuk rujukan dan sandaran. Ini suatu tantangan olah pikir tersendiri.

Demikian juga cara melihat kekuasaan mutlak Allah dan mutlak keadilan-Nya tidak perlu lagi melakukan semacam pemisahan-pemisahan. Sebab ada kesan bila seseorang bersikap deterministik seolah kekuasaan Allah atas diri manusia tidak memiliki makna apa-apa. Sebaliknya bila bersikap fatalistik seolah keadilan-Nya berada di luar pagar. Naif jadinya bila seperti ini.

Lebih jauh, tidak penting ihwal pemikiran yang tengah diusung ini akan disebut bercorak pemikiran apa (?) karena yang lebih penting adalah bagaimana dengan kerangka dan rumusan pemikiran yang ada orang bisa paham, mengerti, bahwa di dalam kemerdekaan kehendak dan perbuatan manusia, pada waktu dan tempat yang sama, ada keterpaksaannya atau sebaliknya. Orang bisa bersikap deterministik sekaligus fatalistik, bersikap fatalistik sekaligus deterministik. Allah itu Maha Adil sekaligus Maha Kuasa atas diri manusia dalam seluruh ruang dan waktu.

 

BAGIAN A

KILAS BALIK DUNIA PEMIKIRAN TEOLOGI

 

  1. BEBERAPA HAL TENTANG TEOLOGI

Teologi disebut juga Filsafat Ketuhanan, Ilmu Tauhid dan atau Ilmu Kalam. Dalam wacana umum istilah Teologi acap dipakai. Kata Teologi itu sendiri menurut susunannyaterbentuk dari dua unsur, yaitu teo dan logos. Teo artinya Tuhan dan logos adalah ilmu. Gabungannya berarti ilmu tentang (untuk memahami) Tuhan. Secara istilah kata Teologi memiliki pengertian baru yakni ilmu yang membahas ajaran-ajaran dasar agama. Istilah-istilah di atas memang berbeda namun tetap dalam satu rumpun sasaran pembahasan dengan masing-masing memiliki sisi penonjolan sendiri-sendiri yang khas. Sementara dalam tulisan ini dipakai istilah Teologi untuk maksud yang sama dengan pengertian dari Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam.

Secara kesejarahan (sepeninggal Nabi Muhammad) mungkin terasa aneh bila dikatakan bahwa dalam Islam, sebagai agama, persoalan yang pertama-tama timbul adalah bidang politik dan bukan dalam bidang Teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan Teologi.[5] Bisa dicari pembenarannya memang. Bahwa Muhammad bin Abdullah sebagai Nabi dan Rasul jelas tidak tergantikan, namun sebagai pimpinan umat dan negara menjadi berbeda persoalannya. Kiranya persoalan kepemimpinan setelah Rasulullah dipandang sebagai kebutuhan mendesak.

Permasalahan Teologi menjadi lebih mengemuka di pelataran sejarah semenjak peristiwa tahkim antara Ali bin Abu Thalib sebagai Khalifah IV dan Muawiyah sebagai Gubernur Damaskus. Pihak-pihak yang terlibat dalam tahkim oleh kalangan Khawarij (pendukung khalifah yang memisahkan diri karena tidak puas dengan kebijakan tahkim) dihukumi berdosa besar. Namun siapa nyana persoalan dosa besar inilah yang mempunyai pengaruh besar dan berentetan dalam perkembangan dan pertumbuhan Teologi selanjutnya.[6]

Pada giliran berikut, arus pemikiran bergulir ke arah persoalan perbuatan manusia dalam hubungannya dengan keadilan dan kekuasaan mutlak Allah. Allah adalah Pencipta alam semesta, termasuk di dalamnya manusia. Selanjutnya Allah Maha Kuasa dan mempunyai kehendak mutlak. Di sinilah timbul pertanyaan, sampai dimanakah manusia sebagai makhluk ciptaan bergantung kepada kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya dalam menentukan perjalanan hidup dari lahir hingga mati?. Diberi Tuhan-kah manusia kemerdekaan dalam mengatur hidupnya?. Ataukah manusia terikat seluruhnya pada kehendak dan kekuasaan mutlak Tuhan?.[7] Seputar inilah pada dasarnya yang menjadi pusaran pemikiran persoalan-persoalan dimaksud.

Penting untuk ditekankan bahwa persoalan kehendak dan perbuatan manusia bukanlah satu-satunya sasaran kajian Teologi. Sebaliknya bukan Teologi saja yang membahas perilaku manusia. Ada aliran-aliran filsafat lain yang juga membahasnya. Tentu dengan perspektif yang berbeda.

Alam semesta dengan semesta isinya, baik berukuran raksasa maupun renik, termasuk dunia flora dan fauna, melakukan tindakan berbuat. Demikian juga manusia. Manusia itu bagian dari alam semesta.Tetapi karena manusia merasa sebagai dunia tersendiri, dunia yang lain, manusia selalu melihat kehendak dan perbuatannya dengan cara berbeda. Walaupun semuanya sama-sama melakukan tindakan berbuat. Tanpa menyisakan perkecualian.

Segenap alam semesta memang melakukan tindakan berbuat, tidak peduli bernyawa atau tidak. Adanya hamburan hukum alam, baik hukum materi bergerak, hukum perubahan zat materi, hukum yang terkait dengan materi-materi angkasa, hukum yang terkait dengan makhluk-makhluk biologis dan masih banyak lagi yang lain dapat dipandang sebagai jejak kaki gerak dan perbuatan alam. Jika wujud materi alam semesta beserta segenap muatannya adalah ‘perangkat keras’ maka keseluruhan hukum, aturan, syari’ah atau yang semacam yang bekerja dan berlaku di lingkupnya adalah ‘perangkat lunak’. Air, sebagai contoh, adalah perangkat keras. Semua hukum alam yang terkait dengan air adalah perangkat lunaknya. Perangkat lunak inilah yang dalam terminologi keagamaan disebut sunnatullah.

Berbeda dengan manusia, perilaku alam semesta bersifat tidak ada pilihan. Fatalistik. Perilakunya adalah apa yang tertulis dalam hukum-hukum alam atau Sunnatullah yang bekerja di dalam diri alam semesta dan lingkupnya. Untuk merubah tingkah lakunya dari kebiasaan semula harus dimulai dengan merubah atau menata ulang sunnatullah yang bekerja di dalamnya. Tidak bisa tidak. Hanya Allah yang bisa menata ulang. Nyatanya penataulangan perangkat lunak alam semesta tidak pernah dikenal. Artinya begitu ditetapkan maka sunnatullah berlaku seterusnya. Sepanjang dimensi ruang dan dimensi waktu masih ada.

Pemikiran Barat menekankan pentingnya martabat manusia. Seorang pakar kejiwaan mengatakan: “Pemakaian konsep seperti kebebasan perorangan, inisiatif dan pertanggungjawaban harus diperkuat. Tetapi jika kita menengok apa yang disajikan sains, kita tidak mendapatkan hal-hal yang melegakan hati kita yang menguatkan pandangan Barat yang tradisional. Hipotesa bahwa manusia itu tidak bebas adalah esensial bagi pemakaian metode ilmiah untuk mempelajari tingkah laku manusia. Pikiran manusia yang bebas yang dianggap bertanggung jawab untuk tingkah laku luar dari organisme biologis hanya merupakan ganti pra-ilmiah bagi sebab-sebab yang ditentukan selama analisis ilmiah. Semua alternatif ini berada di luar seseorang”.[8]

Di sinilah tampak suatu paradoks dalam hubungan pribadi kita menganggap adanya kebebasan, padahal dalam sains kita menganggap bahwa kepastian dan determinisme [9] adalah hukum yang berlaku. Pada waktu sekarang pengingkaran kebebasan tampak sebagai akibat kaidah determinisme yang sudah diterima sains alam.[10]

Sangat mengesankan, alam semesta di mana manusia sehari-hari bergumul di dalamnya memiliki watak dasar yang predestinatik atau fatalistik. Ini sejajar dengan pandangan filosof-filosof lain yang menolak determinisme (dalam Harold dkk., berarti: perilaku terpaksa) atas dasar mereka menginginkan dunia yang terbuka dan bukannya dunia yang tertutup. Mereka menginginkan hal-hal baru, spontanitas dan kreatifitas yang sungguh-sungguh. Determinisme tidak memungkinkan semua itu.[11] Ini adalah isyarat tersendiri dari sudut lain di mana kemerdekaan tingkah laku manusia adalah kebutuhan.Tidak bisa dinafikan.

In-determinisme (untuk makna deterministik dalam tulisan di sini, pen.) adalah pandangan bahwa bagian-bagian alam mempunyai kemampuan ‘bermain bebas’. Tidak semua benda terikat dengan hubungan sebab-akibat. Terdapat pluralisme yang sungguh-sungguh dalam watak benda. Terdapat kemungkinan-kemungkinan dalam masa yang akan datang. Kemungkinan itu lebih banyak daripada keadaan sekarang dalam beberapa segi.[12]

Rasa kesadaran yang langsung tentang kebebasan, rasa tanggung jawab pribadi, pertimbangan akhlaq terhadap tindakan dan budi pekerti manusia, juga adanya pemikiran adalah bukti bahwa bagian-bagian alam dapat bermain bebas. Pandangan seperti ini akan lebih mudah dipahami manakala berada dalam spektrum kebebasan.

Dari pemaparan singkat di atas dapat digarisbawahi bahwa sepanjang menyangkut eksistensi materiil dan korelasinya dengan persoalan terkait maka sifat fatalistik-nya dapat disepakati. Dan tidak sesederhana demikian bila terhadap manusia. Karena untuk manusia bisa berarti deterministik dan atau fatalistik. Tidak mengherankan bila dalam sejarah dunia Islam dikenal berbagai aliran Teologi, antara lain: Aliran Qadariyah, Mu’tazilah, Jabariyah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Khawarij maupun Murji’ah.

Pemikiran-pemikiran dalam ranah Teologi memang beragam, seperti yang baru saja disebut. Di dalam ruang publik, dari antara semua yang ada, ada yang masyhur ada yang kurang masyhur. Ketika wacana kemerdekaan kehendak dan perbuatan manusia dibuka dalam ruang yang sama, serta merta yang muncul dalam pikiran banyak orang adalah Aliran Mu’tazilah. Memang pandangan yang diusung oleh Washil bin Atha’ al-Ghazali ini bersifat deterministik. Dan dijadikan ikon bagi determinisme.

Sebaliknya, ketika wacana keterpaksaan kehendak dan perbuatan manusia dibuka di ruang publik, serta merta yang terbit dalam pikiran banyak orang adalah Aliran Jabariyah. Gagasan yang digelindingkan oleh al-Ja’du bin Dirham dan kawannya ini bersifat fatalistik. Dan muncul sebagai ikon bagi fatalisme.

 

III. ORIENTASI TEOLOGIS dalam PERILAKU HIDUP SEHARI-HARI

Disadari atau tidak, orang mengekspresikan diri terhadap suatu pandangan hidup tertentu dalam dan untuk hidupnya. Diakui atau tidak, kadang orang menjalani sejumlah pandangan hidup sekaligus. Secara terminologis pandangan semacam ini dikenal sebagai filfasat hidup. Dalam pengertian yang disederhanakan, filosofi hidup memberi arah (acap ditegaskan sebagai pedoman) tentang bagaimana hidup itu harus dijalani. Memang banyak orang yang tidak peduli akan hal ini dan membiarkan hidupnya mengalir bersama sekeliling. Padahal dalam peristiwa mengalir itu sendiri tidak lepas dari sesuatu nilai. Bila kumpulan orang banyak disebut masyarakat, atau lebih banyak lagi disebut bangsa, kebutuhan akan filosofi hidup yang dikemas dalam rumusan yang disepakati bersama bahkan menjadi kebutuhan nyata.

Lalu mungkinkah hidup tanpa filosofi hidup?. Tidak mungkin. Sebab, bila ada orang yang mengklaim bisa hidup tanpa filosofi hidup, itu malah sulit dipahami. Sebab pada dasarnya filosofi hidupnya adalah hidup tanpa filosofi hidup itu sendiri. Ini sepadan dengan pernyataan berikut: dalam sebuah rapat betul si Kirana menyatakan tidak berpendapat. Padahal pada dasarnya si Kirana itu nyata berpendapat. Bahwa pendapatnya adalah dia tidak berpendapat.

Cara manusia memahami kehendak dan perbuatannya, dalam pertautannya dengan beragam hal terkait, juga berangkat dari sesuatu pandangan filosofi tertentu.  Baik manusia melihatnya dari sisi determinisme atau fatalisme, keduanya sama saja dalam satu hal yaitu sama-sama dibingkai dari tinjauan filsafati. Apa yang ingin dikatakan di sini pada galibnya adalah menyangkut Teologi. Menjadi tidak berlebihan bila dikatakan bahwa pemahaman dan penghayatan manusia atas kehendak dan perbuatannya yang dipertalikan dengan sifat kekuasaan dan keadilan Allah akan menorehkan goresan pengaruh yang tidak kecil dari waktu ke waktu. Akan menorehkan tentang bagaimana hidup harus dijalani. Mengambil sikap deterministik maupun fatalistik, atau kombinasi dari keduanya, pada dasarnya merupakan filosofi tentang kehendak dan perbuatan manusia dalam pelataran kekuasaan dan keadilan-Nya.

Sesungguhnya sifat-sifat Allah amat banyak. Yang terbingkai dalam al-asma’u al-husna ada 99. Allah memiliki sifat lebih dari satu itu harus.Tidak mungkin Allah itu bersifat Maha Pencipta tetapi tidak bersifat Maha Mengetahui. Tidak mungkin bersifat Maha Melihat tetapi tidak bersifat Maha Mendengar. Semua sifat yang wajib ada itu dimiliki Allah.

Pada dasarnya setiap sifat-Nya dapat dijadikan pandangan hidup oleh manusia. Setiap sifat-Nya memiliki nilai. Setiap sifat Allah menjadi tarbiyah hidup. Meniti dalam pijakan garis-garis tarbiyah ini berarti keselamatan dan kebahagiaan hidup. Hal demikian bukan perkara muluk karena sifat-sifat Allah sejatinya dapat memberikan nilai-nilai pendidikan bermutu pada manusia, baik perorangan maupun kelompok. Di antara yang banyak ini, sifat Maha Kuasa dan Maha Adil Allah yang senantiasa dipertalikan dengan kehendak dan perbuatan manusia. Setidaknya pertalian dimaksud yang lebih mudah dilihat.

Rasanya bukan suatu kebetulan bila sifat-sifat Allah, yang juga acap disebut sebagai asma-asma-Nya yang bagus, dapat memberikan dampak tarbiyah bagi hidup umat manusia. Memberikan apresiasipositif terhadap sifat keadilan Allah mengarahkan manusia untuk bersikap deterministik. Ini pendidikan yang bagus agar manusia senantiasa memperkuat pandangan tentang ikhtiar / usaha, perasaan tanggung jawab, penuh tenaga, hidup berpengharapan, dan semacamnya. Biasnya dalam pengejawantahan hidup sehari-hari tidak kecil. Sebaliknya apresiasi positif terhadap sifat kemahakuasaan Allah mengarahkan manusia untuk bersikap fatalistik. Ini juga tarbiyah yang bagus agar manusia senantiasa memperkuat sikap tawadlu, tawakkal, penyandaran diri pada Allah, rendah hati, menjauhi sifat angkuh / sombong / maupun tinggi hati, dan seterusnya. Lebih dari itu, manakala kuatnya apresiasi akan kekuasaan dan keadilan-Nya senantiasa membingkai setiap perilaku manusia akan menjadikan manusia mengambil seluruh kebaikan determinisme yang dikombinasikan dengan seluruh kebaikan fatalisme. Sebuah kombinasi yang sangat bagus.

Hidup harus digagas untuk perbaikan dan kemajuan dari hari ke hari. Nabi Muhammad dalam salah satu kesempatan menekankan pentingnya hal demikian. Bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini. Untuk tujuan ini, memperkuat gagasan tentang hidup yang bertanggung jawab adalah perlu dan penting. Bila hidup dipahami dari aspek deterministik-nya memang persoalan tanggung jawab menjadi salah satu perkara yang esensial. Hidup memang harus dipertanggungjawabkan, baik tanggung jawab duniawi maupun akhirati. Bila tidak demikian sulit diharapkan terbitnya kendali hidup. Di sinilah pemikiran-pemikiran determinisme menemukan ruang untuk berkeberadaan dan membangun ruang itu menjadi lebih bernilai.

Bagaikan roda berputar, hidup tidak selamanya di atas. Hidup senantiasa dipergulirkan bagi setiap insan. Sayangnya ketika manusia berada di titik bawah acap dijumpai terbitnya sikap tidak siap dalam menghadapi kenyataan yang ada. Banyak sekali cara yang ditempuh dalam pengejawantahan sikap tidak siapnya. Dan cara yang ditempuh justru lebih banyak mengingkari pentingnya peningkatan derajat kemanusiaan. Di sinilah pemikiran-pemikiran fatalisme dapat diharapkan menjadi obat penawar bukan saja ketika hidup bergulir di titik bawah tetapi secara umum untuk semua perguliran hidup. Ini karena potensi kecenderungan penyandaran kepada Allah untuk semua pahit dan manisnya hidup sangat kuat. Dengan demikian hidup akan tetap tenteram walau sedang pahit. Sementara itu, sikap deterministik juga tetap diperlukan ketika hidup berada di titik bawah karena kebaikan-kebaikan determinisme tetap diperlukan untuk semua keadaan hidup.

Hidup memang bergulir dan dipergulirkan. Di titik mana saja dari sebuah roda hidup, orientasi sikap deterministik dan fatalistik selalu selaras ditempatkan. Kedua corak sikap hidup tersebut memang tampak seperti tidak bisa dipertemukan. Penempatan keduanya secara bersama-sama dalam hidup akan menghasilkan keseimbangan. Kendali hidup juga akan terbit secara setimbang. Kultur dunia Barat secara global bisa dinisbahkan sebagai kultur yang deterministik, sementara dunia Timur fatalistik. Kebaikan determinisme kultur Barat dikombinasikan dengan kebaikan fatalisme kultur Timur akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Sikap hidup yang dibangun di atas pelataran pemikiran-pemikiran determinisme adalah nyata sumbangannya bagi kebaikan-kebaikan hidup manusia. Sebaliknya yang dibangun di atas pelataran pemikiran-pemikiran fatalisme juga nyata sumbangannya bagi kebaikan-kebaikan hidup manusia. Keduanya memang diperlukan bersama-sama. Mengambil hanya salah satu di antaranya akan membawa kesulitan-kesulitan yang tidak mudah menjawabnya.

Di sisi yang berbeda, mengekspresikan hidup semata berorientasi pada sikap deterministik an-sich akan segera dihadapkan pada pertanyaan penting, bagaimana menempatkan sifat Maha Kuasa Allah pada diri manusia, pada kehendak dan perbuatan manusia?.  Sebaliknya, mengekspresikan hidup semata berorientasi pada sikap fatalistik saja juga akan segera dihadapkan pada pertanyaan penting, bagaimana menempatkan sifat Maha Adil Allah dalam diri manusia, pada kehendak dan perbuatan manusia?.

Penggalian titik temu yang wasathan, dalam perimbangan orientasi sikap hidup yang mizan, sebisa mungkin mengambil manfaat dari keseluruhan pemahaman yang kaffah, dapat dipandang sebagai sesuatu yang pada galibnya penting dan perlu. Untuk berangkat ke sana, dalam payung umum shirat-Nya yang sudah pasti mustaqim tidak mungkin ditempuh tanpa memulai sesuatu. Bila determinisme dan fatalisme bisa dirumuskan kombinasinya, hingga bahkan dalam dataran epistemologi, akan menjadi kekuatan baru yang penuh tenaga. Manusia bertanggung jawab atas seluruh kehendak dan perbuatannya itu sangat adil. Manusia berintegrasi dengan kesadaran bahwa kekuasaan Allah hadir dalam setiap kehendak dan perbuatan manusia itu nyata.

 

  1. DINAMIKA PEMIKIRAN TEOLOGI dalam SEJARAH DUNIA Islam, SEBUAH URAIAN SINGKAT.

Dunia Islam kaya dengan sejarah pemikiran, termasuk di dalamnya Teologi dan aliran-alirannya. Antara aliran yang satu dengan aliran yang lain-pun terdapat kaitan dekat dan bersifat langsung. Utamanya kaitan sebab akibat. Yang satu menjadi sebab munculnya yang lain. Yang satu menjadi ilham bagi dipikirkannya yang lain. Tidak ada yang berdiri sendiri karena memang tidak ada yang muncul di sebuah ruang hampa. Dan secara kesejarahan, aliran-aliran Teologi lahir tidak terlepas dari pelataran sejarah perkembangan dan pertumbuhan umat pada masa-masa awal.

Percik awal persoalan-persoalan Teologi berangkat dari ranah politik. Pergeseran dari pergumulan di pusaran politik menuju perbincangan Teologi lebih dipercepat ketika masyarakat muslim merespons atas terbunuhnya sejumlah tokoh. Terbunuhnya Utsman bin Affan sudah barang tentu menjadi debut mula perdebatan. Respons beragam. Yang satu mengatakan bahwa semua itu sudah taqdir. Bahwa pelakunya sudah ditakdirkan untuk menyudahi riwayat sang tokoh. Yang lain, lebih-lebih yang menuntut bela kematian, menolak dalih tersebut dan melempar alasan pembelaan sebaliknya. Mengatasnamakan taqdir untuk mencari pembenaran dan pengesahan atas peristiwa tersebut tidak bisa diterima. Lalu, masing-masing saling berupaya mementahkan argumentasi lawan pikir. Pada gilirannya, persoalan dosa, nasib, perbuatan manusia, juga sifat-sifat Allah tersedot ke dalam kancah perdebatan yang ada. Pemakaian sumber-sumber rujukan nash untuk mencari legitimasi menjadi tidak terhindarkan. Dari sini pulalah pandangan determinisme dan fatalisme saling dihadapkan dan mengemuka di pelataran sejarah.

Pada perkembangan selanjutnya, persoalan-persoalan Teologi terlepas sama sekali dari genggaman anasir politik. Bermacam-macam madzhab muncul dan menyatakan keberadaannya. Sasaran perbincangan juga meluas. Terbitnya beragam aliran Teologi juga tidak terlepas dari adanya berbagai pola pemikiran masyarakat muslim yang sudah ada dalam masa awal pertumbuhannya. Secara garis besar ada tiga pola pokok yang berkembang: pola pemikiran skolastik (mengikatkan diri pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah), pola pemikiran rasional (mengutamakan akal pikiran), dan pola pemikiran batiniah / intuitif (berangkat dari gaya hidup sufistik).

Di samping itu, masyarakat Islam pada saat yang sama dihadapkan pada tiga persoalan pokok yang menjadi kepala bagi badan dan buntut yang panjang untuk masa-masa selanjutnya. Ketiganya meliputi: masalah pengangkatan khalifah / imam, masalah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan dan di segi lain timbul debat tentang tafsir qadla / qadar, nasib / perbuatan manusia, dosa besar dan penyelesaiannya serta sifat-sifat Allah.[13]

Perbincangan tentang qadar dan qadla ini sangat luas, sampai-sampai pembahasan tentang nasib dan perbuatan manusia senantiasa dilekatkan dalam konteks qadar dan qadla.[14] Adapun qadar adalah ketentuan dan ukuran yang telah ditetapkan Allah bagi segala makhluknya (QS. 23: 18; 25: 2; 36: 38; 54: 49). Sementara qadla adalah keputusan Allah terhadap segala sesuatu dengan ketentuan / qadar-Nya (QS. 17: 4; 41: 12). Jelasnya: ukuran, takaran, nilai dan semacamnya (qadar) belum akan melekat dalam diri suatu ciptaan sebelum ada keputusan (untuk menyederhanakan: semacam SK) untuk mewujudkan ciptaan dimaksud sesuai dengan ukuran, takaran dan nilai tadi. Keputusan untuk melahirkan ciptaan sesuai qadar-nya disebut qadla. Deskripsi tentang qadla dan qadar dapat disederhanakan dengan contoh berikut. Air sudah lama jauh-jauh waktu ditakdirkan (qadar) menguap pada kadar temperatur 100 derajat celcius. Tetapi air di sesuatu wadah tersebut (atau air manapun) belum akan menguap bila belum diputuskan (qadla) untuk direbus di suatu tempat dan waktu yang diinginkan (atau dimanapun dan kapanpun) oleh si perebusnya. Diputuskan atau tidak diputuskan untuk diuapkan maka taqdir penguapan air tidak berubah. Ini sunnatullah. Tetap seperti itu sepanjang dimensi ruang dan waktu.

Persoalan taqdir / qadar dan qadla sesungguhnya juga mempunyai kaitan dengan kepastian aturan yang menguasai alam semesta ini. Jadi salah satu makna beriman kepada qadar dan qadla ialah beriman kepada adanya hukum-hukum kepastian (sunnatullah). Sebagai ketetapan dan keputusan Allah yang tidak bisa dilawan dan manusia tidak bisa tidak harus memperhitungkan dan tunduk kepada hukum-hukum itu dalam amal perbuatannya.[15]

Sementara itu, segi-segi penting yang menyedot perhatian dalam Teologi adalah perbincangan dan perdebatan tentang kehendak dan perbuatan manusia dalam pertaliannya dengan sifat Maha Adil dan Maha Kuasa Allah. Karena sifat persoalannya, arus pemikiran ini bergulir dalam sejarah yang panjang.

Adapun aliran-aliran pemikiran Teologi yang dikenal dalam dunia Islam meliputi:

  1. QADARIYAH

Aliran Qadariyah lahir di negeri yang sekarang disebut Iraq, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan tahun 70 H / 689 M. Pelopornya adalah Ma’bad al-Jauhany al-Bishri dan Ghailan ad-Dimasqy.[16] Dalam sumber lain, Al-Ja’du bin Dirham juga disebut-sebut sebagai tokoh penting Qadariyah karena peran yang dimainkanya.[17]

Ma’bad Al-Jauhany lahir di Bashrah, kemudian pindah ke Madinah dan meninggal dunia tahun 80 H / 699M. Dia tumbuh dan besar di tengah-tengah masyarakat yang cenderung deterministik dalam memandang kehendak dan perbuatan manusia. Secara khusus ia menyerap pemikiran-pemikiran tersebut dari seorang Nasrani bernama Abu Yunus Sansayh al-Aswani dan merumuskannya menjadi paham Qadariyah.[18] Sementara Ghailan al-Dimasqy mengambil ajaran tersebut dari Ma’bad al-Jauhany dan giat menyiarkannya sehingga diancam hukuman mati oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang memerintah tahun 99-101 H, kalau tidak meninggalkan pahamnya yang dirasakan kontroversial itu.[19] Pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, memerintah tahun 724-743 M, Ghailan al-Dimasqy menjalani hukuman mati dengan terlebih dahulu diadakan perdebatan antara Ghailan melawan al-Awza’iy dan dihadiri langsung oleh khalifah sendiri.[20]

Secara kebahasaan, nama Qadariyah diambil dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuasaan untuk melaksanakan kehendak dan perbuatannya. Bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar atau kadar Tuhan.[21]

Garis besar pandangan Qadariyah adalah determinsme. Bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam kehendak dan dalam menentukan perbuatan-perbuatannya. Manusia secara merdeka berbuat apa yang dikehendakinya. Dalam perbuatan-perbuatannya manusia tidak terikat pada kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan.[22]

Muhammad Rifa’i menambahkan apa yang menjadi dasar pemikiran Qadariyah, yaitu: adanya ketentuan pahala bagi yang berbuat baik dan dosa bagi mereka yang berbuat tidak baik dan hal ini terlaksana bila perbuatan manusia dilaksanakan penuh tanggung jawab atas segala perbuatannya.[23] Manusia juga mempunyai kekuasaan atau daya pada tindakan-tindakannya.[24]

Dalam hubungannya dengan taqdir (qadar), kaum Qadariyah berpendapat bahwa Allah memang telah menentukan ukuran baik dan buruk dan itu adalah qadar atau taqdir Allah. Oleh karena itu siapa yang berbuat sesuai dengan ukuran / norma baik, adalah baik. Dan siapa yang berbuat sesuai ukuran / norma buruk adalah buruk. Makna qadar baik dan buruk itu dari Allah maksudnya adalah Allah jugalah yang menentukan apa yang baik dan yang buruk, tetapi yang melakukan adalah manusia. Manusia telah diberi petunjuk tentang ukuran-ukuran itu dari Allah melalui Rasul-Nya. Dengan akalnya manusia bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Manusia menciptakan kemauan sendiri untuk berbuat baik dan sebaliknya. Jadi manusialah yang menciptakan perbuatannya dengan kemampuan dan tenaganya. Manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan kebebasan dalam perbuatan.[25]

  1. MU’TAZILAH

Aliran Mu’tazilah lahir dan dipelopori oleh Abu Khudzaifah Washil bin Atha’ al-Ghazali. Ia lahir di Madinah untuk kemudian pindah ke Bashrah dan berguru pada Hasan Bashri (seorang tokoh Sunni) dan Amru bin Ubayd. Washil bin Atha’ meninggal pada tahun 131H / 748 M.[26]

Dengan diterjemahkannya buku-buku fisafat dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab, kaum Mu’tazilah terpengaruh oleh pemakaian rasio atau akal yang mempunyai kedudukan tinggi dalam kebudayaan Yunani klasik. Corak rasional dan liberal Teologi kaum Mu’tazilah begitu menarik bagi kaum intelegensia yang terdapat di lingkungan pemerintahan kerajaan Islam Abbasiyah di permulaan abad IX M, sehingga Khalifah Al-Makmun (813-833 M), putra Khalifah Harun al-Rasyid (766-809 M), pada tahun 827 M menjadikan Teologi Mu’tazilah sebagai madzhab yang resmi dianut Negara.[27] Tidak berlebihan bila kaum Mu’tazilah dikenal sebagai kaum rasionalis Islam. Meskipun demikian tantangan keras dari golongan lain tidak kurang, misalnya dari Ibnu Hambal, Abu Hasan al-Asy’ari maupun Abu Manshur al-Maturidy.

Inti ajaran Mu’tazilah mengenai perbuatan manusia bahwa Allah yang membuat dan mewujudkan alat-alatnya, sedang manusia yang mewujudkan perbuatan atau pekerjaan dengan menggunakan alat-alat yang telah diterima dari Allah tadi. Terhadap perbuatan manusia, Allah hanya terbatas mengetahuinya saja, tidak disertai dengan kekuasaan yang merencanakan dan menentukan. Manusia mempunyai kesanggupan atau qudrah untuk berbuat sendiri dengan tidak ada campur tangan Allah.[28] Oleh karena itu mereka diberi siksa dan pahala. Dengan jalan begini maka kita telah mensifati Allah dengan sifat-sifat keadilan dan Allah tentu tidak menyukai perbuatan kebinasaan dan kezaliman.[29]

Pada dasarnya Mu’tazilah memandang manusia sebagai memiliki kemerdekaan berbuat. Pandangannya tentang perbuatan manusia bukan ciptaan Allah didasarkan pada ajaran keadilan,ajaran kedua dari lima ajaran pokok Mu’tazilah.[30] Washil bin Atha’ menegaskan bahwa Allah itu Bijak dan Adil. Allah memberi balasan kepada manusia karena mereka pelaku (fa’il) kebaikan atau kejelekan, keimanan atau kekafiran, ketaatan atau kedurhakaan yang mereka lakukan. Tuhan adalah yang memberi kemampuan untuk semua itu. Sangat tidak laik diperintahkan kepada seorang hamba: “Berbuatlah!” sedangkan dia tidak mungkin berbuat atau tidak merasakan ada kemampuan pada dirinya. Mengingkari yang demikian berarti mengingkari kepastian (ankaru adl-dlarurata).[31] Dengan demikian para penganutnya meniadakan (nafaw) bahwa segala sesuatunya terjadi sesuai dengan apa yang ditetapkan (qadar dan qadla) Yang Maha Kuasa.[32]

Meskipun manusia dipahami memiliki kemerdekaan berbuat, akan tetapi paham Qadariyah dan Mu’tazilah sama-sama melihat bahwa kemerdekaan tersebut bukan tidak terbatas. Allah memberi kemerdekaan kepada manusia untuk menempuh jalan hidupnya, tetapi dibalik itu, Allah menghimbau agar kebaikan dilakukan dan kejelakan dihindarkan. Orang yang berakal sehat sudah pasti memilih untuk berbuat baik. Dengan begitu kemerdekaan manusia sangat terpengaruh oleh faktor rasional, moral, dan himbauan-Nya. Jadi ada semacam kontrol moral-etika atau kontrol Teologi.[33]

Sebagaimana aliran Qadariyah, garis besar pandangan aliran Mu’tazilah adalah determinisme. Antara kedua aliran itu sendiri ada banyak persamaan karenanya kaum Mu’tazilah acap disebut juga kaum Qadariyah.

  1. JABARIYAH

Aliran Jabariyah dipelopori oleh al-Ja’du bin Dirham dan Jaham ibnu Shafwan.[34] Jaham ibnu Shafwan adalah warga Khurasan (Republik Islam Iran sekarang).  Ia mengabdikan diri sebagai wazir (menteri al-Harits bin Suraij. Keduanya memberontak kepada penguasa Dinasti Umawi sehingga keduanya dibunuh tahun 128 H oleh Khalid  bin Abdullah al-Qusyairi (akhir masa Bani Marwan)).[35] Hubungan antara keduanya adalah Jaham ibnu Shafwan murid al-Ja’du bin Dirham.

Nama Jabariyah secara linguistik berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Bahwa manusia mengerjakan perbuatan-perbuatannya dalam keadaan terpaksa.[36] Saripati pemikiran Jabariyah mengenai perbuatan manusia bahwa Allah-lah yang menentukan atau mentakdirkan segala sesuatu yang terjadi di alam ini. Manusia adalah bagian dari alam. Ia tidak dapat mencampuri atau menolak maupun mengingkari segala kejadian dan peristiwa atas dirinya. Semua pekerjaan dan perbuatan atau nasib manusia telah ditakdirkan Allah, manusia tinggal menjalaninya saja. Manusia memang mempunyai kemauan tetapi kemauannya berpangkal dari kemauan Allah. Allah menguasai kemauan dan perbuatan manusia. Semua perbuatan manusia, termasuk nasibnya, telah ditentukan Allah sejak semula (semenjak azali).[37]

Manusia dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan sesuatupun. Allah sajalah yang menentukan segala sesuatu kepada manusia. Jadi Allah yang memperbuat pekerjaan, sebagaimana Allah memperbuat batu, kayu, menggerakkan angin, mengalirkan air dan sebagainya. Semua perbuatan manusia termasuk nasibnya, ditentukan Tuhan sejak semula (semenjak azali).[38]

Lebih jauh, manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat sesuatu. Ia tidak mempunyai daya, kekuasaan, kemauan dan pikiran. Manusia berbuat secara terpaksa. Allah Pencipta tindakannya. Seperti halnya perbuatan pahala dan siksaan adalah paksaan, maka kewajiban juga paksaan (jabr). Manusia tidak ubahnya bulu burung yang ditiup angin. Bulu tidak bergerak atau diam ditentukan oleh ada atau tidak adanya angin.[39]

Berbeda dengan yang sebelumnya, garis besar pandangan  aliran Jabariyah adalah Fatalisme.

  1. ASY’ARIYAH

Aliran Asy’ariyah ditokohi oleh Abu Hasan al-Asy’ari yang sekaligus sebagai pendirinya. Pada awalnya al-Asy’ari adalah tokoh yang loyal pada Teologi Mu’tazilah selama bertahun-tahun. Ada yang menyebutnya selama 40 tahun al-Asy’ari dalam Mu’tazilah. Akan tetapi Abu Hasan al-Asy’ari akhirnya mengubah pendapat-pendapat teologinya dan menyatakan keluar dari aliran yang dipimpin oleh Washil bin Atha’ tadi.[40]

Nama lengkap Al-Asy’ari adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Abi Burdah bin Abu Hasan al-Asy’ari, lahir di Bashrah tahun 260 H / 873 M dan meninggal di Baghdad tahun 325 H / 935 M. Al-Asy’ari-lah orang yang pertama kali mengembangkan Ilmu Tauhid yang kemudian disempurnakan oleh Ibnu Hasan al-Maturidy dan murid-muridnya yang lain.[41] Al-Asy’ari sendiri adalah murid Al-Juba’i, tokoh terkemuka Mu’tazilah.

Inti ajaran Asy’ariyah tentang kehendak dan perbuatan manusia, bahwa segala perbuatan, baik dan buruknya, itu atas kehendak Allah. Akan tetapi manusia diwajibkan berikhtiar kepada kebaikan sesuai petunjuk Allah dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Allah menciptakan amalan manusia ketika manusia melakukannya.[42]

Untuk memudahkan pengertian, Asy’ariyah menggunakan konsep kasb (acquisition), di mana ‘azam yang ada dalam jiwa manusia itu dari Allah. Tetapi gambaran‘azam itu dari manusia sendiri. Karena didahului oleh kehendak, maka manusia merasa mampu berbuat. Ini namanya manusia mendapatkan perbuatan (kasb). Kasb-nya manusia diciptakan Allah dalam arti bahwa ketika manusia akan melakukan sesuatu perbuatan, tepat pada saat itu pula Allah mengadakan (menciptakan) kesanggupan pada manusia untuk mewujudkan perbuatannya.[43]

Perbuatan manusia bukan diwujudkan oleh manusia sendiri, melainkan diciptakan Allah. Akan tetapi dalam mewujudkan perbuatannya itu manusia mempunyai bagian, walaupun bagian itu tidak efektif. Bagian yang tidak efektif disebut al-Kasb. Allah berkehendak atas terjadinya segala perbuatan, baik maupun buruk, dari hamba-Nya. Bila seorang hamba mampu untuk berbuat, maka kemampuannya itu tidak bepengaruh apa-apa dalam mewujudkan perbuatannya itu. Allah-lah yang menjalankan dan menciptakan sesuatu ketika timbulnya kemauan pada diri seseorang. Artinya, ketika berbuat sesuatu dan telah dilakukannya maka Allah menciptakan apa yang dikerjakan oleh orang itu. Jadi yang menciptakan perbuatan adalah Allah, yaitu ketika orang tersebut mau dan mampu melakukannya. Perbuatan itu bukan tercipta dengan kemauan dan kemampuan orang itu sendiri. Manusia hanya mempunyai kasb. Kasb adalah berbarengnya kemampuan seseorang dengan perbuatannya. Karena kasb-nya itu pula maka orang bertanggung jawab atas segala akibat perbuatannya dan karena kasb itu pula maka seseorang berhak menerima pahala atas perbuatan baiknya dan menerima siksa atas perbutan buruknya.[44]

Manusia dalam pandangan Asy’ariyah adalah sesuatu yang lemah. Manusia dalam gambaran ini banyak tergantung pada kehendak dan kemauan Allah. Untuk memahami antara perbuatan manusia dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan paham ini memakai konsep kasb. Kasb, secara makna kamus berarti perolehan. Kasb ciptaan Allah, dan yang memperoleh perbuatannya adalah manusia. Tuhan Pencipta semua perkara manusia, Tuhan Pembuat semuanya. Semua perbuatan yang timbul dari manusia dengan perantaraan daya yang diciptakan-Nya meletakkan manusia sebagai tempat bagi perbuatan-perbuatan Tuhan. Dengan demikian tampak bahwa tidak terdapat perbedaan antara perbuatan terpaksa dan kasb manusia. Kedua jenis perbuatan itu, semuanya dibuat oleh Tuhan.[45] Dengan begitu, tampak jelas bahwa manusia di hadapan Asy’ari sangat dekat dengan predestinasi (untuk makna fatalistik, pen.). Mereka tidak mempunyai kekuasaan atas semua perbuatannya karena Allah Pencipta dan Pembuat yang sebenarnya.[46]

Bukan hal yang mengejutkan jika ada yang melihat hubungan menarik antara Jabariyah dan Asy’ariyah. Ada penilaian bahwa aliran Asy’ariyah adalah proses lanjut dan penyempurnaan aliran Jabariyah yang pada dasarnya berangkat dari pola pemikiran tradisionalis yang bersifat skolastik.[47] Faham Jabariyah, sungguhpun tidak identik dengan paham yang dibawa oleh Jaham ibnu Shafwan atau dengan faham yang dibawa oleh Al-Najar dan Dirar, terdapat dalam aliran Asy’ariyah.[48]

Pada dasarnya Al-Asy’ari telah berusaha sungguh-sungguh untuk merumuskan kalimatun wasathan antara determinisme dan fatalisme. Akan tetapi kalimatun wasathan yang diimpikan belum mengedepan secara jelas dan nyata. Justru ada yang menisbahkan kedekatan Asy’ariyah dan Jabariyah. Asy’ariyah cenderung lebih berat ke salah satu kutub dari antara determinisme dan fatalisme. Belum berdiri secara penuh di tengah-tengahnya secara seimbang.

  1. MATURIDIYAH

Aliran Maturidiyah, sesuai namanya, dipelopori oleh Muhammad bin Muhammad bin Abu Manshur al-Maturidy, dari Samarkand. Pandangan Maturidiyah memiliki banyak persamaan dengan pemikiran-pemikiran Asy’ariyah di satu sisi dan mempunyai kedekatan dengan pemikiran-pemikiran Mu’tazilah di sisi lain.

Dalam hubungannya dengan akal, juga pengertian qadar dan qadla, pemikiran-pemikiran Maturidiyah dekat dengan pemikiran-pemikiran Mu’tazilah. Ini agak berbeda dengan aliran Asy’ariyah karena Abu Manshur al-Maturidy tidak membawa paham yang seluruhnya berlawanan dengan pendapat Mu’tazilah.[49]

Maturidiyah memang tidak setradisional Asy’ariyah tetapi juga tidak seliberal Mu’tazilah. Aliran Maturidiyah sendiri terpolarisasi ke dalam kedua kelompok. Pertama, yang condong ke Samarkand bersifat agak liberal dan, yang kedua, yang condong ke Bukhara agak bersifat tradisional.[50]

Inti pandangan aliran Maturidiyah tentang  perbuatan manusia bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu serta menetapkan ukuran-ukurannya (qadar) termasuk ukuran baik dan buruk. Namun manusia dengan segala akalnya dapat memilih perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk atau jahat. Dengan kata lain, manusialah yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya.[51]

Jika pandangan di atas merupakan pandangan Maturidiyah, dengan meletakkan manusia sebagai tempat bagi perbuatan-perbuatan manusia sendiri, kiranya dapat dikatakan bahwa pemikiran yang diusung oleh Abu Manshur al-Maturidy lebih cenderung deterministik. Hal ini penting untuk diendapkan dalam pikiran karena dari sumber lain terdapat rumusan pemikiran yang agak berbeda. Bahwa Allah yang mewujudkan perbuatan-perbuatan dan alat-alat untuk membuktikan perbuatan tadi, sedang manusia yang membuktikan sebab-sebab yang dekat dengan perbuatan itu.[52] Dengan demikian tidak sepenuhnya deterministik.

Dalam ranah pemikiran di atas, aliran Maturidiyah bersama aliran Asy’ariyah sama-sama lahir sebagai respons terhadap aliran Mu’tazilah. Selebihnya Asy’ariyah dan Maturidiyah inilah yang kemudian dikenal sebagai kelompok ahlu al-sunah wa al-jama’ah dan masih berkeberadaan sampai sekarang.

Dari uraian singkat masing-masing aliran di atas, baik tersurat maupun tersirat, bahwa secara umum pengkutuban pemikiran-pemikiran Teologi yang diusung mengarah kepada dua kutub. Yaitu bila tidak bersifat deterministik, ia bersifat fatalistik. Artinya belum terlihat cukup alasan untuk membuat simpulan adanya kalimatun yang benar-benar wasathan antara determinisme dan fatalisme dalam rumusan sederhana, jelas, tuntas, lugas dan mudah dipahami. Padahal hajat kalimatun wasathan sebagai jembatan penghubung sudah terasa sebagai kebutuhan. Bila kalimatun yang wasathan hadir, ia dapat diharapkan menjadi kalimatun sawa’ bagi semua pihak.

Pendapat-pendapat berikut agaknya bisa dipertimbangkan untuk menguatkan simpulan di atas. Ibnu Taimiyah, seperti dikutip Dr. Imaduddin Abdul Rahim, dalam salah satu tulisannya di Ulumul Qur’an, menyatakan bahwa Asy’ariyah itu dakriyah. Aliran ini terjebak memutlakkan waktu (padahal yang mutlak hanya Allah).[53] Harun Nasution dalam salah tulisannya di Harian Pelita, juga dikutip Imaduddin Abdul Rahim,[54] memberikan simpulan cenderung fatalistik untuk aliran Abu Hasan al-Asy’ariy. Dari sumber lain, maksud Asy’ariyah ingin membuat sintesa antara Mu’tazilah dan Jabariyah tetapi malah terperosok dalam aliran Jabariyah (kalau tidak boleh dikatakan sebagai cabang aliran Jabariyah).[55] Meskipun demikian upaya tulus Al-Asy’ariy harus dihargai. Betapapun juga ia sudah berusaha sebaik-baiknya seperti tokoh-tokoh lain.

Dalam Al-Qur’an sendiri penyebutan manusia berbuat atau pelaku sebuah perbuatan tidak diikuti semacam penegasan apakah manusia berbuat atau pelaku sebuah perbuatan yang sebenarnya (haqiqah) atau majaz (?). Hal ini menerbitkan ketidakmudahan untuk memahami makna perbuatan itu sendiri, sehingga terjadi saling adu dalih, meskipun mungkin penyebutan dengan cara seperti tersebut dimaksudkan oleh Allah agar manusia gemar berpikir untuk mampu menyelesaikan persoalan-persoalan pelik. Pada kenyataannya toh manusia menjadi berpikir keras. Namun terlepas dari semua itu, yang jelas Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab (satu-satunya makhluk biologis yang bertanggung jawab) terhadap semua perbuatannya. Semua aliran Teologi mengakui adanya anasir tanggung jawab dimaksud. Perbedaan terletak pada penguraian pelaksakaan perbuatan. Sebagian menyebutnya paksaaan, sehingga tanggung-jawabnya pun bersifat paksaan. Yang lain menyebutnya pilihan bebas sehingga tanggung-jawabnya selaras. Tanggung jawab itu sendiri ada karena manusia dianugerahi kerhormatan untuk menerima taklif sebagai khalifah fi al-ardl. Suatu taklif kehormatan yang langit dan bumi tidak sanggup memikulnya.

Dan apapun hiruk pikuk yang terjadi dalam pelataran pemikiran di lingkup persoalan di muka tetap saja perenungan ulang yang lebih hening dan bening akan banyak membantu. Bahwa manusia tidak bisa digambarkan laksana suatu cara, suatu sistem, suatu mekanisme, suatu struktur biologis yang berjalan atau berperilaku dengan suatu pola yang tidak memiliki pilihan. Tidak juga dapat dibayangkan bahwa kekuasaan Allah, sementara Allah sendiri juga Maha Welas Asih, terselenggara secara sewenang-wenang atas seluruh dinamika para hamba-Nya. Sebaliknya manusia juga tidak mungkin dipahami laksana suatu cara, suatu sistem, suatu mekanisme, suatu struktur biologis yang berjalan atau bertingkah laku tanpa aturan, ukuran, nilai, ketentuan, norma, syari’at, sunnah, hukum, dan semacamnya yang sudah di-qadar-kan Allah sebelumnya. Allah juga mustahil dilukiskan sebagai Dzat yang tidak berdaya, tidak berkuasa atas seluruh ciptaan-Nya baik yang bertakar renik, madya, maupun raksasa termasuk di dalamnya tentang kehendak dan perbuatan manusia. Sementara impian kalimatun wasathan menuju rajutan persamaan pemahaman yang kalimatun sawa’ tetap saja dapat digoreskan sebagai sesuatu yang berpeluang dan mungkin. Atau setidak-tidaknya mendapat tempat untuk dikritisi dan diuji di ruang publik. Selebihnya adalah berserah diri dihadapan-Nya.

 

  1. Rujukan Sumber-sumber Wahyu[56]

Dalam pandangan agama, manusia mengemban dua tugas penting yang bila dilalaikan akan berarti mimpi buruk. Pertama, sebagai abdun atau hamba, tugas manusia adalah beribadah (beribadah dalam pengertian khusus maupun dalam pengertian luas). Apa yang hakiki dari semua bentuk ibadah bukan untuk kepentingan atau keperluan Allah (karena Allah tidak bergantung apapun kepada makhluk manapun)  melainkan untuk kepentingan, keperluan dan kebaikan manusia itu sendiri. Kedua, sebagai khalifah fi al-ardl atau khalifah Allah di muka bumi, tugas manusia adalah memakmurkan dan mensejahterakan bumi. Kedua tugas ini diamanatkan sekaligus kepada umat manusia, baik sebagai kelompok maupun perorangan.

Tugas-tugas tadi tidaklah ringan namun mulia. Oleh karena itu pelaksanaan taklif tersebut untuk ditunaikan dengan sebaik mungkin adalah keharusan demi kemaslahatan manusia sendiri. Untuk ke sana manusia dilengkapi hati dan akal budi.Ini adalah anugerah kehormatan dan kemurahan Allah yang sudah menjadi keniscayaan. Akan tetapi hati dan akal budi saja tidak cukup untuk menjawab seluruh persoalan kehidupan. Puspa ragam kehidupan terlalu majemuk dan pekat untuk dijelajahi hanya dengan kelengkapan-kelengkapan yang sesungguhnya terbatas tersebut. Itulah sebabnya Allah senantiasa membimbing manusia secara terus menerus dalam bentuk yang lebih mewujud dengan diturunkannya sejumlah kitab suci samawi melalui perantaraan sejumlah Rasul. Apa yang sebelumnya gelap dalam lingkaran gulita min adl-dlulumat berubah menjadi terang benderang dalam pusaran ila an-nuur bersama sejumlah kitab samawi tersebut. Jadilah manusia bertabur terang dan kebajikan.

Di dalam Al-Qur’an terdapat ribuan ayat yang berbicara dalam berbagai persoalan, terlebih persoalan penting umat manusia. Susunan ayat-ayatnya istimewa. Sentuhan qalbu dan minat manusia dapat tergugah oleh kandungan ayat demi ayat yang selalu member greget dan dalam. Selalu lebih dari yang sekedar tampak tertulis. Dan di antara beragam persoalan yang diperbincangkan adalah persoalan-persoalan kehendak dan perbuatan manusia. Adalah apa yang kemudian dibahas secara tersendiri dalam Teologi.

Searah dengan pemikiran yang diangkat di sini, memang banyak sekali ayat yang berbicara tentang kehendak dan perbuatan manusia. Sebagian di antaranya menegaskan pandangan determinisme dan sebagian lainnya menegaskan pandangan fatalisme. Bila pemahaman dilakukan secara permukaan, kedua kelompok ayat-ayat Al-Qur’an tersebut akan tampak saling berhadapan secara diametral. Namun tidak demikian bila dilakukan pendalaman yang lebih spesifik dengan kata kunci sunnatullah.

  1. Ayat-ayat Yang Menegaskan pengertian DETERMINISme

Terlebih dahulu penting untuk dimengerti bahwa secara umum pemikiran tentang determinisme kehendak dan perbuatan manusia dilandaskan pada gagasan tentang sifat Allah Yang Maha Adil. Al-Qur’an banyak memaktubkan tuturan nash ihwal keadilan-Nya. Keadilan mutlak yang menyelimuti tiap-tiap sesuatu, di semesta dimensi ruang dan waktu. Di antara yang banyak, berikut adalah pernyataan Allah tentang keadilan-Nya:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Ali Imran (3): 18).

Masih dalam nuansa yang sama, dengan gaya ungkapan berbeda, Al-Qur’an menyodorkan seuntai kalimat yang indah berupa pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban. Tidak menghajatkan jawaban karena jawabannya jelas.

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?” (Q.S. At-Tin (95): 8).

Dalam hubungannya dengan nash-nash yang bertalian dengan penegasan pengertian determinisme, banyak ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit maupun implisit yang menyodorkan serangkaian demi serangkaian susunan kalimat yang di dalam pusaran pemahaman manusia dapat dimengerti atau ditafsirkan sebagai bernuansa deterministik. Ayat-ayat tersebut dapat dicermati dalam alur berikut.

Manusia selalu dihadapkan pada tindakan memilih. Masing-masing pilihan lekat dan kental dengan konsekuensi logisnya sendiri-sendiri. Di hadapan manusia terhampar jalan untuk dipilih dan dijalani, yaitu antara shirath al-mustaqim atau shirath ghairu al-mustaqim. Memilih yang pertama bermuara keselamatan, memilih yang kedua berujung mimpi buruk. Dinding antara yang haq dan yang bathil sudah nyata. Walaupun dalam sejumlah hal dinding antara keduanya amat tipis.

Banyaknya pilihan hanya bisa dimengerti manakala sang pelaku memiliki kemampuan memilih. Kemampuan memilih mensyaratkan adanya kemerdekaan memilih itu sendiri. Penting kiranya adanya anugerah kemampuan seperti itu. Bila tidak, berarti dalam tataran dipilihkan.

Determinisme berkehendak dan berbuat tampak ketika harus memilih antara keimanan (titian haq) atau kekufuran (titian bathil):

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka minta minum niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (QS. Al-Kahfi (18): 29).

Jalan lurus telah dibentangkan di hadapan umat manusia dengan harapan jalan inilah yang diambil. Dalam kenyataannya ada yang mengambil jalan lurus yang mengantarkan kepada kesyukuran dan ada pula yang mengesampingkannya yang mengakibatkan keingkaran iman. Penghadapan pada tindakan memilih tampak di sini.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (QS. Al-Insan (76): 3).

Untuk menggenapi pemahaman, juga dapat dilihat QS. Asy-Syams (91): 8.

Salah satu ciri manusia adalah terhubungnya kehendak dan perbuatannya dengan akibat dari kehendak dan perbuatan tersebut. Dimensi keterhubungan ini berbentuk tanggung jawab. Bertanggung jawab atas seluruh kehendak dan perbuatan hanya bisa dimengerti apabila manusia bukan merupakan tempat bagi perbuatan-perbuatan Allah.Dengankata lain manusia berkehendak dan berbuat secara deterministik.

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan mereka dengan anak cucu mereka dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Al-Thuur (52): 21).

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (QS. Al-Mudatstsir (74): 38).

Untuk meluaskan pemahaman, bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya, dapat dilihat pada QS. Al-Baqarah (2): 134, 141; QS. An-Nisa’ (4): 79; QS. Ar-Rum (30): 44; QS. Saba’ (34): 25; QS. Az-Zumar (39): 41.

Bila setiap manusia bertanggung jawab atas perilakunya sendiri-sendiri, maka bila dibalik tiap manusia tidak bertanggung jawab atas perilaku pihak lain. Ini mendorong terbitnya pertanyaan lain, yang mungkin tidak membutuhkan jawaban: “Apakah manusia juga bertanggung jawab atas perbuatan yang diciptakan Allah atas dirinya?”.

Setiap perbuatan memiliki nilai dan balasan. Perbuatan baik diganjar pahala dan yang tidak baik dihukum dosa (QS. Al-Baqarah (2): 286).

Penggarisbawahan untuk menguatkan hujjah di atas ada di ayat lain. Dalam banyak tabligh ayat ini acap dikedepankan.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra’d  (13): 11).

Tidak bisa dibayangkan bahwa Allah berkenan mendahulukan manusia untuk mengambil sikap dan tindakan bila manusia hanya memiliki sisi keterpaksaan dalam berkehendak dan berbuat atau tidak punya pilihan.

Di samping itu, bila dicermati lebih jauh, salah satu cara Al-Qur’an membangun perilaku manusia adalah dengan memanfaatkan pola-pola kalimat perintah di satu sisi dan pola-pola kalimat larangan di sisi lain. Adanya bentuk-bentuk perintah dan larangan dalam Al-Qur’an dapat merupakan bukti tersendiri bahwa manusia pada dasarnya memiliki aspek deterministik dalam berperilaku. Rasanya akan sulit dimengerti, perintah dan larangan diberikan sementara manusia tidak ubahnya laksana bidak-bidak catur. Perintah dan larangan hanya bisa dipahami bila disodorkan kepada sesuatu atau jama’ah sesuatu yang bisa memberikan respons terhadap perintah dan larangan itu sendiri.

Kedalaman pemahaman merupakan kebutuhan tersendiri. Oleh karena itu perlu ditengok ayat-ayat berikut: QS. Ali Imran (3): 182; QS. Al-Anfal (8): 51; QS. Al-Hajj (22): 10; QS. Fushshilat (41): 46; QS. Qaf (50): 29.

Lebih dari itu, kehendak dan perbuatan manusia tidak akan lahir di alam nyata begitu saja. Ada hal-hal yang mendahului bagi terwujudnya suatu gerak dan tindakan. Tanpa ini perbuatan hanya akan bertengger di alam gagasan. Hal-hal yang mendahului yang sekaligus merupakan prasyarat meliputi: al-Iradah (kehendak), al-Masyi’ah (keputusan / keinginan), al-Qudrah(daya / kekuatan) dan al-Istitha’ah (kemampuan).[57]

Manusia tidak terpaksa dalam perbuatannya. Untuk itu prasyarat-prasyarat tadi adanya juga bukan hasil paksaan. Dengan dimilikinya sejumlah prasyarat ini oleh manusia juga sekaligus membuktikan dan memperkuat pandangan bahwa manusia memang dianugerahi sifat deterministik dalam kehendak dan perbuatannya. Al-Qur’an juga memberikan pembenaran dan pengesahan adanya anasir prasyarat dalam ranah persoalan ini, yaitu:

1) Manusia memiliki al-Iradah

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barangsiapa yang menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” (QS. Ali Imran (3): 145).

Secara keseluruhan lafadz al-Iradah termaktub sebanyak 76 kali pemakaian dalam 68 ayat.

2) Manusia memiliki al-Masyi’ah

Katakanlah: “Aku tidak minta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya” (QS. Al-Furqan (25): 57).

Lafadz al-Masyi’ah tertera sejumlah 27 kali pemakaian dalam 26 ayat.

3) Manusia memiliki al-Qudrah

Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka. Maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Ma’idah (5): 34).

Lafadz al-Qudrah tertoreh dalam 10 ayat.

4) Manusia memiliki al-Istitha’ah

Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” (QS. Ar-Rahman (55): 33).

Lafadz al-Istitha’ah tergores indah dalam bilangan 42 kali pemakaian dalam 41 ayat.

Sumber-sumber samawi di atas menyebut dengan jelas bahwa manusia memiliki atau diizinkan untuk memiliki kehendak, keputusan / keinginan, daya / kekuatan dan kemampuan sebagai prasyarat untuk mewujudkan perbuatan.[58] Prasyarat yang memperoleh penegasan Al-Qur’an tersebut selaras dan sejajar dengan gagasan determinisme.

  1. Ayat-ayat Yang Menegaskan pengertian FATALISme

Adalah juga penting untuk dimengerti bahwa secara umum pemikiran tentang fatalisme kehendak dan perbuatan makhluk insaniyah dilandaskan pada gagasan tentang sifat Allah Yang Maha Kuasa. Al-Qur’an banyak sekali menyuratkan tuturan firmani ihwal kekuasaan-Nya. Kekuasaan mutlak yang menyelimuti tiap-tiap sesuatu, di seluruh dimensi ruang dan waktu. Di antara yang banyak, berikut adalah ayat yang menerangkan hal tersebut:

Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukan-Nya. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Al-Fath (48): 21).

Masih dalam bingkai yang sama, sandaran nash yang tidak kurang menghunjamnya dapat ditengok pada:

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Q.S. Ali Imran (3): 26).

Dalam tautannya dengan nash-nash yang bertalian dengan penegasan pengertian fatalisme, searah dengan fasal sebelumnya, di sisi lain, banyak ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit maupun implisit menyodorkan serangkaian demi serangkaian susunan kalimat yang di dalam pusaran pemahaman manusia dapat dimengerti atau ditafsirkan sebagai bernuansa fatalistik. Ayat-ayat yang dimaksud dapat dicermati dalam alur berikut:

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa-apa yang kamu perbuat itu” (QS. Ash-Shaffat (37): 96).

Dan apa-apa yang kamu perbuat’ pengertiannya adalah Allah menciptakan perbuatan kamu, manusia. Untuk menguatkan bahwa arah pengertian yang dimaksud adalah Allah menciptakan perbuatan manusia dapat dibandingkan dengan ayat berikut:

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. As-Sajdah (32): 17).

Kata-kata yang memilik akar al-‘amal dalam kedua contoh ayat di atas sama-sama memiliki pengertian perbuatan manusia. Jelasnya dalam (QS. As-Sajdah (32): 17), kata al-‘amal menyatakan perbuatan manusia. Oleh karena itu untuk kata yang sama dalam QS. Ash-Shaffat (37): 96 dapat dipandang memiliki pengertian yang tidak berbeda.

Pada tingkat kehendak atau kemauan, manusia tenggelam dalam kehendak Allah. Dengan kata lain kehendak atau kemauan manusia tidak berpengaruh apa-apa untuk sebuah gerak perbuatan.

Dankamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam” (QS. At-Takwir (81): 29).

Untuk muatan ayat yang sama dapat dijumpai pada QS. Al-Insan (76): 30. Intinya kehendak Allah lebih mengungguli.

Kehendak Allah mendahului kehendak para makhluk-Nya secara mutlak. Akhirnya manusia tidak ada pilihan lain melainkan menerima kehendak Allah secara terpaksa. Cetak biru segala kejadian sudah ada sebelumnya sebelum segala sesuatu terjadi, termasuk terhadap manusia. Dapat ditelaah dalam QS. Al-Hadid (57): 22.

Perilaku manusia tidak menggambarkan sesuatu yang merdeka atau sesuatu yang di dalamnya tersedia pilihan-pilihan. Semua tenggelam dalam perbuatan Allah. Kekuasaan-Nya menguasai dan mengatasi segala-galanya.

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfal (8): 17).

Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Pencipta segala sesuatu. Penguasa dan Pemelihara segala sesuatu. Oleh karenanya kehendak dan perbuatan manusia dapat disimpulkan sebagai bagian dari segala sesuatu. Merupakan bagian dari penciptaan-Nya. Untuk ini QS. Al-An’am (6): 102 juga QS. As-Sajdah (32): 7 dapat dijadikan sebagai rujukan pembanding.[59]

Patut direnungkan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang bertutur tentang Allah Pencipta segala sesuatu, berkuasa dan Penentu atas segala sesuatu atau apa-apa yang sepengertian dengan ungkapan itu, tersebar dan tertabur di berbagai surat dan ayat dalam Al-Qur’an.

Lebih jauh lagi, semua yang maujud, gerak dan kejadian, sudah digariskan oleh Allah. Termasuk dalam pengertian ini semua rencana dan perubahan yang menyangkut manusia. Ada semacam garis umum yang bersifat menyeluruh tentang semua hal. Dan semuanya ada dalam genggaman Allah.

Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. At-Taubah (9): 51).

Apa yang bisa disarikan dari serangkaian ayat-ayat di atas adalah gambaran manusia yang fatalistik kehendak dan perbuatannya.

Di atas semuanya, penting dan perlu untuk digarisbawahi bahwa Al-Qur’an adalah satu kesatuan yang utuh. Tidak mungkin antara satu ayat dengan ayat yang lain atau keseluruhan isinya saling berlawanan secara diametral atau saling melemahkan. Namun toh bila tampak seperti itu, maka perlu disadari bahwa itu terjadi hanya dalam dataran pemahaman manusia. Bukan unsur firmannya. Kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an adalah shahih dan mutlak karena itu adalah qaul Allah. Sementara interpretasi oleh manusia adalah nisbi. Ini juga sekaligus merupakan isyarat bahwa manusia masih harus berpikir lebih keras lagi untuk menggali mutiara rahasia dan hikmah yang terkandung dalam kalam Ilahi. Al-Qur’an.

 

  1. pra-kondisi yang DIinginkan.

Lazimnya dalam setiap peristiwa memahami, mencerap hingga mungkin menerima pemikiran baru yang dilempar ke ruang publik tidaklah mudah bagi setiap orang. Apalagi pemikiran-pemikiran yang dipandang melawan arus. Terbuka atau tidak terbuka terhadap pemikiran-pemikiran baru yang diusung ke permukaan adalah satu hal. Menerima atau tidak menerimanya adalah lain hal.

Hal terkait yang diinginkan di sini adalah kesediaan masing-masing individu untuk berangkat dengan pikiran terbuka sehingga pemikiran yang dilempar ke ruang publik untuk dialog pemikiran dapat terselenggara secara lapang dan terbuka. Bukan untuk menjadikannya tahta bagi syak wasangka. Jadi ada keinginan untuk adanya semacam pra-kondisi tertentu sehingga dialog pemikiran dapat berlangsung terbuka, sehat, akrab dan ramah. Pusaran peristiwa memahami dan mengerti akan cenderung lebih mudah dalam suasana tersebut.

Hal-hal yang terlebih dahulu penting dan perlu ditegakkan di sini meliputi sejumlah kebutuhan untuk membangun pra-kondisi yang diinginkan di atas.

  1. a) Hal yang paling mula yang harus ditanamkan dalam hati dan pikiran adalah suatu keyakinan bahwa tidak mungkin Al-Qur’an memuat ayat-ayat yang saling bertentangan dan melemahkan satu terhadap yang lain. Bukan saja iman yang harus mengatakannya demikian, tetapi juga bukti empiris selama 14 abad lebih. Tidak ditemukan hal-hal yang menerbitkan keraguan. Semua ini dimungkinkan karena sumbernya tunggal dan sama, yaitu dari Allah. Kebenarannya mampu mengatasi sekat-sekat dimensi ruang dan waktu. Sungguh Al-Qur’an yang suci terlalu cermat, teliti, terukur dan terjaga untuk terjadinya kontradiksi antar ayat-ayatnya. Tidak ada ayat-ayat yang saling berlawanan, apalagi secara diametral.
  2. b) Ayat-ayat yang bertutur tentang sifat Allah Yang Maha Adil, yang menjadi salah satu landasan bagi determinisme untuk berhujjah banyak tertebar dan tertabur di banyak ayat dan surat Al-Qur’an. Demikian juga ayat-ayat yang berbincang tentang sifat Allah Yang Maha Kuasa, yang menjadi salah satu landasan bagi fatalisme untuk berhujjah banyak terhampar dan berhambur di banyak ayat dan surat Al-Qur’an. Semua itu untuk menegaskan kesempurnaan sifat-sifat Allah yang mutlak.Jauh dari gambaran nisbi. Dengan demikian aspek determinisme dan fatalisme dalam kehendak dan perbuatan manusia sama-sama mendapat sandaran Al-Qur’an. Yang sesungguhnya dibutuhkan adalah sintesa antara keduanya.
  3. c) Manusia secara kodrati dan menurut watak kejadiannya bersifat baik dan fitri. Untuk itu menegakkan husnudlan terhadap sesama adalah tuntutan nilai dan akhlak agama. Termasuk di sini dalam melihat kenyataan keragaman aliran Teologi yang ada. Kedewasaan, kematangan dan keterbukaan sikap akan selalu merupakan awal yang baik. Bilapun terbit pemikiran baru, asal tidak bid’ah, berprasangka baik tetap penting dan perlu. Harus disadari bahwa antara satu aliran dengan aliran lainnya terdapat hubungan historik dan kausalitas yang rapat, erat dan kental. Yang satu menjadi musabab bagi munculnya yang lain. Tidak ada satupun yang muncul tiba-tiba terlepas dari yang lain. Tidak ada yang muncul di sebuah ruang hampa. Lagi pula, dinamika umat tidak mungkin terselenggara dalam suasana tunggal, melainkan majemuk.
  4. d) Untuk kepentingan lebih luas dan ke depan, dinamika di semua lini dalam tubuh umat harus lebih dikembangkan, termasuk dalam lapangan Teologi. Dialog pemikiran diluaskan, pemikiran baru didengarkan. Biarkan dialog pemikiran tersebut menemukan dirinya dalam bentuk yang tepat dalam bimbingan wahyu. Sangat tidak menguntungkan manakala keadaan dibiarkan langgeng dalam kemandegan dan kejumudan. Selebihnya, biarlah dalam perguliran dan pergiliran dimensi ruang dan waktu terselenggara apresiasi dan kritik terhadap setiap pemikiran baru yang ada. Mengambil dan mempertahankan yang lama yang baik, mengakomodasi yang baru yang baik atau yang lebih baik.
  5. e) Heterogenitas adalah kenyataan tak terhindarkan dalam masyarakat. Ad-din al-haqq tidak menafikan kenyataan sosiologis tersebut. Selebihnya, Islam malah memperlihatkan kemampuan dan kesanggupannya mewadahi dan menghimpun aneka keragaman yang ada dan mengikatnya dalam gagasan-gagasan Tauhid menuju satu cita-cita, satu tujuan. Sesungguhnya Islam itu lapang dan luas, semua bisa disatukan dalam semangat dan jiwa keesaan Tuhan. Dan pemikiran Teologi yang dirumuskan dengan kata kunci sunnatullah yang diusung disini didedikasikan untuk memperkuat gagasan-gagasan Tauhid di atas.
  6. f) Dinamika pemikiran akan terus mengarus, lahir dan membasahi pelataran dunia Islam. Kekayaan khazanah pemikiran akan menjadi rahmat tersendiri. Harapannya adalah pemikiran-pemikiran yang mengusung manfaat. Oleh karena itu, memberikan keberpihakan yang baik, sehat dan dewasa adalah sikap yang dinantikan. Dinamika ini akan berkembang dengan baik sepanjang pelembagaan pikiran terbuka juga baik. Untuk itu kesediaan untuk saling taushiah bi al-haq adalah tindakan tepat. Menghindari hal-hal yang berbau bid’ah selalu penting.

Pemikiran-pemikiran yang baik acap lahir dalam cuaca dan iklim yang juga baik lagi terbuka. Dan tuntunan-tuntunan samawi akan lebih gampang membumi menjadi rahmat yang semakin lil-alamin dalam cuaca dan iklim tadi. Penggalian kalimatun sawa yang bersifat wasathan pun akan lebih menemukan tenaga pendorongnya dalam nuansa dan suasana yang sama.

Tidak kurang seorang Abdul Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyidi, yang lebih masyhur dengan nama Ibnu Rusyd, melemparkan tengara ihwal kalimatun sawa dalam ranah persoalan ini. Bahwa di dalam Al-Qur’an memang banyak ayat-ayat yang menetapkan adanya kekuasaan Allah pada setiap perbuatan manusia, baik dan buruknya. Tetapi juga banyak ayat yang menunjukkan bahwa manusia diwajibkan berikhtiar. Dengan itu semua hendaklah manusia berpikir untuk memecahkan masalah tersebut. Maka sebenarnya jalan tengah bisa ditempuh antara paham Jabariyah dan Mu’tazilah.[60]

  1. g) Dalam heterogenitas pemikiran, dalam ranah terbatas, sering terjadi apa yang dalam biologi disebut seleksi alamiah. Hanya pemikiran yang baik, maslahat dan kuat yang bertahan dan diterima. Sementara yang sebaliknya akan teranulir dengan sendirinya. Kiranya akan bermanfaat untuk mempercayai adanya proses-proses seleksi tersebut. Ini akan membantu tiap individu untuk memberikan apresiasi terbaiknya terhadap berbagai karya pikir yang melimpah di masyarakat. Yang penting hamburan pemikiran tersebut tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Toh setiap dari semua pemikiran tersebut tidak akan lolos dari tinjauan, penilaian dan ujian sejarah, ruang maupun waktu atas kelebihan dan kekurangan masing-masing. Selama Al-Qur’an dan al-Hadits digenggam erat sebagai paradigma maka hasil akhir dari setiap pemikiran yang dilempar ke ruang publik akan senantiasa melahirkan yang baik dan terbaik bagi semuanya. Hanya yang terbaik yang dipakai masyarakat. Ini juga merupakan bagian dari dinamika umat yang ulul albab.
  2. h) Akhirnya setiap individu muslim percaya dan haqqul yaqin bahwa Allah menciptakan semua makhluk-Nya pada tataran selaras dan serasi. Damai, teduh dan penuh rahmat. Tidak ada persoalan yang tidak berpenyelesaian. Tidak ada dinamika pemikiran yang tidak menghasilkan yang terbaik. Itulah sebabnya manusia yang mengambil jalan iman sebagai obor jiwa raganya adalah manusia yang senantiasa berpengharapan pada Allah. Berpengharapan untuk solusi-solusi. Dan ketika manusia berpengharapan itu pertanda terbebas dari kemungkinan berputus asa. Apalagi berputus asa dari rahmat-Nya. Sementara putus asa acap menjadi awal mimpi buruk untuk perjalanan hidup selanjutnya.

Islam pada dasarnya merupakan sistem terbuka. Termasuk dalam hal ini terbuka terhadap tinjauan, penilaian dan pengujian oleh sejarah, ruang maupun waktu. Terbukti Islam selalu berhasil melewati semuanya. Islam telah memberikan pembelajaran dan menginspirasi untuk berpikir terbuka. Masyarakat yang baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur adalah komunitas yang juga berpikiran terbuka. Pada gilirannya akan mengantarkan masyarakat muslim menjadi kuntum khaira ummatin ukhrijat li an-nas di dalam negeri sejahtera penuh ampunan dan ridla Tuhan.

 

VIi. SIFAT-SIFAT ALLAH DAN ORIENTASI PERILAKU MANUSIA.

Dengan seluruh sifat-Nya Yang Agung, Allah berkenan untuk dikenal, dipahami dan disapa para hamba-Nya. Melalui ayat-ayat qauliyah (firman Allah) dan ayat-ayat kauniyah (realitas materiil) para hamba dibimbing ke sana. Keseluruhan ayat-ayat tersebut jelas bukan keseluruhan tentang Diri-Nya. Bukan keseluruhan kartu Allah. Ini karena Allah Maha Ghaib. Kalaupun manusia diperkenankan tahu, itupun hanya sedikit.

Sesungguhnya pewartaan sifat-sifat Allah dalam Al-Qur’an dapat menjadi sekolah bagi perilaku manusia. Apresiasi yang baik terhadap sifat-sifat-Nya akan selalu menerbitkan pengaruh besar yang juga baik bagi pertumbuhan dan perkembangan sifat dan jiwa manusia. Bila ada yang sakit dari diri manusia maka pencerahan dari sifat-sifat Allah akan menjadi semacam obat tersendiri. Bila semula sehat akan membuatnya semakin sehat.

Refleksi sifat-sifat Allah, selain refleksi dari Al-Qur’an, bukan saja sebagai wahana pengenalan semata. Tetapi juga sebagai wahana pendidikan bagi sang hamba, langsung maupun tidak langsung. Nilai tarbiyah ini sekaligus bernuansa Ilahiyah.

Pernyataan Allah Maha Suci, misalnya, sudah barang tentu kesucian-Nya Mutlak, memberikan pengertian bahwa satu dan satu-satunya Yang Suci dan sempurna dalam kesucian-Nya adalah Allah semata. Suci dari segala kelemahan, kekurangan maupun cacat. Karena yang terbebas dari anasir kelemahan, kekurangan maupun cacat hanya Allah, maka selain Diri-Nya sarat kelemahan, kekurangan maupun cacat. Dengan demikian manusia seperti disadarkan atas kondisi tersebut. Sadar tentang apa yang menjadi ciri umum seluruh makhluk.

Bagi jiwa atau nurani yang sehat, apresiasi yang baik atas ke-Maha Sucian Allah akan membentuk pribadi rendah hati, tahu diri, santun, tawadlu’, menjauhkan diri dari keangkuhan, kesombongan dan semacamnya. Low profile. Inipun masih bisa ditambahkan dengan sifat-sifat terpuji lainnya yang selaras dengan ke-Sucian Allah, misalnya manusia dituntut untuk menjaga kesucian diri. Ada semacam proses imitasi walaupun level kesucian manusia jauh di bawah level ke-Sucian Allah.

Kesadaran mendalam atas kekurangan dan kelemahan sebagai makhluk memang memungkinkan pembentukan pribadi ke arah sana. Pembentukan kepribadian ujung-ujungnya adalah pembentukan perilaku juga. Ini baru dididik oleh satu sifat Allah. Padahal sifat Allah, sebagaimana dalam al-asma’u al-husna, ada 99. Sementara setiap sifat Allah dapat memberikan dampak tarbiyah bagi manusia. Manusia akan menjadi insan kamil dengan merefleksikan diri terhadap 99 sifat Allah. Perilaku manusia berorientasi pada al-asma’u al-husna.

Al-asma’u al-husna adalah nama-nama lain bagi Allah. Asma’ ini sekaligus menunjukkan sifat. Al-asma’u al-husna bukan saja bagaimana Allah menjelaskan Diri-Nya, tetapi juga sekaligus bagaimana dengan cara itu manusia bisa menjadi terdidik ke arah nilai-nilai yang sesuai dengan sifat tersebut. Nilai-nilai yang Ilahi. Asma’-asma’ yang baik ini sungguh merupakan wahana pendidikan yang lengkap dan indah. Bekasan dan torehan pada kalbu menempatkan asma’-asma’ suci tersebut sebagai piranti pembentukan kepribadian manusia. Dapat dikatakan seluruh rangkaian sifat Allah yang semuanya mulia dan agung, di samping merupakan sebuah cara adalah juga sebuah bahasa. Bahasa yang indah.

Allah memiliki sifat sebagaimana deskripsi Al-Qur’an dengan nama-nama dalam al-asma’u al-husna. Tetapi sifat itu tidak selalu harus digambarkan sebagai tambahan kepada Dzat-Nya, seperti yang disangkakan kaum Asy’ariyah yang akan mengesankan komposisi (tarkib) pada diri Tuhan. Tuhan adalah Esa, dan ini merupakan sifat-Nya yang paling esensial.[61]

Dalam hubungannya dengan pemikiran yang dikedepankan dalam pembahasan ini, sifat-sifat Allah yang acap dihubungkan dengan kehendak dan perbuatan manusia adalah sifat Maha Adil dan Maha Kuasa Allah. Sejajar dengan pemaparan di atas, sifat keadilan dan kekuasaan-Nya juga memiliki dampak mendidik yang baik pada diri manusia. Refleksi pendidikan ini akan berhasil bila apresiasi atas sifat-sifat tersebut berhasil, atau memiliki kedalaman. Bila tidak, tidak akan banyak yang bisa diharapkan.

Allah Maha Adil. Keadilan-Nya mutlak, tidak terbatas juga tidak berbatas. Keadilan-Nya wajib ada. Al-Qur’an banyak menuturkannya di berbagai surat dan ayat. Apresiasi yang baik atas sifat mutlaknya keadilan Allah akan mengguratkan dampak jiwani yang bagus sekali. Manusia menjadi menyadari bahwa keadilan-Nya melingkupi segala sesuatu. Keadilan-Nya senantiasa menyelimuti setiap kehendak dan perbuatan manusia. Manusia juga melihat adanya pahala dan dosa, surga dan neraka, ganjaran dan hukuman berada dalam koridor keadilan-Nya. Adalah adil manusia menerima balasan baik bila ia berkelakuan baik. Dan menanggung beban hukuman bila berkelakuan tidak baik. Adalah adil bila ganjaran dan hukuman dinisbahkan atas kehendak dan perbuatannya. Sebaliknya tidaklah adil bila manusia menanggung hukuman atas kehendak dan perbuatan yang dilakukan pihak lain atau yang tidak dilakukannya. Dari ranah ini pula arti tanggung jawab hidup disadari.

Keadilan Allah lebih bisa dipahami apabila manusia menerima balasan baik atau menanggung beban hukuman atas kehendak dan perbuatannya sendiri. Bukan atas kehendak dan perbuatan pihak lain. Ini yang seterusnya dipahami sebagai anugerah kebebasan berkehendak dan berbuat. Terbitlah semacam rasa bebas dan rasa tanggung jawab. Hal-hal demikian mendidik manusia berselera hidup, bersemangat dalam berjuang, bergairah menerima tantangan kenyataan, berikhtiar, ksatria (tidak mudah menyalahkan pihak lain bila salah dan gagal). Menjadi giat, tidak mudah putus harapan, senantiasa berpandangan dan berpengharapan baik. Tidak berprasangka buruk atau bahkan mengkambing-hitamkan Allah untuk hal-hal atau kejadian-kejadian yang mungkin tidak menyenangkan.

Allah tetaplah Maha Adil. Bila umat manusia dari berbagai lapis dan tingkatan bersama-sama kerja bakti menaburkan dan menebarkan lalu membumikan apa yang menjadi pengejawantahan keadilan-Nya ke berbagai belahan dunia, termasuk dalam tatanan ekonomi, kemasyarakatan, politik dan seterusnya, maka di dunia ini tidak akan ada lagi kesengsaraan, jeritan, kehinaan maupun ratapan. Lagi pula sangat nyata bila manusia pada dasarnya adalah makhluk pendamba keadilan.

Allah juga Maha Kuasa. Kekuasaan-Nya mutlak, tidak terbatas dan juga tidak berbatas. Kekuasaan-Nya wajib ada. Al-Qur’an banyak menuturkannya di berbagai surat dan ayat. Apresiasi yang baik atas mutlaknya kekuasaan Allah juga akan menggoreskan dampak jiwani yang amat bagus. Manusia menjadi merasa bahwa kekuasaan-Nya tentu membungkus segala sesuatu. Kekuasaan-Nya senantiasa meliputi setiap kehendak dan perbuatan manusia. Manusia bukanlah apa-apa, bukan juga siapa-siapa. Dan tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan Pemilik kekuasaan mutlak.

Hembusan mendidik yang segera dirasakan setelah manusia menyadari kekuasaan Allah atas tiap-tiap sesuatu adalah dorongan balik kepada manusia sendiri untuk mengaca diri tentang kekuasaan. Sangatlah naif bila manusia bersikap sok kuasa. Di sini sangat kuat diharapkan agar manusia menjadi pribadi-pribadi yang tidak takabur, sombong, pongah maupun jumawa.

Yang sah, pantas takabur hanyalah Allah. Oleh karenanya manusia akan cenderung bertindak rendah hati, menghargai dan menghormati sesama, tidak semena-mena terhadap yang lain dan semacamnya. Manusia juga akan terdorong untuk mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya karena sungguh Allah berkuasa untuk memerintah dan melarang tanpa ada yang sanggup dan mampu menghalangi-Nya. Bisa ditambahkan manusia bisa menjadi tawakkal dan tawadlu’ dalam menghadapi kenyataan hidup yang tidak jarang pahit, sebab semua ini berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Manusia tinggal hidup dan menumpang di hamparan alam nyata yang serba dikuasai Allah.

Lebih dari itu, dari runtut uraian di atas, bila diselami lebih jauh cara Allah membimbing dan mendidik manusia sungguh amat mempesona. Langsung menyentuh ke kedalaman batin para hamba-Nya. Seakan sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Di satu sisi, sifat-sifat Allah adalah bagaimana Dia bertutur dan berkabar tentang Diri-Nya. Di sisi lain, sifat-sifat Allah menggulirkan dampak tarbiyah yang mendalam yang luas cakupannya tanpa harus dengan kalimat perintah maupun kalimat larangan.

Agar manusia giat berikhtiar, khusyu’ beribadah, berpengharapan dan hal-hal yang semaksud dengan itu, Allah berbicara kepada para hamba-Nya tentang keadilan-Nya. Supaya manusia bisa tahu diri, tidak sok berkuasa, takabur, angkuh, congkak atau hal-hal yang semaksud dengan itu, Allahbercengkerama kepada para hamba-Nya tentang kekuasaan-Nya. Agar manusia hidup tenang, tenteram, merasa ada kekuatan besar yang memperhatikan dan melindungi, memiliki tempat mengadu dan berkeluh kesah, Allah berkalam tentang welas asih-Nya. Dan begitu seterusnya dengan sifat-sifat-Nya yang lain. Mendidik, membangun, membentuk pribadi manusia dengan harapan menjadi sosok idaman insan kamil. Intinya sifat-sifat Allah dapat menjadi cermin bagi akhlak manusia.[62]

Allah yang bersinggasana di ‘Arsy yang tinggi memiliki cara, dan cara ini adalah sebuah bahasa. Ini semua menjadi bahasa Allah yang ternyata amat indah dan menakjubkan. Untuk membangun pribadi manusia tidak hanya harus dengan tuturan perintah maupun tuturan larangan secara tersurat semata, meskipun banyak ayat wahyu-Nya Allah tidak mengesampingkan pemakaian kalimat perintah atau kalimat larangan secara langsung. Dengan bahasa yang indah manusia mengenal Allah sembari dirinya terdidik dan terbentuk.

Patut dicatat bahwa tidak ada gesekan atau saling bertentangan satu sama lainnya antar seluruh sifat Allah. Demikian juga halnya untuk hasil-hasil didikan dari sifat-sifat tersebut pada manusia. Semua lurus, sejajar dan sejalan. Dan bila didapati ada yang tidak searah dengan orientasi ini, dapat diniscayakan bahwa hal tersebut terjadi hanya pada tataran interpretasi manusia. Manusia dapat membolak-balikkan alur pikiran. Tergantung perspektif yang dipakai.

Untuk direnungkan, apakah sifat-sifat Allah memang dipola untuk menciptakan madzhab-madzhab Teologi ataukah lebih sebagai cara Allah mengintrodusir Diri-Nya sekaligus mendidik atau membentuk pribadi-pribadi manusia?. Jawaban yang pasti adalah Allahu a’lamu bi ash-shawab. Dan sebagai jawaban yang mungkin, perlu ditemukan alasan-alasan kuat bila pembangunan aliran-aliran Teologi adalah tujuan pentingnya. Sementara dalam catatan sejarah, pergumulan pemikiran-pemikiran dalam Teologi sempat memunculkan gesekan. Dan gesekan ini tidak pernah menjadi harapan siapapun. Kiranya salah satu maksud dalam cara Allah memperkenalkan Diri-Nya yang ternyata dapat menjadi refleksi edukatif bagi manusia lebih mudah dipahami sebagai alasannya. Ini pada gilirannya dapat mempola perilaku manusia.Bila demikian tidak tersedia tempat untuk menjadikan perbedaan pemikiran sebagai gesekan hingga membahayakan persatuan umat.

Sejauh ini, bila orang berbincang tentang determinisme dan fatalisme manusia, yang acap menonjol dikedepankan adalah sifat Maha Adil dan Maha Kuasa Allah. Kedua sifat tersebut memang dapat menjadi cermin bagi personalisasi manusia. Padahal bukan hanya kedua sifat tersebut yang bisa menjadi cermin pantul, tetapi semua sifat Allah. Semua sifat-Nya dapat menjadi cermin akhlak atau pantulan tingkah laku para hamba-Nya.

Itulah sebabnya mengapa sifat-sifat Allah dan pembahasan ringkasnya ditulis dalam fasal tersendiri dan dimasukkan dalam pembahasan di sini. Diharapkan dapat memberi ingat bahwa kehendak dan perbuatan manusia bisa tercipta dari pantulan seluruh sifat Allah.bukan hanya dari perspektif keadilan dan kekuasaan-Nya semata. Bisa juga dari perspektif welas asih, kekekalan dan keazalian-Nya. Begitu seterusnya. Harapan selanjutnya, ini bisa menjadi cara yang lebih luas dalam memahami kehendak dan perbuatan manusia. Sementara keluasan akan menjadi pintu yang lebih lapang.

 

BAGIAN B

KEHENDAK DAN PERBUATAN MANUSIA,

ANTARA DETERMINISME DAN FATALISME

 

VIIi. SUNNATULLAH, JEMBATAN PENGHUBUNG yang TERSEMBUNYI DI BALIK KESADARAN MANUSIA

  1. Ayat Kauniyah, Ayat Qauliyah dan Ayat Alam Ghaib

Di dunia ini, selain mengenal Allah, manusia mengenal tiga manifestasi sesuatu yang penting yang mempresentasikan diri bahwa ia ada. Ketiganya meliputi alam materi, alam ghaibi, dan kalam Ilahi. Banyak hal dan persoalan yang melekat pada alam materi, demikian juga yang melekat pada alam ghaibi dan kalam Ilahi.

Adapun alam materi atau alam bendawi adalah segala sesuatu yang bertabiat materiil yang terbentang luas dalam kisaran bumi, langit dan apa-apa yang ada di antara keduanya. Dengan kata lain adalah alam semesta dengan segala isinya, baik yang dimengerti sebagai hidup maupun mati. Faedah, bentuk, ukuran, sifat, warna dan sejenisnya amat beragam dan majemuk. Manusia juga merupakan bagian dari alam semesta.Walaupun manusia itu sendiri merasa sebagai ‘alam semesta’ dalam bentuknya yang kecil. Di hadapan manusia semua itu seperti dihamparkan seluas-luasnya. Namun hanya sedikit yang sudah dikenali manusia secara intim.Selebihnya manusia masih dalam perjalanan untuk mencari tahu atau menguak tabir rahasianya. Yang jelas semua itu ada dan diciptakan bukanlah sebagai sesuatu yang nir-makna atau nir-tujuan. Semua tadi diikat dalam satu kesamaan umum yaitu terikat dalam genggaman dimensi ruang dan waktu. Tidak satupun yang tidak mengespresikan diri dan jenisnya dalam dua dimensi tersebut.

Keseluruhan manifestasi materiil, dalam semua bentuk, ukuran, sifat, warna maupun jenis memiliki pengertian struktur atau susunan (tarkib). Semua terstruktur oleh penyusun-penyusun dasar yang sama.Terstruktur atas bagian demi bagian. Penyusun-penyusun bisa dimulai dari bagian-bagian yang tampak oleh penglihatan mata hingga ke bagian yang lebih kecil, terus kecil dan berujung ke yang terkecil. Di ujung yang paling kecil ini penglihatan manusia sudah tidak berdaya melainkan dengan alat bantu piranti canggih.

Bila dibahasakan dengan istilah baku urutan struktur materi adalah: materi tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut zat. Setiap zat tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut senyawa. Setiap senyawa tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut molekul. Setiap molekul tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil yang disebut unsur. Setiap unsur tersusun dari bagian-bagian yang lebih renik yang dalam Al-Qur’an diberi istilah zarrah (dalam bahasa sains dikenal dengan istilah atom). Atom sudah sangat renik tetapi masih tersusun dari bagian-bagian yang lebih renik berupa bagian-bagian sub-atom atau partikel elementer, meliputi: proton, neutron dan elektron. Kesatuan protron dan neutron menjadi inti atom, sedangkan elektron adalah kulit atom. Apa yang sudah sangat elementer dari proton, ternyata masih bisa dibagi-bagi lagi menjadi bagian-bagian yang jauh lebih elementer yang disebut quark. Ternyata pula quark belumlah pemegang catatan terenik dari realitas materiil. Agar sesama quark berkumpul dan tidak tercerai berai maka yang hadir sebagai pengikat adalah sesuatu yang lebih kecil dari quark yang disebut gluon.[63] Kiranya gluon inilah pemegang catatan terenik dari apa yang dipahami sebagai materi. Setidaknya menurut tingkat pencapaian ilmu pengetahuan sampai hari ini.

Dunia atom terlampau kecil dimensi ukurannya hingga sanggup membuat siapa saja berdecak kagum bila merenungkannya. Belum lagi persoalan ketertiban dan keteraturan yang terselenggara di dalamnya. Dan seperti ini jugalah pembentuk dan penyusun tubuh manusia. Semua persis dengan pembentuk dan penyusun tubuh alam semesta. Kesamaan struktur secara hierarki ini menjadikan manusia tidak mungkin melepaskan diri dari realitas materiil dan secara batiniah menerbitkan ikatan ke dalamnya.

Di samping alam semesta memiliki pengertian struktur, tersusun atas bagian-bagian, penting untuk diberi tanda petik bahwa alam semesta bukanlah realitas terakhir sebagaimana yang disangkakan para ilmuwan alam yang atheis atau sekular. Alam semesta tak lain hanyalah tanda-tanda (ayat) dari kekuasaan dan keberadaan Tuhan, satu-satunya entitas yang patut disebut realitas terakhir (The Ultimate Reality). Karena itu mempelajari alam semesta sama dengan mempelajari tanda-tanda kebesaran Tuhan, dengan demikian dengan mempelajari tanda-tanda Tuhan, seorang ilmuwan diharapkan dapat menunjukkan adanya Tuhan.[64]

Alam semesta dalam semua tingkatan bagian, materi sub-atom, atom, unsur, molekul, senyawa, zat, semua materi di bumi dan bumi itu sendiri, ditambah semua materi yang bertebaran dan berhamburan di angkasa yang tidak terhitung banyaknya, baik yang berwujud gas, cair maupun padat, adalah ayat-ayat. Ayat-ayat dalam kelompok materiil ini acap dikenal dengan sebutan ayat-ayat kauniyah.

Dalam arah pemikiran seperti di atas, maka setiap diri manusia termasuk ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian manusia dapat dipandang sebagai untaian ayat yang paling intim dan dekat dengan dirinya sendiri. Tentunya lebih dari sekedar dapat didria secara kasat inderawi. Ini dapat menjadi modal besar bagi adanya sebab untuk mendekatkan diri kepada Allah.[65]

Nyata benar dalam ayat-ayat kauniyah, dalam seluruh realitas materiil, terselenggara ketertiban, keteraturan, tidak saling tumpang tindih, ketelitian, kecermatan, keberimbangan dan keseimbangan yang luar biasa. Semua ini bisa terjadi karena Allah meletakkan di dalamnya berbagai ukuran, besaran, aturan, kaidah, syari’ah, ketentuan, hukum, minhaj, norma, nilai dan semacamnya. Semua sudah ada penetapan qadar-nya. Semua sudah tertakdir seperti itu. Semua ini tidak lain adalah sunnatullah.

Selain ayat-ayat kealaman, ada jenis ayat-ayat lain yang diterimakan kepada manusia sebagai makhluk yang dimuliakan Allah. Kehormatan bagi manusia disapa langsung oleh Allah melalui serangkaian firman-Nya. Firman atau wahyu ini adalah kalam Allah. Sangat berbeda dengan sebelumnya, ayat-ayat ini secara tersurat berupa ujaran lafadz demi lafadz yang membentuk serangkaian kalimat demi kalimat dengan susunan yang amat indah, teliti, cermat, bercakupan luas. Ayat-ayat dari Allah ini terangkum dalam mushaf suci.

Dalam sejarah kemanusiaan dan dalam kurun yang berbeda-beda, sekurun waktu kalam Allah terangkum dalam kitab Zabur. Sekurun waktu yang lain terangkum dalam kitab Taurat. Sekurun waktu kemudian terangkum dalam kitab Injil. Akhirnya, dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun dalam masa Kerasulan Nabi Muhammad, kalam-Nya yang karim terangkum dalam kitab suci Al-Qur’an. Inilah kitab samawi terakhir yang menyempurnakan kitab-kitab samawi sebelumnya. Ayat-ayat dalam kelompok kalam Ilahi ini dikenal dengan sebutan ayat-ayat qauliyah. Disebut demikian karena berisi qaul Allah.

Sebagaimana halnya ayat-ayat kauniyah, di dalam ayat-ayat qauliyah nyata tersurat adanya aturan, kaidah, syari’ah, ketentuan, hukum, minhaj, norma, nilai dan semacamnya. Yang tersirat juga tidak sedikit. Semua ini tidak lain adalah juga sunnatullah.

Naif rasanya bila manusia berpandangan bahwa pelataran dunia yang di dalamnya ada dan terselenggara tatanan alam semesta seisinya yang luasnya sungguh tidak terperi hanya dihuni oleh makhluk-makhluk Allah dari kelompok yang berciri-ciri bisa didria secara kasat inderawi. Hanya karena alasan tidak bisa didria secara kasat inderawi, terutama kasat mata, atau tidak bisa tertangkap oleh peralatan-peralatan bantu ilmu pengetahuan / piranti-piranti penelitian, banyak manusia yang menafikan adanya sekelompok besar makhluk Allah yang bersifat nir-kasat inderawi. Di luar kemampuan mata melihat. Makhluk-makhluk ini adalah makhluk ghaib .

Makhluk-makhluk ghaib nyata adanya. Banyak hal menjadi lebih mudah dipahami manakala disadari bahwa umat manusia tidaklah sendirian hidup di alam semesta ini. Alam semesta sungguh terlalu luas untuk dihuni oleh hanya kelompok species manusia. Penandasannya di dalam Al-Qur’an:

(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (QS. Al-Baqarah (2): 3).

Yang ghaib  adalah yang tak dapat ditangkap oleh panca indera. Percaya kepada yang ghaib  yaitu meng-i’tikad-kan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera. Tidak bisa didria panca indra bukan berarti tidak ada karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.[66]

Allah memang Maha Ghaib. Namun dalam fasal ini tentu tidak dikelompokkan ke dalam kelompok makhluk melainkan berada dalam kapasitas-Nya sebagai Rabb al-‘alamin. Sebagai Sang Pencipta. Di sudut lain malaikat, jin, syetan bahkan ruh dikelompokkan sebagai makhluk ghaib. Al-Qur’an sendiri, dalam banyak ayat dan suratnya, acap memaktubkannya. Dapat dilongok pada QS. Ali Imran (3): 179; QS. Al-Ma’idah (5): 109, 116; QS. Al-An’am (6): 59; QS. Al-Jin (72): 26; dan lain-lain.

Apa yang pada dasarnya ingin dikatakan tentang alam ghaib  di sini adalah bahwa di lingkungan ini juga dikenal adanya semacam minhaj / sistem, syari’ah, ketentuan, aturan, hukum, nilai dan semacamnya. Dengan kata lain adalah sunnatullah adanya. Walaupun pengetahuan manusia tentang alam ghaib  amat terbatas, penting kiranya untuk diyakini bahwa di ranah lingkungan tersebut terselenggara sunnatullah sebagaimana alam materi.

Sangat sulit diterima akal bila makhluk ghaibdiciptakan tetapi tidak berlakusunnatullahdi dalamnya dan dibiarkan terbengkelai. Kisah syetan menolak menghormati Adam (QS. Al-A’raf (7): 12; QS. Al-Hijr (15): 31, 33; QS. Al-Isra’ (17): 61) dan sejumlah ayat-ayat lain dapat dipandang sebagai contoh adanya penerapan sunnatullah. Allah memberi perintah (berarti rupa-rupa aturan, ketentuan) kepada syetan. Adapun makhluk ini membangkang adalah persoalan lain.Sama dan searah seperti ketika manusia membangkang. Contoh selain syetan, ruh (termasuk urusan Allah, lihat QS. Al-Isra’ (17): 85), tiap yang berjiwa (jiwa termasuk perkara ghaib) akan merasakan mati (QS. Al-Anbiya’ (21): 35), adalah contoh tentang adanya ketetapan dan ketentuan di alam nir-kasat tersebut. Ini maknanya adalah sunnatullah.

Tandas dan nyata bahwa di lingkup alam kauniyah dan alam ghaib  disenyawakan dan diselenggarakan sunnatullah. Tidak tersedia sisa untuk pengecualian. Sementara ayat-ayat qauliyah adalah sunnatullah dalam wujudnya yang lebih nyata dan sangat nyata karena berupa ujaran lafadz demi lafadz secara langsung. Bila semua selain Allah adalah sunnatullah berarti keseluruhannya adalah samudera sunnatullah.

  1. Dunia dalam Dimensi Ruang dan Waktu

Tidak ada materi, jiwa raga, kejadian, sejarah, makhluk biologis, makhluk ghaib dan lain-lain yang berada di luar dimensi ruang dan waktu. Bahkan bumi, langit dan apa-apa yang ada di antara keduanya yang berupa segala materi angkasa tidak akan pernah mampu keluar dari kedua dimensi tersebut. Dunia ini, baik dalam pengertian keseluruhan manifestasi materiil, atau dalam pengertian dilawankan dengan pengertian akhirati, tidak lepas dari genggaman erat dua dimensi tersebut.

Adapun penciptaan masing-masing dimensi ruang dan dimensi waktu ini secara sains dapat dirujuk dari mula awal diciptakannya alam semesta seisinya. Tidak lain adalah awal penciptaan dunia seisinya. Untuk menjelaskan hal-hal seperti ini dibutuhkan suatu teori ilmiah. Teori penciptaan alam. Teori penciptaan alam semesta inipun dalam perjalanan sejarahnya amat beragam dan mengalami gelombang timbul tenggelam. Peneorinya pun tidak sedikit secara jumlah. Hanya yang memiliki landasan dan bukti-bukti ilmiah yang kuatlah yang bisa mencatatkan dirinya sebagai teori unggul.

Di antara berbagai teori penciptaan yang ada atau yang pernah ada, terdapat satu teori ilmiah yang bersesuaian dengan Al-Qur’an (QS. Al Anbiyaa’ (21): 30) yang sekaligus belakangan paling banyak mendapat pengakuan, dukungan dan pembenaran dari para ilmuwan. Teori tersebut adalah Teori Dentuman Besar atau yang secara luas dikenal dengan Big Bang Theory.

Dalam dunia sains ada ketetapan yang menyebutkan bahwa materi bisa berubah atau diubah menjadi energi dan sebaliknya energi (dalam jumlah cukup) dapat berubah atau diubah menjadi materi.Nilai kesetaraan antara energi dan materi adalah E = m.c2. Energi (E) itu setara dengan massa materi (m) dikalikan kuadrat kecepatan cahaya per detiknya(c2). Bila dibalik, massa materi (m) itu setara dengan energi yang dibutuhkan (E) dibagi kuadrat kecepatan cahaya per detiknya(c2). Sementara kecepatan rambat cahaya adalah 300.000 km per detik. Materi dan energi pada dasarnya adalah hal yang sama tetapi berbeda dalam manifestasinya.

Penjelasan ilmiah mutakhir membuktikan secara akurat bahwa materi-materi alam semesta saat ini, dan tentu saja ada saat permulaannya, selalu bergerak saling menjauhi satu sama lain. Antar bintang (matahari beserta seluruh anggota planetnya termasuk salah satu bintang), antar galaksi (beranggotakan para bintang), antar gugus galaksi atau cluster (beranggotakan para galaksi), semuanya bergerak saling menjauh hingga detik ini. Artinya, bila hitungan waktu dilakukan mundur, semakin sang waktu bergerak ke arah lampau maka materi-materi alam semesta tersebut semakin saling mendekat satu sama lain. Volume dimensi ruang juga semakin mengecil. Bila diteruskan hitungan mundurnya, maka bumi dan langit beserta segenap isinya menjadi berupa sesuatu yang satu padu di titik big bang. Di titik awal penciptaan. Ini persis seperti pernyataan Al-Qur’an tentang berpadunya langit dan bumi di masa awal penciptaan.

Dalam Teori Dentuman Besar, penciptaan alam semesta ini dimulai dari perubahan energi menjadi materi. Energi yang dibutuhkan untuk membangun alam semesta sungguh berada di luar kemampuan manusia membayangkannya karena demikian besarnya. Alurnya adalah penciptaan energi super dahsyatdi suatu titik. Energi tersebut berada dalam suatu kondisi sangat spesifik sehingga terjadi ledakan besar. Dalam dentuman dahsyat tersebut embrio alam semesta tercipta dan terus berproses hingga saat ini. Tahapan-tahapan proses terjadi. Boleh disebut ini adalah ledakan penciptaan yang dalam sejarah hidup alam semesta seisinya merupakan ledakan pertama sekaligus yang terdahsyat.

Semua dimulai dari suatu titik dengan volume nol (v = 0). Volume nol adalah istilah ilmiah yang dipakai untuk mengatakan bahwa alam semesta /  dunia ini diciptakan dari ketiadaan. “Kun !”. Allah menciptakan dan menempatkan energi dalam besaran super dahsyat dengan kondisi spesifik di titik tersebut. Karena titik tersebut bervolume minimal tetapi dimuati energi maksimal akibatnya adalah dentuman dahsyat.“Fa Yakun…”. Maka dalam proses selanjutnya alam semesta mulai terbentuk dalam tahapan demi tahapan. Dalam hitungan kurang dari satu detik, terbentuklah partikel-partikel sub-atomik atau partikel-partikel elementer yang pada giliran berikutnya menjadi penyusun dasar materi alam semesta. Semua ini berhamburan ke segala arah menurut jari-jari bola. Lazimnya sebuah ledakan maka hamburannya adalah ke segala arah. Semakin lama semakin membesar. Mulai di titik ini pula dimensi ruang dan dimensi waktu terbentuk. Terbentuk bersamaan dengan terbentuknya alam semesta hingga saat ini.

Sebagai ilustrasi, energi ledakan bom bahkan bom atom sekalipun, yang jelas-jelas mengerikan, sesungguhnya merupakan tindakan melenyapkan materi kasat mata dan hasilnya berupa ledakan (manusia masih belum bisa dan tidak akan bisa menghasilkan energi besar dari ketiadaan untuk membuat materi). Materi 1 kg bila dilenyapkan menjadi energi akan menghasilkan energi sebesar 1 kg x (300.000 x 300.000) km per detik. Hasilnya adalah deretan angka yang tidak sedikit. Bila dibalik, untuk membuat materi seberat 1 kg dari ketiadaan akan dibutuhkan sejumlah energi tertentu yang bila dibagi (300.000 x 300.000) km per detik menghasilkan angka 1 kg. Satuan kg di sini masih harus dikalikan 1000 untuk menjadi satuan gram dan satuan km harus dikalikan 1000 untuk menjadi satuan meter. Hasilnya angka energi yang dibutuhkan sangat besar untuk mewujudkan materi 1 kg.

Silakan dihitung sendiri besaran energi yang dibutuhkan untuk menciptakan manusia yang berbobot 75 kg dari ketiadaan. Akan tersedia deretan angka yang sudah sulit diucapkan. Juga silakan dihitung sendiri besaran energi yang dibutuhkan untuk menciptakan alam semesta seisinya yang berbobot tidak terhingga kg dari ketiadaan. Akan tersedia deretan angka yang bukan saja sudah sulit diucapkan tetapi juga sudah tidak bisa lagi diwakili dengan bahasa verbal manusia. Energi sebesar tidak terkirakan itulah yang berupa big bang di suatu titik v = 0 dalam kisaran kira-kira 12 milyar tahun lalu yang kemudian membentuk materi hingga terwujud alam semesta seisinya. Bagi Allah semua itu memang hanyalah “Kun!”. Ledakan super dahsyat terjadi. “Fa Yakun . . .”. Secara waktu belum genap satu detik alam semesta mulai terbentuk dan berproseshingga berada dalam bentuknya seperti dewasa ini.

Energi dentuman dahsyat tersebutlah yang merupakan benih bagi terciptanya alam semesta baik dalam pengertian materinya (perangkat kerasnya) maupun keseluruhan aturan, ketetapan atau hukum-hukum sains yang menyertai dan bekerja di dalamnya (perangkat lunaknya). Terciptanya perangkat keras alam semesta dan juga perangkat lunaknya adalah bersamaan. Tanpa jeda waktu. Ini karena tidak akan ada wujud materi tanpa aturan, ketetapan maupun hukum-hukum alam yang membuat materi tersebut berwujud.

Hukum-hukum  sains di alam semesta mulai berlaku menyertai big bang. Hukum-hukum ini didasari Empat Gaya Fundamental yang dikenal Fisika modern dewasa ini. Gaya-gaya ini terbentuk bersamaan dengan pembentukan pertikel sub-atomik pertama pada waktu spesifik segera setelah big bang, untuk membentuk seluruh aturan dan sistem alam semesta. Atom-atom yang menyusun materi alam semesta terwujud dan tersebar di alam semesta berkat interaksi gaya-gaya ini. Gaya-gaya ini adalah gaya tarik masa atau yang dikenal sebagai Gaya Gravitasi, Gaya Elektromagnetik, Gaya Nuklir Kuat dan Gaya Nuklir Lemah. Semua materi yang diciptakan dan diedarkan ke penjuru alam semesta setelah big bang dibentuk oleh efek gaya-gaya yang sangat jauh berbeda ini (nilainya memiliki selisih yang menakjubkan, pen.).[67] Adapun yang disebut hukum sains, gaya, aturan, sistem, pola-pola interaksi, di sini, pada dasarnya adalah,sebagaimana di muka, sunnatullah. Sunnatullah yang berlaku dan bekerja di alam kauniyah.[68]

Walaupun Teori Big Bang sudah diterima banyak kalangan, khususnya para saintis dan kalangan muslim, kalangan yang menolak adanya Tuhan dalam kehidupan masih menambahkan satu klausul dalam teori tersebut. Suatu klausul yang terasa seperti dipaksakan agar diterima semua orang. Sebagaimana penjelasan di atas, Teori Dentuman Dahsyat membuktikan bahwa alam semesta seisinya ada dari ketiadaan. Diciptakan dari ketiadaan. Diciptakan berarti ada Kausa Prima dan berarti pula itu adalah Allah, Penjelasan yang melibatkan kehadiran Allah dalam penciptaan alam semesta yang seperti ini yang tidak diinginkan mereka yang menolak adanya Tuhan dalam kehidupan manusia.

Klausul di atas yang dimaksud adalah bahwa sebelum kedahsyatan bigbang terjadi sudah ada sebelumnya awan pendahulu, ada yang menyebutnya bubur kosmos, yang menjadi cikal bakal alam semesta. Materi-materi pendahulu ini, karena adanya gaya saling tarik menarik / gravitasi, membuat semuanya saling mendekat lalu mengumpul untuk kemudian termampatkan. Pemampatan materi dalam jumlah besar terus-menerus terjadi seiring semakin membesarnya garvitasi. Pengkerutan materi menjadi tidak lagi terbendung sehingga mencapai titik volume yang nyaris v = 0. Ada yang mengatakan adalah 0 (nol) itu sendiri. Ada juga yang menyebut titik singularitas. Jadi, materi bubur kosmos dalam jumlah besar yang termampatkan karena gravitasi sehingga volume nyaris v = 0. Kondisi  ekstrim tersebut kemudian menimbulkan ledakan dahsyat big bang. Untuk memudahkan penjelasan, sudah ada awan purba pendahulu lalu berkumpul menuju singularitas untuk kemudian meledak sebagai big bang yang pada giliran berikutnya tercipta materi-materi cikal bakal alam semesta. Bila ada materi sebelum big bang berarti sudah ada dimensi ruang, demikian juga dimensi waktu, sebelumnya.

Proses dan tahapan-tahapan setelah big bang sama teorinya. Yang membedakan, yang satu tidak ada materi apapun sebelum big bang sementara yang lain ada klausul rupa-rupa materi, dengan berbagai sebutan, sebelum big bang terjadi. Bagi yang menolak adanya Tuhan, umumnya kalangan materialis, Teori Big Bang dengan klausul adanya rupa-rupa materi sebelum dentuman dahsyat tersebut sangat penting. Dengan demikian alam semesta seisinya tidak bisa lagi disebut ada / diciptakan dari ketiadaan. Tuhan tidak lagi menjadi pembicaraan penting terkait penciptaan alam semesta. Bagi kalangan materialis, materi dipahami sebagai segala-galanya. Materi sudah ada sejak azali. Keazalian materi menjadi instrumen penting untuk menafikan adanya Allah.

Pertanyaan kritis tentu bisa dimunculkan, bila begitu penciptaan alam semesta seisinya sebenarnya dimulai dari titik mana ?. Dari titik big bang atau titik sebelum big bang ?. Bila berangkat dari titik bigbang, maka sebelum bigbang harus berupa ketiadaan dalam pengertian sebenarnya. Bila dari titik adanya klausul materi sebelum big bang, maka sudah ada materi beserta dimensi ruang dan waktu sebelum big bang sehingga menyebut Teori Big Bang sebagai teori penciptaan alam semesta tidak lagi relevan. Penyertaan klausul di atas pada akhirnya menjadi blunder. Tidak memberi penjelasan lebih baik, melainkan menambah daftar pertanyaan yang tidak terjelaskan.

Ketika agama dan sains bertemu, maka penjelasan penciptaan alam semesta menjadi lebih mudah. Dengan “Kun !” Allah menciptakan energi super dahsyat dalam format big bang dari ketiadaan. “Fa Yakun…!” maka kedahsyatan big bang memberi akibat berupa multi proses dan fase sedemikian rupa sehingga alam semesta seisinya tampil dalam bentuknya seperti dewasa ini.

Lebih dari itu, dimensi ruang dan waktu tercipta mengiringi penciptaan alam semesta. Perluasan alam semesta, sebagaimana yang saat ini sedang dan masih terjadi, adalah perluasan dua dimensi itu sendiri. Setiap peralihan suatu tahap ke tahap berikut, atau satu titik ke titik berikut, adalah perjalanan dalam dimensi-dimensi tadi.

Alam semesta seisinya adalah materi yang secara eksistensial berada dalam dimensi ruang dan waktu. Secara esensial diciptakan untuk mengemban sesuatu tujuan tertentu. Setidaknya apa yang disebut materi hanya bisa dipahami dan dimengerti dalam ranah dimensi ruang dan dimensi waktu. Dengan kata lain, alam semesta atau dunia ini berada dalam genggaman dua dimensi dimaksud. Dimensi ruang semakin luas, dimensi waktu semakin tua.

Dunia, di mana umat manusia hidup dan mengekspresikan diri, menempati ruang dan membutuhkan waktu. Dunia bisa dideskripsikan menurut kerangka ‘di mana’ sekaligus ‘kapan’. Dengan demikian ayat-ayat kauniyah berada dalam genggaman erat sepasang dimensi tersebut. Kiranya demikian halnya dengan ayat-ayat qauliyah, juga berada dalam genggaman dimensi ruang dan waktu.

Penting untuk ditandapetiki bahwa ayat-ayat qauliyah yang diturunkan melalui Rasul-Nya terjadi di dalam ruang dan dalam perjalanannya membutuhkan waktu. Tidak berbeda dengan sebelumnya, alam ghaib  beserta seluruh makhluknya yang nir-kasat inderawi, juga berada dalam genggaman dimensi ruang dan waktu. Bila diringkas, ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat qauliyah dan alam ghaibiyah secara keseluruhan berada dalam genggaman dua dimensi tersebut. Tidak tersisa untuk pengecualian.

Dalam semesta pembicaraan, hanya Allah yang tidak tercengkeram oleh dimensi ruang dan waktu. Hanya Allah yang tidak terikat oleh kungkungan dimensi tersebut. Walaupun alam semesta seisinya ini nyata kesangatluasannya, tetap saja di hadapan Allah tidak seberapa. Logis manakala hanya Allah yang mustahil terbelunggu atau terikat oleh dua dimensi dimaksud. Apa yang pada galibnya adalah ciptaan-Nya sendiri. Justru dimensi ruang dan waktu dan apa-apa yang ada di dalamnya yang berhajat dan bergantung pada-Nya.

Dunia yang dikenal intim oleh manusia adalah dunia yang disesaki tebaran dan taburan sunnatullah. Dunia di mana sunnatullah bekerja dan terselenggara juga sekaligus merupa dan membentuknya hingga dalam gambaran dewasa ini. Dunia ada dan berada dalam dimensi ruang dan waktu. Tidak di luarnya.

  1. Dunia Dikelola dengan Sunnatullah

Dalam salah satu perspektif, dunia seisinya dikonstruksi dari dua hal dasar pokok. Keduanya amat berbeda namun saling memberi makna dan genap-menggenapi. Yang pertama, dunia dalam manifestasi materiil. Dunia ini kasat inderawi. Bisa dilihat, didengar, diraba, dirasa maupun dibaui baik materinya atau gejalanya. Meminjam bahasa komputer atau gadget canggih lainnya, dunia dalam manifestasi ini adalah hard ware atau perangkat keras. Yang kedua, dunia sebagai soft ware atau perangkat lunak. Dunia dalam manifestasi ini dapat dipandang sebagai ruhnya. Sang ruh berupa aneka ragam program yang dimasukkan di dalamnya. Piranti keras tidak akan jalan tanpa piranti lunak. Dalam konteks ini, dunia dalam manifestasi hard ware tidak akan on tanpa diinstal soft ware dalam bentuk beragam file program yang disebut sunnatullah. Bukan saja tidak akan ada, tetapi juga tidak akan jalan. Tidak akan operasional. Realitas materi tidak akan bisa dibayangkan wujud dan bentuknya bila tidak bersenyawa dengan sunnatullah.

Secara ringkas sunnatullah dapat diikhtisarkan sebagai keseluruhan syari’at Allah yang mengatur, menggerakkan, menjalankan, menertibkan, menyeimbangkan, mengutuhkan kendaraan raksasa yang bernama alam semesta beserta seluruh isi dan muatannya. Tidak ada ruang atau bahkan celah ruang sesempit apapun yang tidak terjangkau sunnatullah. Demikian juga untuk celah waktunya. Termasuk dalam lingkup sunnatullah ini adalah keseluruhan hukum, aturan, ketetapan, ketentuan, pola-pola hubungan dan semacamnya. Entitas penggerak ini juga menjadi operator hubungan antar makhluk hidup yang ada di dalamnya yang meliputi puspa ragam flora dan fauna serta manusia. Untuk umat manusia tentu diberi tambahan kelengkapan berupa hukum-hukum kemasyarakatan, norma, nilai dan semacamnya yang semua ini ada dalam sunnatullah. Bila ada aturan-aturan tak tertulis yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat juga dapat dipandang sebagai sunnatullah. Pendek kata, dunia dalam seluruh manifestasinya termasuk manusia di kelola oleh Allah melalui mekanisme sunnatullah. Khusus untuk umat manusia ada tambahan, Adam dan seluruh anak cucunya juga dibekali sunnatullah yang spesifik berupa wahyu-wahyu Allah. Semua wahyu Allah yang terkodifikasi dalam kitab suci samawi juga dapat diapandang sebagai soft ware untuk mengatur kehidupan manusia. Bagi manusia ini suatu kehormatan sekaligus tanggung jawab.

Keseluruhan dari apa yang disebut makhluk tidak bisa mengelak dari genggaman sunnatullah. Semua ciptaan Allah berada di bawah pengelolaan dan kendali sunnatullah. Di titik manapun dan kapan pun alam semesta ini berada dalam jangkauan dan pengaruh sunnatullah. Untuk melihat seberapa besar pengaruh sunnatullah dalam persoalan ini ada baiknya dilongok pemaparan berikut.

Di sini sunnatullah perihal hukum-hukum sains bisa dipakai sebagai cara untuk memulai. Sebagaimana diketahui, dunia dalam manifestasi materiil, tanpa menyisakan perkecualian, terbangun dari satuan penyusun terkecil yang disebut atom. Sains menyebutnya sebagai atom. Atom inipun tersusun dari inti atom dan kulit atom. Ada atom yang majemuk susunannya, ada pula yang sederhana. Walaupun kecil secara ukuran, setiap butir atom dijaga, dikelola, diatur dan dikendalikan oleh sunnatullah.

Yang bertanggung jawab menjaga keutuhan atom demi atom melalui keutuhan intinya adalah hukum nuklir kuat. Hukum, sains juga menyebutnya sebagai gaya, ini mengikat keutuhan inti atom. Tidak terbayangkan bagaimana rupa alam semesta ini bila gayaini sedikit saja lebih kuat. Semua inti atom akan bertabrakan. Dan bila semua demikian alam semesta hancur. Tidak terkecuali manusia. Atau bila sedikit saja lebih lemah, intim atom akan saling melepaskan diri, berhamburan tidak terkendali. Alias hancur. Bila gaya yang bekerja tidak menyimpang, keutuhan atom terjaga, alam semesta bisa berjalan dengan baik. Penting untuk direnungkan bahwa ini baru jangkauan pengaruh sunnatullah fasal gaya nuklir kuat. Baru satu jenis sunnatullah saja sudah bisa menyodorkan pilihan: alam semesta hancur atau utuh. Belum yang lain-lain.

Di samping keutuhan inti atom terjaga, keseimbangannya juga harus tetap terjaga. Untuk keseimbangan ini diamanatkan kepada gaya nuklir lemah yang merupakan sabuk pengaman atom. Tidak ada yang menginginkan bila segala sesuatunya tiba-tiba terurai atau memancarkan gelombang sinar-sinar berbahaya. Lebih-lebih bagi makhluk hidup. Apa jadinya bila semua ini mengalami perurairan tak terkendali? Di sinilah jangkauan kekuatan sunnatullah tentang gaya nuklir lemah. Sungguh tidak terbayangkan bila gaya ini mogok kerja sejenak saja.

Bukan hanya itu, setiap butir atom yang sungguh renik itu masih dijaga dan dirawat gaya lain, dalam hal ini gaya elektromagnetik. Gaya ini yang mengelola keselarasan inti atom dan elektron yang menjadi kulitnya, agar bekerja di tempatnya masing-masing. Wilayah kekuasaan gaya ini meliputi wilayah kelistrikan setiap atom. Elektron keluar dari suatu kulit atom atau masuk ke dalam kulit atom, yang berarti pindah dari suatu atom ke atom tetangganya, inilah yang merupakan fenomena kelistrikan. Perubahan kekuatan kecil saja pada gaya ini akan membuat sia-sia bila membayangkan adanya alam semesta lengkap dengan seluruh keindahannya. Sedikit saja lebih kuat, inti atom dan elektronnya akan lengket dan lekat. Alam semesta akan mengalami pengerutan terus menerus tak terkendali hingga akhirnya runtuh. Atau sedikit saja lebih lemah, kulit-kulit atom akan berlepasan. Tidak mungkin ada atom tanpa elektron. Dunia ambruk. Inilah jangkauan pengaruh sunnatullah mengenai gaya elektromagnetik.

Gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetik ini bekerja di wilayah atom. Suatu wilayah super renik yang merupakan semacam keluarga terkecil, yang tidak bisa dibagi-bagi lagi, yang dikenal di dunia ini. Penyusun atom memang berupa bagian demi bagian yang lebih renik yang dikenal sebagai proton, netron, quark, gluon juga elektron. Tetapi masing-masing partikel sub-atomik ini tidak membentuk semacam keluarga melainkan dirinya sendiri. Elektron sebagai sebuah satuan tidak memiliki semacam keluarga melainkan dirinya sendiri, misalnya. Demikian juga yang lain. Tetapi atom sebagai sebuah satuan memiliki semacam keluarga, yaitu: partikel-partikel sub-atomik tadi.

Walaupun ketiga gaya di atas bekerja di wilayah super renik, atom, tetapi kekuatannya tidak bisa diremehkan. Untuk tidak dilupakan bahwa materi alam semesta seisinya ini, termasuk manusia, tersusun dari satuan-satuan keluarga terenik tesebut. Tersusun dari atom-atom.

Tidak usai dari apa yang sudah ada, Allah juga menggenapkan perjalanan sejarah alam semesta seisinya dengan gaya tarik menarik antar materi. Disebut juga gaya gravitasi. Gaya yang mendapat amanat menjaga keutuhan alam semesta tetap utuh inilah satu-satunya yang dapat dirasakan sehari-hari oleh manusia secara langsung. Gaya gravitasi ini bertugas membuat tata surya, bintang-bintang, gugusan bintang-bintang, gugus dari gugusan bintang-bintang di alam semesta ini tetap berjalan dan bekerja di tempatnya masing-masing dan dalam lintasan teratur. Karena itu pula bumi dan kawan-kawan planet lain dalam keluarga matahari / tata surya tetap bekerja dalam lintasan masing-masing. Manusia bisa berjalan ke sana ke mari, melakukan banyak kegiatan, juga karena anugerah gaya ini. Perubahan kekuatan pada gaya ini sungguh akan meluluhlantakkan alam semesta. Sedikit saja lebih lemah, alam semesta akan bercerai berai. Masing-masing materi alam semesta melepaskan diri dari orbit yang sudah ditentukan karena pengikatnya melemah. Alam semesta runtuh!. Atau sedikit saja lebih kuat, hanya akan menyisakan kengerian dahsyat. Bintang-bintang saling bertabrakan. Bumi dan planet-planet saudaranya tersedot matahari untuk kemudian tertelan. Manusia akan melesak ke dalam kerak bumi dan begitu. Masing-masing bintang tersedot oleh inti galaksi dan demikian seterusnya. Tidak ada yang tersisa!. Ini jugalah sunnatullah dengan jangkauan luar biasa ikhwal gaya gravitasi. Dan nyata bahwa tidak ada setitik tempat dalam setitik waktu yang bebas dari pengaruh dan jangkauan sunnatullah.

Berbeda dengan ketiga gaya di atas, gaya gravitasi bekerja di wilayah atom sekaligus kumpulan dari atom-atom itu sendiri. Kumpulan dari atom-atom adalah materi, besar maupun kecil. Di wilayah atom ada teori tentang gaya gravitasi. Di wilayah materi, dalam berbagai ukuran, teori tentang gaya gravitasi terasa lebih nyata kehadirannya di hadapan inderawi manusia secara langsung. Bila kumpulan dari atom-atom itu adalah bumi, atau diri manusia itu sendiri, maka gaya gravitasi sungguh terasa hadir bagi manusia.

Kiranya, dari perspektif gaya-gaya dasar di atas adalah mudah bagi Allah menciptakan kiamat dalam arti sebagaimana dituturkan dalam Al-Qur’an, walaupun sesungguhnya cara Allah menciptakan kiamat adalah cara yang manusia tidak tahu. Memang hanya dengan mengubah sedikit kekuatan dari salah satu gaya-gaya di atas, maka alam semesta dan seluruh pesonanya akan runtuh. Ternyata juga, alam semesta seisinya yang dihuni manusia ini dikelola dengan keseimbangan sunnatullah atau empat gaya dasar di atas dalam takaran angka-angka keseimbangan yang sangat kritis. Sedikit saja gaya nuklir kuat atau gaya mana saja, atau gaya ini bekerja sama dengan gaya-gaya lain, lebih kuat atau lebih lemah maka dunia akan runtuh. Kiamat!. Tetapi, subhanallah, alam semesta yang dikelola dengan angka-angka keseimbangan kritis ini ternyata sudah berlangsung kira-kira 12 milyar tahun. Sekian lama angka-angka kritis tersebut terjaga dengan baik.

Dunia super renik yang disebut mikrokosmos dan dunia yang berukuran di luar ukuran renik yang disebut makrokosmos dapat dibuktikan secara nyata tidak dapat berjalan sendiri melainkan dikelola oleh sunnatullah. Dengan sunnatullah semua berjalan dan operasional.

Sekarang gilirannya melakukan telisik pada dunia manusia. Selain anugerah sunnatullah qauliyah yang bersumber dari kitab-kitab suci samawi, dalam diri manusia juga bekerja dan terselenggara sunnatullah kauniyah yang berupa empat gaya dasar di atas. Semua gerak dan aktifitas manusia terhubung dengan empat gaya fundamental tersebut. Badan manusia tersusun dari atom-atom sebagai penyusun terenik. Dalam segenap manifestasinnya, operasional atom-atom penyusun tersebut dikelola oleh gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, gaya elektromagnetik dan gaya gravitasi. Dalam hubungannya dengan planet bumi sebagai tempat berpijak secara langsung dan fakta bahwa manusia sebagai materi tersusun atas bagian demi bagian, maka gaya gravitasi memang menjadi gaya yang paling awal disadari.

Telisik secara terpisah dan spesifik tentang gaya elektromagnetik dalam diri manusia akan memperlihatkan gambaran menakjubkan. Manusia bergerak atau melakukan kegiatan apa saja, baik berupa gerakan-gerakan besar yang membutuhkan tenaga besar maupun gerakan kecil, semisalnya, sekedar mengedipkan mata tidak pernah melalui jalur di luar jalur kelistrikan tubuh. Semua melalui jalur ini baik gerakan yang manusia sendiri secara sadar mengendalikannya atau yang berada di luar kendali (misal: gerakan jantung, usus dan lain-lain).

Dengan kecermatan tinggi, ketelitian yang jeli, pada tingkat rinci yang mengagumkan, pesan-pesan dunia luar masuk ke pusat kendali di otak melalui pintu gerbang panca indera yang diantar melalui jaringan syaraf yang rumit dalam bentuk impuls-impuls listrik. Sebaliknya otak memberikan respons, memerintahkan otot dengan jaringannya yang majemuk untuk bergerak juga melalui jaringan syaraf yang rumit. Perintah disampaikan juga dalam bentuk impuls-impuls listrik. Bila semua ini menyangkut kelistrikan, maka gerak dan kegiatan manusia sehari-hari berada dalam genggaman sunnatullah fasal gaya elektromagnetik. Bila mengangankan berkegiatan di luar bingkai ini, hanya tersedia satu jawaban yakni: mustahil. Demikian jugalah mekanisme gerak terjadi pada dunia fauna umumnya. Semua melalui aspek kelistrikan tubuh masing-masing. Tanpa manusia menyadarinya, atau merasa kesakitan karenanya, aspek ragawi manusia berseliweran dan disesaki oleh impuls-impuls listrik yang terselenggara secara tertib dan teratur. Tidak terjadi semacam hubungan arus pendek. Padahal struktur susunan syaraf manusia dan seluruh organ yang terhubung dangan struktur syaraf tersebut sungguh kompleks dan rumit. Menakjubkan memang.

Adapun mengenai aspek ruhani manusia, atau hal-hal yang berada di luar aspek jasmaninya, juga terselenggara mekanisme kerja sunnatullah. Tidak ada yang tidak tersentuh oleh mekanisme ini. Intinya, manusia dalam semua manifestasinya, tidak dan tidak bisa terlepas dari genggaman sunnatullah.

Sebagai tambahan, hukum-hukum atau gaya-gaya dasar yang dikenal dalam sains memang hanya empat sebagaimana diuraikan sekilas di atas. Padahal hukum-hukum yang ditemukan sains banyak. Misal, hukum hidrodinamika, hukum fluida, hukum gerak materi atau mekanika, hukum optika, dan seterusnya. Penting untuk digarisbawahi bahwa sebanyak apapun hukum-hukum sains yang ada semua itu tetap berlandaskan dan didasari empat hukum-hukum dasar yang ada. Semua itu merupakan derivasi dari keempat gaya fundamental di atas. Keempatnya menurunkan banyak hukum sains.[69] Satu saja dari keempatnya tidak ada, maka akan meniadakan semuanya. Dan semua itu sunnatullah.

Tampak sangat jelas bahwa sunnatullah bekerja, merawat, mengelola, menertibkan, menyeimbangkan, mengatur, juga menjadi tenaga bagi semua apa yang berwujud makhluk di seluruh ruang, di seluruh waktu. Alam semesta seisinya operasional berasal dari bekerjanya berbagai sunnatullah yang berpadu, bekerja sama dan bekerja bersama-sama sekaligus. Bekerja pada semua tingkatan besaran matri, dari satuan terenik yang tidak lagi terlihat oleh mata hingga yang besarnya tidak lagi termuat dalam pikiran manusia untuk membayangkan besaran angka-angkanya. Dimanapun dan kapanpun dalam dimensi ruang dan waktu, di situlah samudera luas sunnatullah bertahta.

Sebagai ilustrasi, jika sebuah batu diletakkan di sembarang tempat dan dibiarkan tidak disentuh, maka sang batu akan tetap berada di tempat itu. Bila ada yang berpikir bahwa tidak ada apa-apa, tidak terjadi apa-apa atau tidak terselenggara apa-apa atas diri sang batu, maka telah terjadi pemikiran yang salah. Di dalam diri sang batu yang diam tadi sesungguhnya telah bertaburan berbagai sunnatullah yang bekerja, bekerja sama dan bekerja bersama-sama. Itu baru sebuah batu yang diam. Bila batu yang diam itu adalah seorang manusia yang sibuk beraktifitas, maka perkara sunnatullah-nya akan menjadi jauh lebih kompleks.

Di atas semua hal, alam semesta seisinya sebagai hard ware dan sunnatullah sebagai soft ware-nya adalah sama dalam satu hal, yakni sama-sama sebagai makhluk ciptaan. Bila diruntut sampai ke sebab terakhir, realitas hard ware seisinya dikelola oleh Allah melalui soft ware ciptaan-Nya. Bila pun diandaikan pengelolaan butir atom demi butir atom terselenggara tanpa melalui jalur sunnatullah, Allah tetap saja tanpa halangan sedikitpun berkuasa menjalankannya. Kiranya memang jauh lebih agung dan lebih elok dimana Allah mencukupkan hal demikian, pengelolaan segala makhluk, dengan memerintahkan sunnah-Nya. Dengan atau tanpa melalui mekanisme sunnatullah, Allah tetap berhak atas sebutan Sang Rubbubiyah. Pencipta dan Pengelola Sejati atas semua ini. Karena Perancang dan Pencipta hard ware dan soft ware alam semesta seisinya tidak lain adalah Allah juga.

Bila duet dimensi ruang dan waktu adalah satu hal, maka keselarasan, keseimbangan, keteraturan, kesinambungan dan semacamnya atas segenap makhluk Allah Sang Rubbubiyah adalah hal berikut. Bahwa semua ini dikendalikan, dikelola, dijaga, dirawat, diatur, dan seterusnya, dengan cara sebaik-baiknya oleh sunnatullah tanpa jeda. Sejenak saja sunnatullah tersebut beristirahat, lengah atau malah mogok kerja maka alam semesta seisinya ini akan luluh lantak. Ambruk!. Riwayat panjang dunia ini punah ditelan sesuatu yang tidak terdefinisikan. Punah ditelan ketidakmengertian. Tidak ada lagi cerita tentang siapa, apa, kapan, dimana dan mengapa dalam gambaran bagaimanapun.

  1. Manusia Hidup dalam Samudra Sunnatullah

Sunnatullah jauh lebih dahulu ada daripada sejarah kemunculan umat manusia di muka bumi. Bila mengacu usia alam semesta, setidaknya sejauh yang diketahui manusia, sunnatullah sudah mulai mengemban amanat tanpa  jeda sejak kurang lebih 12 milyaran tahun silam. Masa tugas ini seusia dengan penciptaan langit, bumi dan semesta isinya. Karena penciptaan hard ware dan soft ware alam semesta seiringan. Sementara sejarah kemunculan manusia baru dalam kisaran puluhan ribu tahun silam.

Di dalam hamparan sunnatullah yang berada dalam dimensi ruang dan waktu itulah manusia diciptakan.“Kun !”. Lalu ada, tumbuh dan berkembang secara “Fa Yakun . . .”. Tidak tersedia pilihan bagi manusia berangan hidup di luar rumah besar yang bernama alam semesta yang sudah ada software-nya sejak mula. Sedangkan apa yang ada atau terjadi di luar rumah besar ini saja tidak bisa didefinisikan.

Kenyataan bahwa manusia berada dalam genggaman lautan sunnatullah dan tergenggam erat di dalamnya, adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Di dalam diri setiap manusia saja bekerja dan terselenggara semua gaya dasar, seperti deskripsi di atas,sedangkan manusia tidak bisa mengelak darinya. Ini belum lagi yang berupa gaya atau hukum sains yang diturunkan dari keempat gaya dasar tersebut yang secara jumlah tidak sedikit. Berarti di dalam setiap diri manusia bertahta sunnatullah.Sama seperti apa yang ada di luar diri manusia. Semua sunnatullah.

Sebagaimana alam semesta seisinya, manusia terbangun dari bagian demi bagian. Dari bagian besar, lalu kecil dan berujung ke satuan bagian renik berupa atom. Atom itu sendiri terbangun atas inti dan kulit. Keutuhan, keteraturan, keseimbangan dan kemenetapan setiap butir atom berarti keutuhan dan keberlangsungan eksistensi manusia. Hal demikian berlaku juga pada alam semesta. Penyimpangan sunnatullah yang mengelola butir-butir atom berarti kehancuran bagi semua. Jadi keutuhan atau kehancuran manusia sebagaimanaalam semesta seisinyabisa dimulai dari bagian pembangun yang paling renik yaitu atom.

Dalam sains, susunan atom-atom membentuk unsur. Susunan unsur-unsur membentuk molekul. Susunan molekul-molekul membentuk senyawa. Susunan senyawa membentuk zat. Susunan zat-zat membentuk materi. Apa yang dalam dunia biologis bisa berarti jaringan atau organ dan semacamnya. Muncullah kehidupan biologis baik berupa aneka flora dan fauna. Manusia juga. Tidak ada pengecualian, kehidupan biologis memang dikelola oleh sunnatullah atas amanat-Nya. Keseimbangan yang terpelihara di dalam ranah biologis juga berada dalam tataran keseimbangan besaran angka-angka yang amat tipis. Angka-angka kritis. Sedikit saja terjadi perubahan kekuatan pada sunnatullah, berakibat keruntuhan.

Mempertajam pemahaman tentang manusia dari perspektif yang lebih menukik, sunnatullah memang menguasai dan mengendalikan makhluk berakal ini secara ketat, tanpa manusia menyadarinya. Bahkan kebanyakan manusia tidak menyangka bahwa setiap gerak-geriknya, dari ujung kaki sampai ujung rambut, berupa gerakan besar maupun sekedar ingsutan lembut, berada di bawah kendali dan pengaruh sunnatullah yang berupa hukum-hukum atau gaya-gaya dasar dan hukum-hukum yang menjadi derivasinya. Semua bekerja sama dan bekerja bersama-sama.

Dari perspektif sains Fisika, manusia tersusun dari penyusun tereniknya berupa atom-atom sebagaimana uraian sekilas di atas. Tetapi dari sains Biologi, penyusun terkecil adalah sel-sel. Sel merupakan organisasi yang kompleks tetapi teratur. Semua sel mengandung sejumlah kromosom. Setiap sel manusia mengandung 23 pasang kromosom. Kromosom berupa gen-gen, disebut juga DNA,yang juga kompleks dalam hal susunan dan jumlahnya.

Gen dapat dibanyangkansebagai seutas pita benang panjang yang di dalamnya termuat milyaran informasi atau kode genetik atau juga semacam program hidup. Pita genetik ini memang panjang tetapi tersusun sedemikian rupa sehingga bisa terkemas dalam volume ruang yang sempit. Dunia genetika ini juga semacam soft ware biologis. Untuk kromosom setiap sel manusia tidak kurang dari 70 milyar kode genetik walaupun yang terpakai untuk hidup sehari-hari hanya sekitar 15%-nya. Artinya, manusia masih menyimpan 85% kekuatan hidup yang masih berupa potensi. Semakin ke depan manusia akan semakin luar biasa. Ini tidak terlalu jauh berbeda dengan komputer. Program atau soft ware komputer sangat banyak. Tetapi tidak lebih dari 20% yang digunakan oleh oleh rata-rata user atau pengguna. Bisa tidak lebih dari 20% saja sudah bisa disebut mahir.

Gen-gen merupakan harta warisan yang tidak bisa ditolak dari induk atau orang tua pada keturunannya karena merupakan pengkopian dari separuh gen ayah dan separuh gen ibu yang digabungkan. Ini juga merupakan semacam cetakan masing-masing orang. Ada orang yang berhidung mancung karena sebagian kecil dari 70 milyar kode genetik yang bertugas membentuk hidung mancung tercetak kode genetik hidung mancung. Demikian juga sebaliknya yang pesek. Dan begitu seterusnya. Tampilan lahiriah lengkap hingga ke bentuk rinci, sifat, penyakit (khususnya yang bersifat keturunan), kecenderungan, peluang panjang-pendeknya umur menurut jenis makhluk, pola tingkah laku dan semacamnya dapat dikatakan sudah tercetak (dapat dibaca sebagai sudah tertulis atau sudah tertakdir sebelum dilahirkan) dalam cetak biru susunan gen-gen. Bisa disebut sebagai blue print genetik.[70] Ini juga yang akan diwariskan secara turun-temurun hingga batas waktu yang belum diketahui.

Walaupun dimungkinkan terjadinya semacam perubahan, pergeseran atau penyimpangan gen-gen karena sebab-sebab tertentu, semua kehidupan biologis tidak dapat dilahirkan tanpa cetak biru genetik dimaksud. Seperti yang sudah-sudah, ini juga sunnatullah. Sangat mengikat adanya.

Tidak hanya itu, gerak-gerik hati, angan, hasrat, pikiran maupun semua yang jiwani atau batiniah atau juga ruhiyah lainnya, walaupun berupa geliatan kecil dan lembut, juga tidak lepas dari kurungan sunnatullah. Sebagaimana dimafhumi, semua statement samawi, berupa wahyu Allah, adalah sunnatullah dan ini berhubungan langsung dengan aspek jiwani manusia. Belum lagi bahwa sangat erat hubungan perilaku hal-hal yang berada di wilayah batiniah diri manusia dalam multi pemikiran. Ada interaksi kuat antara perilaku lahiriyah dan perilaku batiniyah manusia di satu sisi dan diri manusia dengan hal-hal lain di luarnya di sisi sebelahnya. Atau setidaknya semua ini terjadi di dalam lingkup dimensi ruang dan waktu yang sudah nyata di dalamnya bertahta sunnatullah.

Tidak terpungkiri bahwa manusia yang merupakan manifestasi utuh dari aspek lahiriyah dan batiniah ini mengenal adanya rupa-rupa mekanisme, sistem, aturan, kaidah, pola-pola hubungan, nilai, syari’at dan semacamnya. Manusia hidup dengan dan di dalamnya. Seluruh indera manusia menjadi pintu gerbang sekaligus jalan utama pesan dan impuls untuk semua interaksi yang terjadi. Hal-hal seperti ini merupakan sunnatullah juga. Di samping diri manusia bertahta sunnatullah, multi interaksinya pun merupakan rangkaian sebab-akibat dari hamparan sunnatullah di dan dari sekelilingnya. Jelas kiranya bahwa diri manusia tergenggam sunnatullah dan bereksistensi di samudera luas sunnatullah.

Manusia tidak memiliki kemungkinan hidup dan bereksistensi di luar ranah sunnatullah. Bila ada impian ke sana dipastikan tidak bisa dirumuskan bentuk dan polanya. Bilapun ada perkecualian itu hanya satu dan satu-satunya, yakni Allah. Pencipta dimensi ruang dan waktu. Pengendali dan Penguasa semesta sunnatullah.

Dalam pelataran persoalan lain, interaksi antara manusia dengan sesamanya atau dengan segenap makhluk lain bersebab dan atau berakibat bagi adanya keharusan / kebolehan atau ketidakharusan / ketidakbolehan tingkah laku. Di wilayah inilah segenap apa yang disebut syari’ah, hukum, norma, nilai, undang-undang, aturan dan semacamnya ada dan memang diperlukan. Ketiadaannya berarti kekacauan multi interaksi yang ada.Perangkat yang mengatur berbagai bentuk interaksi tersebut adalah sunnatullah juga.

Genggaman sunnatullah dalam ilustrasi yang berbeda dapat ditengok dari kehidupan pola hidup maju manusia dewasa ini. Bahwa sering manusia modern dipandang sebagai seorang yang terpenjara di dalam struktur-struktur sosial dan politik. Dan memang, sering kita tak dapat memergoki struktur-struktur yang menguasai kita. Adakah kekuasaan itu di dalam tangan segelintir usahawan?. Bila keadaan mereka kita selidiki, maka ternyatalah merekapun dikendalikan oleh kekuasaan strukturil lainnya, seperti hukum-hukum pasaran uang internasional, para manajer di atas, para penasehat reklame, mereka yang membentuk pendapat umum. Adakah kekuasaan itu di dalam tangan perwakilan rakyat?. Tetapi merekapun sering merasakan dirinya sebagai pelaksana belaka mengenai advis-advis dari para ahli partai, badan musyawarah sosial-ekonomi, biro-biro perencanaan, media massa. Dan dengan demikian kita terus menerus berputar dalam sebuah lingkaran, karena setiap golongan merasa terpengaruh oleh suatu kekuasaan di luar dirinya sendiri. Maka dari itu struktur kekuasaan tidak terdapat dalam tangan satu golongan tertentu saja, melainkan merupakan endapan dari seluruh jaringan interaksi antara macam-macam golongan, kepentingan dan mentalitas. Dan dalam endapan itu dengan samar-samar kita dapat melihat suatu kekuasaan yang tak berwajah.[71] Nyata bahwa seluruh aktifitas manusia, dalam semua perkara, tidak muncul dari sebuah ruang hampa.

Di dunia ini ada satu jenis makhluk yang sangat dimuliakan oleh Allah dibanding makhluk-makhluk lain. Ia adalah spesies manusia. Salah satu bukti pemuliaan atas diri manusia adalah diturunkannya qaul Allah untuk umat manusia. Tidak lain adalah wahyu-wahyu samawi yang terkodifikasi dalam kitab-kitab suci samawi. Garis besar isinya adalah memberi penekanan agar manusia senantiasa berada dalam garis hidup yang ma’ruf dan menjauhkan diri dari garis hidup yang mungkar. Bila ini dipenuhi manusia memenangi perjalanan hidup dengan akhir yang bahagia dan mulia dalam ridla-Nya. Qaul Allah ini juga sunnatullah adanya. Sunnatullah qauliyah sebagaimana disinggung di atas.

Manusia hidup di dunia yang di dalamnya bertahta sunnatullah. Kanan kiri, depan belakang, atas bawah, diri manusia berupa sunnatullah. Manusia sendiri adalah sunnatullah. Aturan hidup manusia juga sunnatullah. Tingkah laku manusia merupakan pantulan dari sunnatullah adanya. Semua serba sunnatullah. Dan sunnatullah, dalam semua manifestasinya, adalah entitas ciptaan. Ciptaan Allah.

  1. Determinisme dan Fatalisme dalam Genggaman Sunnatullah

1- Manusia: Antara Diri Ruhani dan Diri Jasmani

Allah menciptakan segala sesuatu yang ada ini ada yang bersifat materi, ada yang bersifat non-materi. Apapun itu, semuanya berada dalam derajat purwarupa yang menakjubkan. Secara umum, realitas materi bisa didria secara inderawi. Realitas non-materi tidak bisa didria secara inderawi. Ghaib. Walaupun tidak kasat inderawi nyata adanya, gejalanya bisa dirasakan. Ruh manusia adalah salah satunya. Malaikat, jin dan syetan adalah lainnya. Bila ada pandangan bahwa dunia nir-kasat tersebut tidak ada, atau hanya semacam rumus pengertian yang bermanfaat untuk membantu membuat jawaban sementara atas persoalan-persoalan yang masih gelap, adalah pikiran yang sempit. Alam semesta ini sungguh terlalu luas bila hanya diisihuni oleh realitas materi. Sementara di dunia banyak fenomena yang tidak bisa dijelaskan dengan hanya menggunakan perspektif materi.

Manusia juga menyadari adanya diri lain dalam dirinya selain diri lahiriah. Manusia sungguh merasakan kehadirannya secara nyata. Sesuatu yang berjiwa. Adanya aktifitas kesadaran, perasaan, berpikir, merenung, menghayal dan semacamnya merupakan sesuatu realitas yang selalu mengiringi hidup manusia. Terasa hadir riil. Itulah diri manusia dalam manifestasi non-materinya. Diri ruhaniah. Tidak kurang Al-Qur’an bertutur tentang ruh, disebut jiwa juga, dalam banyak segi. Setidaknya, ini merupakan penggarisbawahan tentang adanya makhluk khusus tersebut.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur” (QS. As-Sajdah (32): 9).

Menjadi jelas bahwa manusia tercipta atas 2 unsur penting yang saling berbeda tetapi saling menggenapi, yaitu unsur jasmani dan unsur ruhani. Walaupun anasir ruh melekat dan bersenyawa dalam diri setiap manusia di sepanjang hayat, namun manusia tidak banyak mengetahuinya melainkan sedikit. Memang tidak terlarang bagi manusia menggali pengetahuan sedalam-dalamnya ikhwal ruh, namun tetap saja yang diperoleh tidak banyak. Salah satu sebab karena tidak bisa dipindai secara inderawi. Tengara untuk hal ini ada dalam Al-Qur’an.

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Isra’ (17): 85).

Hanya Allah yang memiliki pengetahuan tidak terbatas dan rinci tentang ruh. Sebentuk realitas non-materi yang nyata tetapi tidak terpindai inderawi. Dan semata Allah jugalah yang menguasainya.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (QS. Az-Zumar (39): 42).

Setiap manusia mengalami mati. Ada satu jenis kematian yang bisa digunakan untuk membuktikan adanya ruh, yaitu fenomena mati suri. Secara klinis orang yang mengalami kematian jenis ini sudah dinyatakan mati, tetapi beberapa jam kemudian hidup kembali. Tentu ada serangkaian hal menarik yang terjadi dan dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Orang yang mati suri dan yang mati selamanya sebenarnya mengalami fenomena perjalanan ruh yang sama. Yang membedakan adalah pemilik pengalaman mati suri mempunyai kesempatan menceritakan kembali pengalaman langkanya orang lain. Yang mati selamanya, kesempatan semacam otomatis ikut terkubur.

Dalam peristiwa kematian ada sesuatu yang tidak ikut mati, termasuk yang mati-suri. Sesuatu ini merupakan sebentuk kesadaran. Sesuatu ini terlepas dan terpisah dari jasad matinya. Sesuatu ini berada belum jauh dari jenazahnya, mengambil titik kedudukan sedemikian rupa sehingga menguntungkan sudut pandang. Titik kedudukan seperti ini cenderung di atas seperti mengawang di udara, tetapi tidak terlihat oleh orang-orang di bawahnya. Sesuatu tersebut selalu memperhatikan jenazahnya yang berada di bawah juga melihat apa dan siapa yang ada di sekeliling jenazah ditambah peristiwa-peristiwa di seputarnya. Sang sesuatu memang bisa melihat dan memperhatikan apa yang ada di bawah dengan sebaik-baiknya, seperti tidak boleh ada yang terlewatkan.Hal-hal seperti ini direkam oleh sang kesadaran.

Ketika orang yang mati-suri hidup kembali, lalu ditanya apa saja yang dirasakan atau yang terjadi di sekeliling jenazahnya, orang tersebut ternyata bisa menjawab dengan rinci dan tepat. Demikian juga ketika ditanya siapa saja yang ada di sekeliling jenazahnya ketika dia masih mati dan apa saja yang dilakukannya, orang tersebut juga bisa menjawab dengan rinci dan tepat. Kira-kira seperti itu jugalah setiap ada peristiwa mati-suri. Selalu tepat dan rinci dalam menjawab. Informasi untuk jawaban-jawaban tepat, bisa rinci bila yang diminta rinci, tentu tidak diperoleh dari sang jenazah yang dikerumuni banyak orang.

Apa yang bisa disimpulkan dari setiap fenomena tersebut adalah jelas. Bahwa sesuatu bentuk kesadaran, yang mengawang di udara di ketinggian menguntungkan dan memperhatikan apa saja yang di bawahnya tidak lain adalah diri manusia yang nir-kasat inderawi. Diri lain dari sang jenazah yang tidak ikut mati. Diri tersebut adalah ruh manusia. Ini bukti tersendiri bahwa alam ruhani memang ada secara nyata.

Diri ruhani manusia adalah satu hal, sementara diri jasmaninya lain hal. Walaupun merupakan dua hal yang berbeda, namun di antara keduanya terdapat hubungan dan pertalian amat erat. Saling mempengaruhi. Saling berinteraksi. Bila yang satu ada masalah, yang lain turut merasakannya. Demikian juga sebaliknya.

Ada satu hal yang juga menarik. Hubungan erat dan kental antara diri ruhani dan diri jasmani tidak serta merta membuat mudah mengenali titik persinggungan antara keduanya. Manusia merasakan ada ruh dalam dirinya. Manusia juga merasakan secara nyata bahwa sang diri ruhani seperti bertempat tinggal di dalam diri jasmaninya. Mengatakan bahwa seluruh aspek ragawi manusia adalah titik singgungnya merupakan lontaran yang tergesa-gesa. Adanya interaksi antara ruh dan jasad itu juga nyata. Tetapi belum ada pengetahuan tentang titik temu antara dua hal yang sama-sama diri manusia tetapi berbeda manifestasi di atas. Belum (atau tepatnya tidak) terpetakan letak persentuhan antara ruh dan jasad. Pemetakan ini juga tidak mungkin dilakukan karena sejumlah sebab yang masuk nalar.

Di bawah asumsi bahwa titik temu dua diri manusia tersebut merupakan pintu gerbang komunikasi dan interaksi. Andai diangankan titik temunya ada di anggota-anggota badan jasad, kedua tangan misalnya, terbukti badan ruh tetap dirasakan kehadirannya secara utuh tanpa ada perasaan terpotong walaupun kedua tangan tadi terpotong. Demikian juga adanya walaupun jaringan-jaringan badani bagian dalam dibedah dan diangkat.Atau bahkan separuh otak kanan atau otak kiri diambil (bila kedua belah sisi otak diambil berarti kematian dan gagal mencari pemetaan). Tetap saja badan ruh ada dan dirasakan utuh. Bila indra penglihatan diambil, badan ruh masih dapat merasakan sensasi melihat. Begitu seterusnya.

Atau bila diangankan bahwa struktur dan jaringan syaraf manusia yang menjadi titik temu, terutama yang berada di kepala yang berupa otak, terasa seperti jawaban yang dekat. Tetapi tidak sesederhana itu halnya. Syaraf pada dasarnya adalah neuronneuron yang memiliki bagian-bagian penting berupa nerit dan dendrit. Impuls-impuls syaraf sebenarnya lebih merupakan perpindahan elektron-elektron dari atom-atom penyusun syaraf. Perjalanan lalu lintas elektron, dari atom ke atom tetangganya, tersebut sangat cepat tetapi manusia tidak merasakannya. Syaraf dalam perspektif ini hanyalah materi, tidak memiliki kesadaran. Yang menakjubkan, manusia memiliki kesadaran melihat ketika mata melihat, sadar mendengar ketika telinga mendengar dan begitu seterusnya. Padahal yang memiliki kesadaran ini adalah badan ruh, bukan badan jasad. Ada semacam lompatan, yang tidak terjelaskan dengan baik, dari badan jasad ke badan ruh. Bila ini dianggap lebih dekat sebagai titik temu, tentunya sudah harus ada penjelasan secara memuaskan tentang semacam lompatan-lompatan tersebut.

Walaupun tidak mudah dipetakan tetapi bisa dirasakan riil bahwa (tentunya) ada sesuatu yang menghubungkan antara kedua diri manusia tersebut. Ada semacam pintu gerbang yang berpusat di suatu tempat di tubuh jasad manusia yang menghubungkan tubuh ruhnya sehingga interaksi terselenggara. Bukti adanya interaksi timbal balik antara keduanya, sebagai misal, badan ruh yang berpikir tetapi yang melaksanakan anggota badan fisiknya. Sebaliknya, badan jasad mengalami sakit pinggang tetapi yang merasa sedih adalah badan ruhnya. Tidak ada cerita, misalnya, daging di tangan yang bersedih atau sebaliknya. Jadi pertanyaan belum terjawab secara memuaskan. Tetapi dengan kerangka berpikir positif, ada baiknya dianggap bahwa ilmu pengetahuan manusia belum sampai di situ. Meskipun Al-Qur’an mengatakan bahwa manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh melainkan sedikit. Siapa tahu apa yang bagi Allah sedikit, bagi manusia sudah termasuk potensi jawaban tersebut.

Ada anugerah kemampuan luar biasa yang dimiliki diri ruhani manusia ini, yaitu mampu menembus sekat-sekat dimensi ruang dan waktu. Sejauh-jauh manusia bergerak dan melangkah tetap saja diri jasmaninya terikat secara tetap di salah satu anggota tata surya yang bernama bumi (atau anggota tata surya lain pada suatu saat nanti). Yang mengagumkan, ruh manusia dengan mudah mengatasi hambatan kedua dimensi tersebut. Ketika manusia berpikir menjelajah tepian alam semesta, misalnya, aspek ruhani manusia terasa hadir di tepian tersebut. Di detik itu  juga, tanpa terhambat dimensi-dimensi tadi. Bukan itu saja, diri manusia yang khas ini juga mampu menjelajahi kedalaman setiap matri, besar maupun kecil. Ketika berpikir menjelajahi dunia atom, aspek ruhani manusia juga terasa nyata hadir di antara atom-atom tersebut. Dalam semua penjelajahan ini manusia merasakan kehadiran dirinya ikut ada di sana. Sungguh bisa dirasakan.

Bila hubungan antara diri ruhani dan diri jasmani manusia tidak mudah dipetakan titik temunya, namun bisa digambarkan dalam sebentuk pola hubungan yang lain. Secara umum, apa yang menjadi inti setiap diri manusia adalah diri yang ada di dalam yaitu diri ruhani. Bila ada inti tentulah ada sesuatu yang bukan inti. Untuk manusia itu adalah diri jasmaninya.

Dalam kehidupan bermasyarakatpun diri jasmani acap dinisbahkan sebagai baju bagi diri ruhani. Juga ada kesepahaman umum bahwa yang disebut manusia sejatinya adalah sesuatu yang bersemayam di dalam. Sementara yang tampak secara lahiriah adalah luaran di mana seluruh polesan dan simbol-simbol dilekatkan dan disematkan. Hujjah untuk ini adalah kenyataan bahwa manusia dinilai lebih banyak dari anasir dalamnya dari pada anasir luarnya. Menilai manusia dari sisi luarnya semata ternyata acap berujung kekecewaan. Banyak nash Al-Qur’an dan sabda Rasulullah yang menempatkan sisi dalam dari setiap manusia sebagai titik acuan, sasaran, tinjauan juga penilaian. Dengan kata lain, sisi dalam lebih dinilai sebagai kesejatian manusia dari sisi luarnya. Allah tidak melihat manusia berdasarkan ketampanan atau kecantikan, kekayaan, kekuasaan maupun semua simbol lahiriah yang dimiliki. Allah melihat manusia berdasarkan kebagusan ruhani yang dimiliki. Dengan ungkapan berbeda: berdasarkan ketaqwaannya. Demikian juga cara Rasulullah memandang untuk hal yang sama. Bila tidak terlalu berlebihan untuk digarisbawahi, apa yang lebih disebut manusia adalah apa yang ada di dalam.Unsur yang satu ini senantiasa memberikan perbedaan antara satu orang dengan yang lainnya. Sementara yang luaran adalah jembatan menuju ke kedalaman di dalam. Dan untuk tidak pernah dilupakan bahwa alam ruhani manusia jauh lebih dahulu diciptakan Allah daripada alam jasmaninya.

Secara biologis manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Manusia adalah makhluk dua dimensional. Di satu pihak ia terbuat dari tanah (thiin) yang menjadikannya sebagai makhluk materi, di pihak lain ia juga makhluk spiritual karena ditiupkan ke dalamnya ruh Tuhan. Dengan demikian, manusia menduduki posisi yang unik antara alam semesta dan Tuhan, yang memungkinkan berkomunikasi dengan keduanya.[72]

Seperti disinggung sebelumnya, manusia dalam semua manifestasinya tergenggam erat oleh sunnatullah. Diri jasmani maupun diri ruhani berada dalam genggaman sunnatullah. Belum disebut manusia bila hanya jasadnya saja atau hanya ruhnya saja. Baru disebut manusia, dalam potret utuh, bila diri ruhani bersatu dengan diri jasmani untuk kemudian berdua bersama-sama menerima taklif dari Allah mengemban amanat sebagai abdun dan khalifah di muka bumi. Wacana taklif ini menjadikannya lebih nyata terlihat berbalutan sunnatullah. Sebab taklif juga berhubungan dengan sunnatullah qauliyah. Alhasil, baik manusia sebagai diri jasmani maupun diri ruhani atau secara bersama-sama sebagai diri jasmani sekaligus diri ruhani, untuk sepanjang sejarah hidupnya, selalu berada dalam genggaman sunnatullah. Di titik ini jugalah kehendak dan perbuatan manusia bermuara. Kehendak dan perbuatan manusia tidak terselenggara di sebuah ruang hampa. Senantiasa terkait dengan hal-hal lain.

2- Kehendak dan Perbuatan Deterministik

Perilaku fatalistik sesungguhnya adalah nyata dan merupakan kenyataan umum. Semua ini berlaku dan meliputi seluruh makhluk dalam berbagai jenis, tingkatan dan besaran tanpa ada ruang untuk perkecualian. Apa yang tidak bisa disanggah dari pernyataan ini adalah fakta bahwa sepanjang eksistensi materiil, semua makhluk yang ada di dunia ini berada dalam genggaman sunnatullah. Semua makhluk dalam manifestasi tersebut tidak memiliki pilihan perilaku melainkan yang sudah tertakdir dalam sunnatullah. Sunnatullah perilaku atom demi atom, misalnya, ya seperti itu. Tidak ada pilihan lain. Juga fakta bahwa dominan makhluk ciptaan Allah berupa makhluk dalam manifestasi materiil. Makhluk dalam manifestasi non-materi, atau gabungan dari yang materi sekaligus non-materi, adalah minoritas. Disebut dominan ketika dilihat dalam kerangka universum.

Sepanjang eksistensi fisiknya, eksistensi materiil, perilaku manusia juga fatalistik. Atom demi atom penyusun tubuh manusia, bentuk dan jaringan organ-organ serta mekanisme kerja yang ada di dalamnya, sistem metabolisme, sistem kekebalan, begitu seterusnya, semua itu merupakan dunia perilaku fatalistik.

Di luar manifestasi materiil pun, di sisi lain, ketika manusia memasuki kehidupan bermasyarakat, maka sebagian dari dirinya dihadapkan pada kenyataan fatalistik. Keseluruhan aturan, hukum (ada hukuman tegas dan terukur bagi pelanggarnya), norma (sama seperti hukum namun sangsinya tidak terlembagakan) maupun nilai (menyangkut ukuran baik dan buruk) merupakan perangkat yang mengatur tingkah laku manusia bermasyarakat. Perangkat tersebut menjadi medium untuk mengekspresikan hidup fatalistik bagi sebagian diri manusia. Belum ditemukan contoh manusia hidup bermasyarakat dimana dalam masyarakat tersebut tidak ada aturan, hukum, norma maupun nilai di dalamnya. Dalam ranah kehidupan bermasyarakat nyata perilaku manusia dihadapkan pada semacam medium yang salah satunya memberi fondasi kehidupan fatalistik. Ini masih bisa ditambah dengan seluruh aturan / syari’at agama yang diturunkan untuk mengatur dan mengelola individu maupun kelompok manusia di masyarakat di satu segi dan mengatur hubungan manusia dengan alam sekitar atau lebih-lebih dengan Allah di lain segi. Keseluruhan aturan hidup ini, sebagaimana di depan, adalah sunnatullah. Lengkaplah kiranya di mana manusia dikelilingi dan diselimuti oleh sungguh banyak hal yang tidak bisa dihindari dan tidak bisa meloloskan diri darinya. Ada aspek perilaku fatalistik di sini.

Alam semesta seisinya, termasuk manusia di dalamnya, berada dalam samudera sunnatullah. Ini memberikan penggarisbawahan ikhwal perilaku seluruh makhluk Allah tidak pernah terjadi di sebuah ketiadaan. Tidak akan pernah terjadi di sebuah kekosongan. Setiap perilaku berada di bawah kendali langsung sunnatullah. Dengan demikian,dalam hubungannya dengan sisi determinisme kehendak dan perbuatan manusia, tentang apa yang harus dilakukan di antara kenyataan umum fatalisme adalah mencari ruang atau celah di mana determinisme kehendak dan perbuatan manusia terselip atau berada. Dalam dominasi perilaku fatalistik ada celah untuk perilaku deteriministik. Pemaparan yang akan diberikan diharapkan dapat memuaskan hati dan akal pikiran. Lalu secara imani bisa diterima.

Langkah mula untuk tujuan ini dapat dilakukan semacam pengujian, atau tepatnya penjajagan dan penghadapan langsung terhadap diri ruhani manusia di satu segi dan diri jasmani manusia di lain segi. Dalam interaksi dua manifestasi diri manusia tersebut, manusia dalam manifestasi mana (?) yang paling awal bersentuhan dengan kehendak dan perbuatan.

Sebagaimana diketahui, lazimnya kehendak dan perbuatan didahului niat atau motivasi. Yang pertama bersinggungan dengan niat atau motivasi itulah yang menjadi kuncinya. Niat atau motivasi tersebut, terstruktur sebagai kalimat-kalimat ucapan hati atau tidak, yang awal mula menggerakkan kehendak dan perbuatan. Kini, di antara dua bagian diri manusia, diri jasmani manusia tidak memungkinkan untuk terjadinya niat atau motivasi. Walaupun pada akhirnya dibutuhkan diri jasmani untuk mewujudkan setiap kehendak dan perbuatan. Hujjah mendasar untuk ini adalah kenyataan bahwa sepanjang eksistensi fisiknya, diri manusia tidak berjiwa. Tidak berkesadaran. Alhasil, yang bersinggungan dengan sulutan awal perilaku adalah diri ruhani manusia. Di dalam wilayah diri inilah setiap kehendak dan perbuatan manusia mendapatkan titik awal keberangkatannya. Sebuah titik yang menentukan.

Yang paling memuaskan untuk bisa diterima dengan baik adalah kesediaan untuk melihat di mana kehendak dan perbuatan manusia dimulai dari titik paling mula. Dan titik itu ada di tingkat batin atau di tingkat diri ruhani. Sementara sesuatu yang paling umum dipandang sebagai titik mula dimaksud adalah niat atau motivasi. Niat dan motivasi merupakan dua hal yang sama tetapi memiliki perbedaan. Bila niat atau motivasi berkehendak dan berbuat dapat dipandang sebagai cara memulai suatu tindakan, maka jelas bahwa niat atau motivasi dicetuskan di ruang batin. Akan tetapi gerak-gerik kehendak dan perbuatan di tingkat ruhani ini belum terwujud secara kasat inderawi melainkan setelah direalisasikan oleh diri jasmani manusia. Untuk keperluan interaksi dengan dunia sekeliling, atau keperluan apa saja, maka keterlibatan dan penerusan oleh diri jasmani sangatlah penting. Sebaliknya dari arah berlawanan, diri jasmani juga berperan penting mengantarkan dan menerukan pesan-pesan atau pencerapan inderawi dari dunia sekeliling menuju diri ruhaninya. Bila diperlukan respons balik atas semua hal, maka selalu saja dimulai dari diri ruhani dengan tanpa mengabaikan diri jasmani sebagai jembatan. Demikian seterusnya.

Di atas semua hal, penting untuk digarisbawahi bahwa di dalam diri ruhani manusialah rupa-rupa kesadaran, pemikiran, angan, perasaan, ilham tentang nilai-nilai kebaikan dan keburukan, ghirah keagamaan dan semacamnya bersimaharaja. Menjadi sesuatu yang amat mustahil bila hal-hal demikian dinisbahkan sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri jasmani.

Di samping semua yang sudah dipaparkan di muka, di segi lain, perlu kiranya disadari dan dimengerti bahwa di hadapan diri manusia selalu saja ada dan tersedia berbagai macam pilihan perilaku. Pilihan perilaku ini tersedia dalam berbagai keragaman. Semua pilihan ini memiliki peluang untuk dipilih dan dipakai. Perbedaan dimensi ruang dan waktu juga membuat perbedaan pilihan menyangkut jumlah dan ragamnya, walaupun tidak harus selalu demikian. Acap dijumpai adanya saat dan tempat di mana pilihan perilaku terasa lebih banyak dan longgar. Ada saat dan tempat lain di mana pilihan perilaku tadi terasa sempit. Apapun itu yang jelas setiap pilihan yang ada selalu membawa dan memiliki semacam pola dan alur, dalam urutan ruang dan waktu, terlepas dari dipilih atau tidak dipilih oleh manusia untuk ditindaki atau tidak ditindaki. Juga ada semacam kausalitas bagi setiap perilaku. Pilihan-pilihan tersebut bisa jadi berupa keharusan atau ketidakharusan, kebolehan atau ketidakbolehan dan semacamnya.

Pilihan-pilihan perilaku yang beragam dan saling terkait satu sama lain juga merupakan sunnatullah adanya. Memilih tindakan A, misalnya, berarti harus begini. Bila sudah beginiakan menyebabkan begitu. Karenanya tidak boleh ke sana, agar tidak berakibat seperti itu. Demikian seterusnya. Alur-alur semacam ini bertakdir atau di-qadar-kan sejak awal sebelum manusia memilih dan menindakinya. Satu missal: taqdir dari perilaku merampok adalah tidak baik, merugikan orang, mudlarat, dimusuhi banyak pihak dan berdosa. Ancamannya neraka. Itu sudah sunnatullah. Manusia jadi merampok atau tidak, perilaku merampok takdirnya kurang lebih adalah seperti itu.

Untuk sebagian besar deskripsi pola atau alur dari setiap pilihan tindakan / perilaku (bila tidak seluruhnya), baik dalam bentuk garis-garis pokok maupun rinci, sudah disadari dan dimengerti oleh diri ruhani manusia justru sebelum dipilih. Adakalanya kesadaran dan kemengertian tersebut dibentuk berdasarkan pengalaman langsung atau pengalaman apapun dan siapapun dari luar dirinya di samping dari berbagai bentuk pembelajaran lainnya.

Setiap pilihan tingkah laku membawa dan memiliki pola atau alur dalam urutan ruang dan waktu sendiri-sendiri. Di seluruh dunia, pilihan-pilihan dimaksud sungguh tidak terhitung jumlahnya, tidak terhingga ragamnya, nyaris tidak berbatas aneka ukuran jangkauannya dan demikian seterusnya. Dari yang banyak ini semua sama dalam satu hal, yaitu memiliki kekuatan mengikat, mengendalikan, mengarahkan, mencengkeram hingga bahkan memaksa pemilihnya. Di hadapan beragam pilihan perilaku, manusia berada dalam posisi deterministik. Namun ketika sudah masuk dalam apa yang dipilih, posisi manusia cenderung fatalistik.

Walaupun manusia sudah masuk di dalam perilaku yang dipilih, di dalam setiap pilihan perilaku inipun juga dimungkinkan terus tersedia lagi beragam pilihan perilaku. Di hadapan beragam pilihan perilaku berikutnya ini, manusia berposisi deterministik lagi. Bila sudah dipilih menjadi fatalistik lagi. Demikian seterusnya. Semua ini bertakdir. Semua ini sunnatullah adanya.

Sebagai ilustrasi, seorang manusia berniat melakukan satu di antara dua perilaku. Mencuri atau menolong sesama. Di hadapan dua perilaku ini manusia masih deterministik. Ternyata ia memilih mencuri. Dalam aktifitas mencuri ada sesuatu yang memaksanya melakukan ini dan itu yang semuanya mengikat dan jahat. Ia tersedot dalam sesuatu yang fatalistik. Walaupun demikian, di hadapannya tetap selalu tersedia pilihan: taubat atau terus jahat. Di hadapan dua pilihan berikut ia kembali deterministik lagi. Jika memilih taubat, ia masuk dalam lingkaran fatalistik lagi, karena di dalam taubat ia harus ini dan itu. Jika memilih terus jahat, ia juga masuk dalam lingkaran fatalistik lagi, karena dalam kejahatan ia wajib ini dan itu. Begitu seterusnya perguliran antara determinisme dan fatalisme. Demikian juga jika ia memilih perilaku baik menolong sesama. Soal nilai adalah soal baik dan buruk. Yang jelas perguliran antara determinisme dan fatalisme ada di dalamnya. Dalam semua nilai kehendak dan perbuatan.

Tersedianya berbagai macam pilihan kehendak dan perbuatan dapat menjadi bukti kuat tersendiri, yaitu tersedianya wilayah tingkah laku deterministik. Berbagai pilihan adalah untuk dipilih. Jika tersedia hanya satu pilihan berarti tidak memilih. Peristiwa memilih hanya bisa dipahami bila ada aspek deterministik di dalamnya. Di hadapan berbagai pilihan tetapi tidak bisa memilih berarti satu hal: kuatnya aspek fatalistik. Fakta determinisme dan fatalisme tetaplah sunnatullah yang berlaku. Adanya determinisme dalam dominasi lingkungan fatalisme juga sunnatullah.

Disebut dalam dominasi lingkungan fatalisme karena fakta bahwa alam semesta seisinya adalah makhluk dalam manifestasi materiil yang secara volume sangat luas seperti tidak bertepi, secara perilaku fatalistik. Sementara pemikiran determinisme adalah pemikiran khusus tentang makhluk manusia (makhluk ghaib bisa ditambahkan di sini) yang mendiami planet bumi. Volume bumi jauh lebih besar dibanding volume seluruh manusia, termasuk yang sudah mati. Perilaku bumi fatalistik. Hanya dalam skup bumi saja perilaku fatalistik  sudah terlihat dominan. Belum yang lain. Sementara bumi dibanding alam semesta di luarnya bagaikan sebutir debu di tengah hamparan padang pasir yang luas. Sudah hidup dalam dominasi lingkungan fatalisme, manusia sendiri juga memiliki sisi-sisi perilaku fatalistik. Sisi-sisi lain perilaku manusia adalah deterministik. Walaupun demikian sisi-sisi perilaku deterministik manusia sangat bermakna.

Sebagaimana di muka, niat atau motivasi dari suatu kehendak dan perbuatan berangkat dari diri ruhani. Lebih jauh, di hadapan banyak pilihan perilaku, dalam hubungannya dengan keharusan memberi respons atau memutuskan sikap, maka tetap saja diri ruhani yang berada di garis depan. Diri ruhani manusia memang dirancangbangun untuk hal-hal dimaksud. Apa yang berkecamuk dalam diri ruhani tidak diketahui orang lain. Gejalanya baru diketahui bila sudah diekspresikan melalui diri jasmaninya.

Sampai di sini, persoalan belum tuntas sebelum dimengerti apa dan bagaimana diri ruhani manusia ketika berada di hadapan berbagai pilihan semacam. Terasa adanya sebentuk kebutuhan bagi diri ruhani manusia berupa semacam prasyarat tertentu sedemikian rupa sehingga respons terhadap pilihan-pilihan tersebut bisa diberikan. Dalam hal ini untuk mengekspresikan kehendak dan perbuatan deterministik. Perangkat untuk mengekspresikan perilaku determinitik ini anugerah. Penegasan dari Al-Qur’an ada untuk mendukungnya.

Al-Qur’an memberikan 4 (empat) tengara penting dalam berbagai ayat dan surat yang menunjukkan bahwa anugerah untuk mengekspresikan kehendak dan perbuatan deterministik tersebut memang dikaruniakan. Mengulangi apa yang sudah diisyaratkan di depan, manusia diizinkan memiliki AL-IRADAH (kehendak), AL-MASYI’AH (keputusan / keinginan), AL-QUDRAH (daya / kekuatan) dan AL-ISTITHA’AH (kemampuan). Keempat anasir ini adalah semacam pintu masuk untuk mewujudkan perbuatan. Cukup gamblang bahwa makna dari semua ini adalah anugerah untuk kebutuhan yang dimaksud.

Bila dipertalikan dengan dua manifestasi diri manusia, al-iradah dan al-masyi’ah lebih bertumpu pada diri ruhani manusia. Rupa-rupa kehendak dan keputusan / keinginan itu wilayah ruhani. Tidak mungkin keduanya dinisbahkan pada diri jasmani. Sementara al-qudrah dan al-istitha’ah lebih bertumpu pada diri jasmani manusia. Setidaknya apa yang dipahami tentang daya / kekuatan dan kemampuan akan segera mengingatkan pada rupa-rupa tulang, otot dan sejenisnya. Ini bagusnya, al-qudrah dan al-istitha’ah juga sekaligus bisa dinisbahkan pada diri ruhani manusia. Pengalaman memperlihatkan bahwa ada manusia yang secara ruhani / jiwani kuat dan mampu, ada pula yang sebaliknya. Dengan ungkapan berbeda, sering terdengar orang mengucapkan: kuat mental atau lemah mental untuk menggambarkan sejumlah keadaan jiwani seseorang.

Allah melekatkan al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrahdan al-istitha’ah dalam ruh manusia. Yang menjadi muara dari keempatnya adalah aspek deterministik pada diri manusia. Manusia menjadi memiliki determinisme kehendak dan perbuatan. Sudah barang tentu ini adalah sunnatullah juga adanya. Sunnatullah dari sisi yang berbeda. Yang bisa dimengerti sebagai sunnatullah memang beragam dan bisa bertolak dari berbagai perspektif. Semuanya sama dalam satu hal, sama-sama sudah ditakar qadar-nya, lalu di-qadla-kan untuk menjadi ada.

Setelah jelas manusia dilekati anugerah determinisme kehendak dan perbuatan, maka di hadapan berbagai pilihan perilaku tersebut diri ruhani mengawali semuanya. Dari tahap ini diteruskan ke tahap-tahap berikut yang mau tidak mau melewati diri jasmani. Lalu terwujudlah kehendak dan perbuatan ke dunia nyata.

Al-qudrah dan al-istitha’ah sama-sama dapat dinisbahkan pada diri ruhani sekaligus diri jasmani. Kiranya al-qudrah dan al-istitha’ah dapat dipandang sebagai titik singgung[73] antara diri ruhani dan diri jasmani manusia. Ini dalam hubungannya dengan perjalanan kehendak dan perbuatan dari tahap paling dini di alam yang belum terlihat hingga terwujud menjadi sebuah kenyataan.

Diri ruhani manusia secara deterministik dengan keseluruhan al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrah dan al-istitha’ah yang dimiliki memilih suatu kehendak dan perbuatan. ‘Ruang-ruang’ al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrah dan al-istitha’ah (sekedar untuk memudahkan pemahaman) menjadi termuati oleh pilihan-pilihan tersebut. Karena al-qudrah dan al-istitha’ah adalah juga ruang-ruang yang dimiliki diri jasmani, maka diri jasmani merasakannya dan menyerap (juga sekedar untuk memudahkan pemahaman) muatan pilihan terpilih tadi. Sesuai watak kejadiannya, diri jasmani dengan al-qudrah dan al-istitha’ah yang dimiliki, dengan tetap mendapat dorongan dari diri ruhani, mengejawantahkan pilihan terpilih tersebut. Lalu terbitlah sebuah kehendak dan perbuatan di alam nyata.

Bila suatu kehendak dan perbuatan bergulir dan terjadi sedemikian rupa sehingga bisa dilihat sisi-sisi fatalistik-nya, maka sifat kejadian kehendak dan perbuatan seperti ini beserta hal-hal terkait di dalamnya adalah sunnatullah. Dan bila suatu kehendak dan perbuatan bergulir dan terjadi sedemikian rupa sehingga bisa dilihat sisi-sisi deterministik-nya, maka sifat kejadian kehendak dan perbuatan seperti ini beserta hal-hal terkait di dalamnya adalah juga sunnatullah. Yang satu sunnatullah dalam aspek fatalistik. Sementara yang lain, sunnatullah dalam aspek deterministik.

Pada ujungnya memang semua kembali pada sunnatullah. Apa yang pada galibnya amat banyak dan beragam. Sangat tidak mungkin untuk menggerakkan dan menjalankan kendaraan raksasa berupa langit, bumi dan seisinya ini, termasuk manusia, hanya tersedia satu jenis sunnatullah dengan hanya satu cara kerja. Lebih tidak mungkin lagi,disebut saja naif, bila menganggap Allah tidak berkuasa menciptakan berbagai ragam dan bentuk sunnatullah. Dan dalam berbagai ragam dan bentuk sunnatullah semua sama dalam satu hal, yaitu semua diciptakan Allah dan semua berada di bawah kendali-Nya secara langsung. Apa yang berada di bawah kendali dan jangkauan sunnatullah adalah apa yang sekaligus berada di bawah kendali dan kekuasaan-Nya.

Dalam pelataran empiris sehari-hari, kehendak dan perbuatan dimulai dari diri ruhani dan diwujudkan melalui diri ragawi. Kehendak dan perbuatan manusia bukan merupakan peristiwa tunggal. Ia merupakan produk dari suatu akumulasi. Sangat lumrah di tengah-tengah perjalanan menyelesaikan suatu tindakan, niat atau motivasi baru muncul menyela atau bergabung untuk membuatnya menjadi lebih majemuk. Juga lumrah bila kehendak dan perbuatan semula akhirnya kandas di tengah perjalanan lalu tidak terselesaikan. Apa saja dari kejadian-kejadian seperti ini, selalu saja diri jiwani manusia mendahului diri badaninya.

Tidak untuk diingkari bahwa memang ada manusia yang karena sesuatu sebab sehingga ruhani atau jiwanya terganggu dan tidak sehat. Dalam hal-hal seperti ini kesadaran dan semacamnya bisa hilang. Menjadi tidak mungkin lagi dikatakan bahwa semua perilakunya, baik atau buruk, dijalaninya secara sadar. Ternyata untuk kejadian-kejadian seperti ini, masyarakat membebaskan orang yang sakit ruhani / jiwani, disederhanakan dengan istilah gangguan mental / gila, dari tanggung jawab. Bilapun sampai merugikan sekeliling tidak akan dijerat hukuman. Ini adilnya. Allah Yang Maha Adil-pun sudah lebih dahulu demikian. Selama dalam masa gangguan mental yang menyebabkan kehilangan kesadaran, manusia seperti ini dibebaskan dari tanggung jawab. Sekalipun melakukan kesalahan tidak dihukumi dosa. Di dunia manusia, di sinilah satu-satunya ruang yang steril dari rupa-rupa tanggung jawab hidup. Untuk manusia yang belum akil-balig lain lagi persoalannya.

Juga terdapat perbedaan mencolok lain antara dua diri manusia. Diri ruhani dapat melakukan kehendak dan perbuatan dengan kemampuan melampaui sekat-sekat dimensi ruang dan waktu, disamping melakukannya di dalam dimensi-dimensi tersebut. Sementara diri jasmani melakukannya dengan terikat sekat-sekat dimensi ruang dan waktu. Untuk kerjasama kedua diri tersebut, ternyata diri ruhani bisa menyesuaikan diri untuk tidak menggelandang diri jasmani menembus dimensi-dimensi tersebut. Karena memang itu tidak mungkin. Atau ini hanya mungkin untuk manusia-manusia pilihan yang memperoleh anugerah karamah bila tidak mu’jizat. Karamah dan mu’jizat juga sunnatullah.

Adapun nilai dan balasan dari suatu kehendak dan perbuatan juga dimulai pada tingkat ruhani. Walaupun belum direalisasikankan dalam bentuk nyata melalui diri jasmani, kehendak dan perbuatan di tahap diri ruhani sudah bisa dinilai dan berbalas. Diri ruhani manusia sudah bisa dipahami sebagai satuan tingkah laku yang berbalas. Ada hujjah untuk ini. Sebagai salah satu perilaku ruhani, niat dapat dijadikan contoh. Niat baik tetapi belum direalisasikan sudah berbalas pahala. Niat baik yang sudah direalisasikan berbalas pahala lebih banyak. Sebaliknya niat buruk tetapi belum direalisasikan belum dihukum dosa. Niat buruk yang sudah direalisasikan berbalas dosa. Agama sudah memberikan tanda petik bahwa kehendak dan perbuatan telah dinilai dan dibalas walaupun masih berada pada tingkat dini jauh di dalam diri ruhani. Ini seperti sebuah ajakan untuk melihat diri ruhani manusia sebagai lembaga perilaku pendahulu yang penting. Sabda Rasulullah dalam suatu kesempatan:

Allah memaafkan untuk ummatku apa yang dikatakan dalam batinnya” (HR. Turmudzi –shahih).

Yang bisa dipertalikan dengan “Allah memaafkan . . .” tentu bukanlah untuk niat-niat baik, melainkan yang sebaliknya.[74] Niat-niat baik untuk dipupuk, niat-niat tidak baik dihindarkan. Adanya pemaafan ini membuktikan adanya penilaian. Bahwa kecamuk di ruang ruhani seperti tersebut tidak baik. Adapun kemudian dimaafkan itu karena Allah Maha Pemaaf.

Kiranya menjadi lebih mudah dicerna mengapa niat dijadikan tekanan penting bagi suatu kehendak dan perbuatan yang menurut watak kecenderungannya akan diterbitkan di ruang nyata. Niat dapat menentukan arah tingkah laku adalah nyata. Sabda Nabi Muhammad:

عن أَمِيرِ المُؤمِنِينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بنِ الخطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ” إِنَّما الأَعْمَالُ بالنِّيَّاتِ وإنَّما لكُلِّ امْرِىءٍ ما نَوَى، فَمَنْ كانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ، ومَنْ كانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيا يُصِيبُها أو امْرأةٍ يَنْكِحُها فَهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليه”.

Dari Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu (hasilnya) sesuai dengan apa yang diniatinya. Barangsiapa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya, maka tempat hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya untuk keduniawian, maka ia akan memperolehnya atau untuk perempuan maka ia akan mengawininya. Jadi hijrahnya seseorang itu sesuai dengan apa yang ia maksudkan dalam niatnya” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Searah dengan pengertian di atas, melihat tindak-tanduk manusia akan lebih berhasil bila dilakukan dengan melihat perilakunya dalam ranah diri ruhani. Hal ini karena tidak jarang tingkah laku lahiriah tidak atau kurang mewakili apa yang dimaksud sesungguhnya oleh tingkah laku batinnya.

Dalam lintasan hidup sehari-hari, tingkah laku batiniah manusia juga lebih banyak menjadi sorotan, tinjauan atau bahkan tolok ukur atas kehendak dan perbuatan seseorang. Niat atau motivasi suatu perilaku acap lebih dahulu dinilai. Contoh ungkapan berikut kiranya dapat mewakili gambaran dimaksud. “Oh . . . tidak masalah! Yang penting kan niatnya . . .”. Dari banyak ungkapan lain yang senada, tampak jelas bahwa tingkah laku batiniah lebih dijadikan landasan penilaian daripada tingkah laku lahiriah. Kehendak dan perbuatan itu domain aspek batiniah manusia, sementara aspek lahiriahnya lebih merupakan instrumen untuk merealisasikannya.

Pandangan seperti tersebut akan tampak lebih tajam dan nyata bila ditengok dalam dunia penyidikan dan penegakan hukum dalam membuat pertimbangan tentang berat-ringannya beban suatu penghukuman. Misalnya, untuk menentukan lamanya hukuman bagi seorang pesakitan tidak pernah dilupakan sejauhmana niat mempengaruhi suatu tindakan kejahatan.[75] Pembuktian atas ada atau tidak adanya niat, dengan kata lain motif, dipadu dengan unsur perencanaan akan menentukan berat-ringannya hukuman bagi terhukum. Niat atau motif itu sendiri merupakan perilaku diri ruhani dan betapa hal-hal seperti ini dijadikan tekanan penting suatu perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Nyata bahwa kehendak dan perbuatan diri ruhani sudah bernilai dan berbalas. Terbukti bahwa kehendak dan perbuatan manusia lebih bersumber pada suatu titik awal di ranah ruhani. Perilaku yang berkecamuk dalam diri ruhani itulah sejatinya perbuatan manusia. Tangan, kaki dan anggota badan lainnya hanya instrumen.

Secara meyakinkan manusia memang memiliki aspek determinisme tingkah laku. Ada sejumlah nash Al-Qur’an yang dapat dipandang sebagai unsur pendukungnya, baik secara langsung maupun tidak.

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS. Al-Balad (90): 10).

Allah telah menunjukkan banyak pilihan jalan hidup. Bila dibuat pengelompokan menurut nilai, semua pilihan jalan hidup tersebut akan berujung ke salah satu di antara dua. Yang satu mewakili jalan hidup ma’ruf dan yang lain jalan hidup mungkar. Sudah jelas, adanya pilihan berarti adanya determinisme.

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams (91): 8-10).

Ayat ini bersifat rujuk merujuk dengan ayat sebelumnya. Pengertian yang ditampilkan semakin jelas dan lebih berbentuk. Manusia sudah diberi gambaran (diilhamkan) tentang segenap kebajikan dan keburukan lengkap dengan rentetan alur dan konsekuensi logis masing-masing. Di hadapan manusia semua itu untuk dipilih. Walaupun demikian, karena kasih sayang Allah-lah manusia tetap dihimbau untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar.

Manusia dikaruniai gambaran setiap pilihan perilaku berikut konsekuensinya adalah perlu dan penting. Ilham atau pengetahuan untuk hal ini dapat dipakai untuk menghitung dan menimbang-nimbang setiap langkah yang akan diambilnya. Sebab balasan untuk semua ini akan kembali juga akhirnya kepada manusia. Adalah merupakan pemahaman umum bahwa manusia adalah makhluk yang harus mempertanggungjawabkan semesta sepak terjangnya selama hidup. Ini karena setiap langkah kehendak dan perbuatan manusia ditakar dengan ukuran baik atau buruk. Pahala atau dosa. Dengan kata lain berdimensi hukum.

Dengan ungkapan berbeda, dalam wilayah persoalan yang juga berbeda, tetapi terdapat persamaan dalam inti pembicaraannya, dapat ditengok dalam:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada thaghut[76] dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah (2): 256).

Tidak diragukan bahwa memasuki agama kebenaran ini atau bahkan keluar darinya jelas-jelas melibatkan kehendak dan perbuatan sang pelaku yang ditempuhnya secara sadar. Al-rusyd dan al-ghaiy adalah pilihan yang disodorkan secara terbuka untuk dijalani salah satunya. Tidak ada paksaan dalam tindakan tersebut (dalam ayat ini malah diungkapkan secara tersurat) dapat menjadi kata kunci yang bagus. Ini artinya kehendak dan perbuatan memang tidak dipaksakan. Bila dibalik, sisi-sisi deterministik erat melekat dalam perguliran kehendak dan perbuatan manusia. Pun dapat dipandang mewakili pengertian kehendak dan perbuatan secara luas.

Unsur pendukung lain, yang tidak kalah gregetnya, yang dapat dipandang turut menopang gagasan determinisme tingkah laku, adalah adanya perintah agama bagi manusia untuk berikhtiar dan terus berikhtiar. Perintah untuk berikhtiar adalah juga perintah untuk berusaha. Usaha dengan hasrat perubahan menuju yang lebih baik sebagai sisi pencapaiannya.

Sudah menjadi kemafhuman umum, ikhtiar hanya bisa dimengerti di langit deterministik. Ikhtiar segera kehilangan relevansi bila disodorkan kepada sekalian makhluk bila ternyata sang sekalian makhluk tidak ubahnya laksana bidak-bidak catur. Penguatan untuk hal ini dapat dilongok pada:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S. Al-Qashash (28): 77).

Rujukan yang bersuasana senada dengan greget yang lebih menggigit juga bisa diselami dalam:

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (Q.S. Al-Jumu’ah (62): 10).

Untuk seterusnya pemahaman bisa diperkaya dengan Q.S. Al-Isra’ (17): 12; Q.S. Al-Jatsiyah (45): 12.

Alhasil, manusia memiliki ekspresi deterministik. Sunnatullah untuk ini ada dan memang diciptakan untuk tujuan dimaksud. Tentu saja wilayah determinisme tersebut tidak bisa digambarkan sebagai sesuatu yang lepas berhamburan tanpa berkerangka. Ada sekhusus sunnatullah yang berurusan dan mengurusi wilayah determinisme itu sendiri dengan segala perniknya. Wilayah determinisme, dalam pengertian di sini maupun dalam pengertian luas, adalah sunnatullah adanya sebagaimana halnya dengan wilayah fatalisme. Sunnatullah yang satu ini juga tidak muncul dengan sendirinya melainkan diciptakan oleh Allah. Artinya, meskipun manusia berperilaku deterministik apa saja, dan ini sunnatullah, tetap saja semua ini dalam kekuasaan dan penciptaan oleh Allah. Karena apa yang dikelola dan diurusi sunnatullah adalah apa yang juga dikelola dan diurusi oleh-Nya. Dengan pemahaman yang dipermudah, Allah mengelola dan mengurusi segala sesuatu melalui sunnatullah. Sementara sudah jelas siapa yang menciptakan setiap bentuk dan jenis sunnatullah.

Pada dasarnya Allah tetap bisa saja menjalankan semua ini tanpa sunnatullah. Kenyataannya sunnatullah ada dan berkelanjutan. Justru dengan diciptakannya berbagai ragam sunnatullah memberikan hikmah dan teladan yang sangat luar biasa. Dengan sunnatullah, dalam tataran antar makhluk, dapat menjaga dan memelihara adanya sebab bagi segala sesuatu. Bagi manusia, ini menjadi pembelajaran yang amat berharga untuk bekal seluruh perjalanan hidup di samping nyata bahwa alam berpikir manusia beralur dalam tautan hubungan sebab-akibat. Pemikiran manusia terpola dengan cara ini. Bila penjagaan dan pemeliharaan sebab tidak ada justru akan menghancurkan tatanan kehidupan manusia dengan segenap perniknya. Manusia hanya akan melakukan tindakan-tindakan tidak masuk nalar. Hanya akan menginginkan pintar tanpa sebab belajar, mengangankan hidup berkecukupan tanpa sebab bekerja atau bahkan mengkhayalkan masuk syurga tanpa sebab beriman dan beribadah.

Berikutnya, dengan ini manusia bisa dinisbahkan sebagai makhluk yang mempertanggungjawabkan hidup yang dijalani. Hidup yang bertanggung jawab adalah ciri khusus dan khas makhluk yang berjenis manusia. Dan yang harus selalu diendapkan dalam ingatan bahwa dunia ini seisinya secara umum dan kelompok manusia khususnya selalu dibalut dan dikerangkai dengan beragam sunnatullah. Semua berenang di dalam samudera luas sunnatullah.

Walaupun manusia bersifat deterministik, tetapi tidak setitikpun hal itu mencerabut atau mengurangi kekuasaan Allah. Apalagi nyata bahwa ada sisi lain dari diri manusia yang bersifat fatalistik. Andaipun manusia beserta seluruh alam semesta seisinya berperangai penuh secara deterministik lepas dari kendali dan kekuasaan Allah, tetap saja tidak setitikpun menggerus atau mengurangi kekuasaan-Nya. Allah terlalu tak terhingga kekuasaan-Nya untuk sekedar menerima tantangan determinisme seluruh makhluk-Nya. Karenanya mengandaikan manusia bila memiliki sifat deterministik akan mengurangi takaran kekuasaan-Nya adalah pemikiran yang tidak memiliki pijakan kuat. Bila dibuat amsal tentang boneka yang bergerak sendiri (setelah ditanamkan perangkat lunak tentang seluruh pola-pola geraknya) dan patung kayu. Jelas bahwa pembuat boneka pintar tersebut adalah orang yang pintar dan cerdas. Sementara pembuat patung kayu tidak harus orang yang kemampuan otaknya di atas rata-rata. Boneka pintar mewakili citra pembuat berkecerdasan tinggi dan tidak demikian citra yang bisa diwakili patung kayu. Hal penting yang juga perlu dimengerti, walaupun boneka itu pintar, bisa menirukan gerak-gerik manusia, tetap saja pembuatnya yang membuat gerak-gerik boneka melalui perangkat lunak yang ditanamkan. Lebih agung dan elok menjadi pencipta dengan citra pintar daripada citra sebaliknya.

Bila tamsil tersebut dikembalikan, justru Allah tampak dengan citra lebih agung dari yang sudah Maha Agung, lebih kuasa dari yang sudah Maha Kuasa manakala menciptakan manusia dengan seluruh kecerdasan yang dimiliki beserta determinisme perilakunya. Apabila manusia diciptakan tidak ubahnya seperti binatang, justru berpeluang menggoda terbitnya pertanyaan bernada mengejek terhadap Penciptanya. Padahal Allah Maha Suci dari setiap kelemahan dan kekurangan.

Al-iradah, al-masyi’ah, al-qudrah dan al-istitha’ah beserta apa-apa yang bisa dipertautkan dengannya kiranya dapat menjadi sebagian instrumentasi bagi determinisme. Dan apapun hal ini tidak memiliki kemungkinan lain melainkan terbenam dan tenggelam dalam genggaman erat sunnatullah.

3- Kehendak dan Perbuatan Fatalistik

Sebagaimana uraian di depan, langit, bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya adalah sunnatullah. Di samping itu, perilaku alam semesta tersebut juga berdasarkan sunnatullah, berada di bawah kendali langsung sunnatullah, tidak tersisa untuk perkecualian. Manusia juga berada dalam lingkup ini. Karena semua berada dalam genggaman sunnatullah, sementara keseluruhan sunnatullah adalah makhluk dan ciptaan-Nya, maka dapat dikatakan secara tandas bahwa pada dasarnya Allah jugalah yang menciptakan seluruh gerak-gerik alam semesta seisinya. Dari yang tampak luar biasa hingga yang sepele. Allah Maha Pencipta dan Penguasa atas semua perkara dan hal. Bukan saja Pencipta dan Penguasa seluruh dunia seisinya, dunia dalam manifestasi materiil dan non-materiil, tetapi juga semesta perilakunya dari waktu ke waktu.

Sunnatullah ada di mana-mana. Tidak tersedia sejengkal ruang sedetik waktu, di alam semesta ini yang tidak terisi sunnatullah. Karena tidak tersisa perkecualian maka kehendak dan perbuatan manusia juga diciptakan oleh Allah walaupun dalam dimensi ruang dan waktu yang sama manusia juga dianugerahi wilayah determinisme.

Diri manusia secara lahiriah berada di bawah langsung kendali dan kekuasaan sunnatullah, baik dari sisi manifestasi fisik maupun perilakunya. Karena sunnatullah adalah ciptaan-Nya, maka diri lahiriah manusia beserta tingkah lakunya adalah juga ciptaan-Nya. Demikian adanya diri manusia secara batiniah juga berada di bawah langsung kendali dan kekuasaan sunnatullah, termasuk seluruh pengejawantahan tingkah laku di tingkat batinnya. Untuk seterusnya juga dapat dikatakan Allah jugalah pada dasarnya yang menciptakan perilaku batiniah manusia melalui mekanisme sunnatullah.

Dalam hal manusia memiliki wilayah determinisme, pembenaran dan pengesahan anugerah ini banyak memperoleh pijakan dari nash-nash Al-Qur’an. Karena sifat deterministik juga merupakan sunnatullah, sementara sifat ini juga ciptaan Allah, maka seluruh perilaku manusia selalu berada dalam kerangka kendali dan kekuasaan-Nya. Dengan ungkapan berbeda, manusia adalah makhluk deterministik. Pada saat dan tempat yang samaadalah makhluk fatalistik. Bila dibalik, manusia adalah makhluk fatalistik. Pada saat dan tempat yang samaadalah makhluk deterministik. Lebih singkat lagi, deterministik tetapi fatalistik. Fatalistik tetapi deterministik.

Allah menciptakan segenap kehendak dan perbuatan seluruh makhluk-Nya hingga bahkan ke tingkat rinci dan tampak sepele adalah benar adanya. Ada semacam pola tingkah laku bagi semua makhluk. Dan secara jenis, semesta makhluk yang ada memiliki polanya sendiri-sendiri yang khas. Kelompok monyet bisa melompat dan berayun di dahan, tetapi tidak untuk kelompok gajah. Demikian seterusnya. Ada sebentuk skema tingkah laku. Sesuatu perilaku (perilaku ular, misalnya) berada dalam semacam kerangka skema operasional. Tentu saja, skema serupa itu yang menyajikan semacam denah mengenai segala fungsi dan perbuatan (bernafas, mencium, melihat, menelan) yang ada pertalian dengan organ-organ (hidung, kelenjar, dsb.) ada gunanya bagi para ilmiawan. Denah ini bahkan mirip sekali dengan denah-denah mengenai sebuah perusahaan, di sanapun dipergunakan blue-print untuk menjelaskan pola pengelolaan dan bila perlu memperbaikinya.[77] Dalam pandangan ini setiap ciptaan-Nya beralaskan (baca: dilengkapi) sebentuk denah tingkah laku.

Semua itu dengan sunnatullah ciptaan-Nya dan dengan izin-Nya semua ini menjadi bergerak dan melangkah. Atau tanpa perantaraan sunnatullah pun Allah tetap saja mampu dan kuasa menjalankan kampung raksasa alam semesta seisinya ini secara mutlak. Hanya saja ada cara yang lebih agung, lebih bercitra tinggi, daripada berlaku seperti dalang. Karenanya Allah tidak harus menggerakkan tangan dan kaki, pikiran dan jiwa (menggerakkan seperti layaknya dalang menggerakkan anak-anak wayang) dari setiap hamba-Nya secara orang perorang yang jumlahnya milyaran sekedar untuk sebutan Maha Kuasa. Dengan gambaran seperti mendalang tetap saja bisa, tetapi tidak harus.

Yang lebih agung dan bercitra, cukuplah Allah menciptakan berbagai sunnatullah untuk berbagai penerapan sebagai perangkat lunaknya. Dengannya semua bergerak, berperilaku, hingga bahkan ke tingkat yang paling rinci dan dasar. Allah tetap tidak kehilangan sifat Maha Kuasa-Nya atas seluruh ciptaan-Nya. Menciptakan rupa-rupa sunnatullah itu sendiri pada galibnya sudah merupakan pengunjukan tersendiri di sisi lain atas sifat Maha Kuasa-Nya.

Dari sudut pemahaman lain, jika Allah menciptakan perilaku para hamba-Nya dalam pengertian dalang menggerakkan anak-anak wayang, malah akan segera dijumpai sisi-sisi naif dan nista dari perilaku manusia yang tidak mungkin dinisbahkan kepada-Nya. Banyak perilaku para hamba-Nya yang bernilai mungkar lagi maksiat. Menjadi naif sekali bila hal ini dinisbahkan kepada Allah sebagai yang menciptakan kemungkaran dan kemaksiatan tersebut. Sementara Allah sendiri melarang dan tidak menyukai perbuatan-perbuatan tersebut. Maha Suci Allah dari penisbahan hal-hal yang tidak layak bagi-Nya.

Untuk lebih menguatkan pemahaman dalam persoalan ini, ada baiknya direnungkan ajaran agung tentang basmalah dalam pertautannya dengan perbuatan. Amat dianjurkan kepada setiap insan agar membaca “bismillaahirrahmaanirrahiim” dalam setiap mengawali suatu pekerjaan atau perbuatan. Istimewanya untuk perkara-perkara ma’ruf. “Dengan asma Allah . . . dan seterusnya”, kemudian pekerjaan atau perbuatan dimulai.

Sesungguhnya ajaran dimaksud sarat makna. Salah satu makna tersembunyi, di antara makna-makna lain, adalah semacam pengalihan pelaku pekerjaan dari seorang hamba kepada Allah. Seorang hamba seperti diajak untuk menyadari bahwa apa yang akan dilakukannya pada dasarnya Allah jugalah yang melakukannya. Apa yang tampak secara inderawi sang hamba yang melakukannya. Namun sejatinya tidak semata demikian, karena di balik semua yang materi ini adalah Allah.

Bacaan basmalah dalam mengawali segala sesuatu, sang hamba diajak untuk mengarungi lautan kesadaran ilahi yang tinggi. Karena awal suatu pekerjaan atau perbuatan selalu banyak setiap harinya, maka ajakan untuk masuk ke dalam kesadaran tersebut menjadi terasa selalu diperbaharui setiap saatnya.

Ajaran termaksud tentu berhikmah. Karena diatasnamakan Allah, dapat berdampak baik mengurangi sifat ke-aku-an sang hamba sehingga dapat menekan sebaik mungkin peluang menyombongkan diri. Dalam dunia manusia, watak ke-aku-an inilah yang dapat bersemai menjadi bibit-bibit kesombongan, kecongkakan dan semacamnya. Kemudian, bila berhasil dalam pekerjaan, tidak lupa sang hamba mengembalikan semuanya kepada Allah sebagai sumber agung setiap keberhasilan. Ini ajaran yang amat indah. Lafal lengkapnya mampu melampaui apa yang mungkin dipikirkan manusia sebelumnya. Ia amat ilahi.

Sebaliknya, lafal basmalah tidak dianjurkan untuk mengawali perkara-perkara yang tidak baik. Sebab sangat tidak layak mengatasnamakan Allah untuk hal-hal mungkar. Akal sehat mencegah penisbahan lafal suci untuk perkara mungkar terhadap Allah.

Di sisi lain, perilaku dan perbuatan sebagai sesuatu yang diciptakan oleh Allah, karenanya bersifat tidak ada pilihan, adalah merupakan kenyataan umum di muka bumi ini. Alam semesta seisinya sudah jelas menjadi rujukan, rupa-rupa sunnatullah menjadi penggarisbawahnya. Gambaran umum dimaksud kiranya dapat menjadi instrumentasi bagi fatalisme. Dan apapun hal ini tidak memiliki kemungkinan lain melainkan juga terbenam dan tenggelam dalam genggaman erat sunnatullah.

Di atas semua hal, walaupun manusia menjalani sisi-sisi fatalistik dalam hidupnya, keadaan seperti ini bisa diterima. Bagusnya tidak ada rasa sedang menjalani perilaku fatalistik. Malah banyak manusia menjalani hidup dengan senang dan gembira. Bukan saja keadaan seperti tersebut bisa diterima, tetapi juga lebih bisa diterima manakala dimengerti bahwa manusia ternyata juga menjalani sisi-sisi deterministik dalam hidup yang sama. Manusia makhluk deterministik. Hilanglah ketidaknyamanan fatalistik. Manusia menjalani dua sisi kehidupan tersebut dalam dimensi ruang dan waktu yang sama secara seimbang. Manusia berada dalam atmosfir fatalisme tetapi tetap bertanggung jawab atas semua tingkah lakunya selama hidup di dunia.

Sesungguhnya bila direnungkan lebih menukik dalam, manusia yang didesain dengan rajutan indah berupa perpaduan aspek hidup deterministik sekaligus aspek hidup fatalistik dalam dimensi ruang dan waktu yang sama, dalam pelataran umum sunnatullah, memungkinkannya berhasil mengemban tugas mulia sebagai abdun sekaligus khalifah fi al-ardl. Sebagai abdun manusia adalah pelaku ibadah (vertikalis) dan sebagai khalifah adalah pelaku kemakmuran (horisontalis).

Perlu disadari juga bahwa sangat mudah bagi Allah menciptakan seluruh manusia dengan hanya satu kehendak, satu perbuatan, secara seragam. Kenyataannya tidak demikian. Dan hikmahnya sungguh luar biasa ketika tidak demikian.

4- Maqam Sunnatullah

Sunnatullah sebagaimana nyata adanya ia amat banyak, baik dari segi jumlah, jenis, jenjang, jangkauan, sifat, ukuran, besaran maupun dimensi kemakhlukannya. Sunnatullah dalam wujud dan gambaran seperti ini sepadan dan sebanding dengan apa yang menjadi kenyataan dari eksistensi alam semesta seisinya. Alam semesta ini juga berjumlah, berjenis, berjenjang, berjangkauan, bersifat, berukuran, berbesaran dan seterusnya. Untuk mengatur dan mengelola kampung besar berupa dunia ini seisinya, memang dihajatkan adanya sunnatullah dalam gambaran tersebut.

Dalam pertaliannya dengan pemikiran yang tengah diusung di sini, sunnatullah menyediakan ruang dan waktu bagi sang abdun dan sang khalifah di muka bumi untuk mengejawantahkan hidup yang deterministik sekaligus fatalistik. Kehendak dan perbuatan anak cucu Adam yang deterministik dan atau fatalistik adalah sama saja dari perspektif Allah. Bahwa kedua jalur ini sejatinya bisa dilakukan Allah dengan amat mudah, dengan atau tanpa sunnatullah. Adapun ternyata sunnatullah ada adanya itu adalah karena kehendak mutlak-Nya demikian.

Determinisme mengejewantahkan diri dalam kerangka sunnatullah, demikian juga fatalisme. Determinisme dan fatalisme sama-sama melihat sunnatullah sebagai lembaga jawaban atas pernik persoalan khas masing-masing. Melihat keduanya sama-sama menyandari sunnatullah sebagai kendaraan yang sama dan berkendaraan bersama-sama, menjadikan sunnatullah sebagai titik temu antara keduanya. Sunnatullah menjadi pelataran yang baik bagi terselenggaranya determinisme dan fatalisme hidup manusia. Sudah saatnya pemikiran seperti tersebut  dilihat sebagai peluang untuk saling menguatkan dan meneguhkan, merajut ukhuwah, dan bukan sebaliknya membuat saling menjaga jarak atau malah saling menjauhi.

Kinidialog pemikiran atau silang pendapat tentang kehendak dan perbuatan manusia terkait determinisme dan fatalisme hidup dapat terjembatani dengan baik melalui konsep sunnatullah.

Akan tetapi bila yang terjadi adalah sesuatu yang tidak seimbang, misalnya, menguatkan pandangan deterministik sembari mengenyampingkan pandangan fatalistik dapat berarti mengenyampingkan nash-nash Al-Qur’an yang menandaskan fatalisme hidup manusia. Penguatan hanya terhadap pandangan deterministik sembari menafikan yang lain, lebih-lebih bila penguatan yang terjadi melampaui ambang batas, berpeluang masuk jebakan. Salah satu keterjebakan yang mungkin adalah terlalu mengagung-agungkan akal. Padalah akal manusia nyata terbatas dan berbatas adanya. Tidak mungkin akal mampu menjawab semua persoalan hidup. Ada persoalan-persoalan hidup yang hanya akan memuaskan bila dijawab dengan iman. Atau dengan yang lainnya. Untuk mengerem kecenderungan tersebut, ini indahnya, pandangan fatalistik sangat cocok disandingkan.

Sebaliknya penguatan pandangan fatalistik sembari mengenyampingkan pandangan deterministik juga dapat berarti mengenyampingkan nash-nash Al-Qur’an yang menandaskan determinisme hidup manusia. Penguatan hanya terhadap pandangan fatalistik sembari menafikan yang lain, lebih-lebih bila berlebihan, juga berpeluang masuk jebakan. Salah satu keterjebakan yang mungkin adalah terampasnya gairah hidup. Berubah menjadi keputusasaan dan tanpa pengharapan. Hidup dengan putus asa, tanpa pengharapan, sangat tidak nyaman. Untuk mengerem kecenderungan tersebut, ini eloknya, pandangan deterministik sangat cocok disandingkan.

Perajutan jembatan antara pemikiran deterministik dan fatalistik melalui konsep sunnatullah kiranya dapat menjadi paduan yang serasi dan selaras. Saling menggenapi dan melengkapi. Keterjebakan (sebagai kemungkinan) di sisi deterministik, fatalisme menjadi obatnya. Demikian sebaliknya.

Peneguhan ukhuwah, seyogyanya dimulai dari satuan-satuan terkecil masyarakat. Ia adalah keluarga yang di dalamnya berupa kumpulan manusia. Menjadikan masing-masing keluarga sebagai ‘negeri sejahtera penuh ampunan Tuhan’ adalah tugas bersama. Negeri yang besar selalu merupakan kumpulan dari keluarga. Manakala setiap keluarga memiliki pandangan yang searah-segaris tentang Teologi di atas, akan menyumbangkan saham penting bagi negeri besar baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur dalam purwarupa yang dicitakan bersama.

  1. Perbuatan dan Pertanggungjawaban

Dalam hidupnya setiap manusia mengalami kehendak demi kehendak, perbuatan demi perbuatan. Justru dengan peristiwa mengalami inilah manusia hidup. Manusia akan disebut mati bila tidak aktif sesuatupun. Perilaku manusia juga tidak pernah terjadi di ruang hampa. Tidak pernah berdiri sendiri. Selalu saja ia terhubung dengan hal-hal lain.

Hal-hal yang bertautan dengan perilaku manusia amat banyak, beragam dan majemuk. Ada saat-saat di mana perilaku manusia merupakan akibat atau respons dari perkara dan hal lain. Juga ada saat-saat di mana perilaku manusia menjadi musabab bagi perkara dan hal lain. Intinya, perilaku manusia bukanlah peristiwa tunggal. Ia selalu terkait dengan hal-hal lain.

Manusia itu makhluk unik. Berbeda dengan makhluk lain, setiap perilaku manusia memiliki aspek hukum. Berganjar pahala (reward) jika berperilaku baik, bersangsi dosa (punishment) jika tidak baik. Konsep reward dan punishment ini diberlakukan tidak hanya ketika manusia masih hidup di dunia tetapi juga hidup di akhirat kelak. Menjadi logis manakala dimensi tanggung jawab dilekatkan dengan setiap perilaku manusia. Justru persoalan tanggung jawab inilah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lain. Dengan balutan tanggung jawab hidup menjadi bernilai. Tanpa ini manusia merosot nilai kemanusiaannya.

Persoalan tanggungj awab bagi setiap tingkah laku menjadi kian jelas bila diingat tujuan diciptakannya manusia, baik sebagai abdun maupun sebagai khalifah di muka bumi. Dalam latar penciptaan yang demikian ada serangkaian tugas di pundak setiap insan dan akan dimintai tanggung jawab untuk itu. Setiap ada tugas bagi seseorang untuk menjalankan fungsi dan peran tertentu pasti ada pertanggungjawabannya. Mustahil bila manusia diberi tugas tanpa ada pertanggungjawabannya.[78]

Tugas bagi makhluk istimewa yang diciptakan dalam rumusan ahsani taqwim tersebut adalah sebagai abdun maupun khalifah di muka bumi. Penugasan ini dikenal dengan istilah taklif. Taklif sering dipahami sebagai beban tugas dari Allah. Arti asalnya adalah menjadikan seseorang mencintai sesuatu. Sesuatu yang belum dicintai tetapi diminta ke arah sana merupakan sesuatu yang berat dan susah. Perlu kesabaran agar dapat mencintainya secara berangsur-angsur.[79] Taklif diberikan sebagai akibat logis dari tujuan penciptaan manusia itu sendiri.

Sisi lain dari taklif adalah amanat. Hal ini adalah keistimewaan sekaligus mimpi buruk bila diabaikan. Karena derajat abdun dan khalifahfial-ardl merupakan taklif atau amanat dalam perspektif tersendiri dari Allah, maka menjalankan tugas-tugas yang melekat dalam derajat tersebut merupakan pengabdian (ibadat) pula kepada-Nya. Pelataran taklif yang demikian sudah barang tentu melahirkan keniscayaan yang juga melekat di dalamnya yang berupa tanggung jawab.

Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat[80] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. Al-Ahzab (33): 72).

Ayat di atas, di samping menunjukkan segi kezaliman dan kebodohan manusia, juga mengandung arti yang sebaliknya, bahwa manusia sama sekali tidak bodoh apalagi zalim. Ia akan dinilai sebagai pengkhianat jika tidak lagi menetapi kesungguhannya semula memikul amanat.[81] Sebaliknya akan mendapatkan tempat mulia di sisi Allah apabila ia tetap menetapi (tidak mengkhianati) amanat Allah yang dipercayakan kepadanya.[82] Dengan demikian beristiqomah di dalam amanat adalah suatu kebutuhan tersendiri.

Taklif, atau amanat, memberikan konsekuensi pada sejumlah kewajiban yang harus ditunaikan. Pertama, sebagai abdun adalah untuk beribadah (dalam pengertian khusus maupun luas). Lebih jauh bisa dilihat dalam QS. Adz-Dzariyat (51): 56. Kedua, sebagai khalifah adalah untuk memakmurkan dan mensejahterakan bumi. Derajat abdun dan khalifah melekat pada setiap insane, walau bagaimanapun kondisinya. Bisa ditilik dalam QS. Al-Baqarah (2): 30. Bila manusia pintar, untuk perkara yang kedua ini bisa dikerangkai dalam kerangka ibadah sehingga bernilai ibadah.

Sesungguhnyalah tidak selalu mudah bagi setiap orang mengemban beban berat tetapi mulia tersebut. Tidak selalu mudah tetapi tetap berada dalam jangkauan manusia untuk melaksanakannya, sebab Allah sendiri tidak men-taklif sesuatu di luar batas kesanggupan penerima taklif.

Untuk menjamin pemenuhan taklif di atas, maka penguatan kesadaran tanggung jawab yang mengiringi setiap tingkah laku manusia adalah suatu keniscayaan. Suatu kebutuhan tersendiri. Dengan totalitas kesadaran hidup yang berbalut tanggung jawab tidak ada dalih untuk mangkir dari keharusan mengabdikan diri sebagai hamba di hadapan-Nya. Tidak ada dalih untuk mengingkari keharusan memakmurkan dan mensejahterakan bumi seisinya. Sedangkan keharusan itu nyata dititahkan. Ini beban individu sekaligus beban kolektif umat manusia.

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[83]. Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)” (QS. Hud (11): 61).

Salah satu muara kegiatan memakmurkan bumi adalah teraihnya suatu tatanan kehidupan seperti yang digambarkan dalam QS. Saba (34): 15. Itulah negeri sejahtera penuh ampunan Tuhan. Untuk tujuan ini, hanya tindakan yang bertanggung jawab yang bisa diharapkan. Baik tanggung jawab perorangan maupun kelompok. Dari perspektif lain, adanya pahala dan dosa, surga dan neraka, alam akhirat kelak, atau hal-hal yang bertalian dengan ini, sesungguhnya juga amat erat kaitannya dengan persoalan tanggung jawab.

Dunia di mana manusia hidup tidak akan terselenggara tata kehidupan bermasyarakat yang saleh dan ma’ruf bila di dalamnya tidak ditegakkan pentingnya tindakan-tindakan berdimensi tanggung jawab. Perilaku tanpa persenyawaan tanggung jawab akan cenderung lepas nilai. Bila diteruskan menjadi lepas kendali. Manusia menjadi terdidik untuk terbiasa tidak berpikir jauh ke depan. Bertindak apapun tidak harus ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Manusia akan cenderung berbuat semau-maunya, tidak peduli soal akibat. Sebab memang tidak ada yang harus dipertanggungjawabkan. Tidak ada lagi perbedaan antara yang haq dan yang batil. Mudarat akan sama bagusnya dengan maslahat. Jati diri dan keluhuran kemanusiaan manusia tinggal menghitung menit untuk runtuh.

Tidak kurang Al-Qur’an memandang betapa pentingnya dimensi tanggung jawab untuk setiap tingkah laku manusia. Orang per orang bertanggung jawab atas perilaku diri masing-masing.

Itu adalah umat yang Telah lalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang Telah mereka kerjakan”(QS. Al-Baqarah (2): 141).

“. . . dan kamu tidak akan dimintai pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan” adalah benar karena kamu akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kamu kerjakan sendiri. Ayat-ayat yang searah pengertiannya dapat ditengok pada QS. Al-Baqarah (2): 134, QS. Ar-Rum (30): 44 atau QS. Saba’ (34): 25. Untuk persoalan yang sama, Rasul akhir zaman juga memberikan penggarisbawahan.

Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya dari yang dipimpinnya itu. Presiden (seorang pemuka) adalah pemimpin, akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Orang laki-laki adalah pemimpin keluarganya, dan akan ditanya dari yang dipimpinnya. Istri adalah pemimpin rumah tangga suaminya, dan akan ditanya dari yang dipimpinnya. Pelayan (buruh) adalah pemimpin kekayaan majikannya, dan akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Dan anak adalah pemimpin pada harta bapaknya, dan akan ditanya dari yang dipimpinnya. Maka kamu sekalian adalah sebagai pemimpin, dan masing-masing akan ditanya (bertanggung jawab) dari yang dipimpinnya” (H. R. Muttafaq ‘alaih dari Ibnu Umar).

Perilaku tanpa pertanggungjawaban akan merusak diri sendiri serta masyarakat. Sendi-sendi keadilan akan luluh untuk kemudian ambruk. Sedangkan yang nyata dituntut tanggung jawab saja masih banyak manusia yang mencampakkannya. Sangat naif bila manusia harus terjerembab menuju kubangan asfala safilin. Oleh karena itu, tingkah laku dan pertanggungjawaban harus dipandang sebagai persenyawaan yang tidak bisa saling dipisahkan. Atau sebagai hubungan sebab akibat yang pasti.

Korelasi antara tingkah laku dan tanggung jawab memperoleh maknanya yang lebih komplit dengan adanya konsep reward dan punishment. Setiap perilaku berbalas. Konsepsi tersebut mewakili gambaran tentang sebuah taqdir kewajaran yang amat adil. Landasan Al-Qur’an untuk hujjah ini adalah QS. An-Nisa’ (4): 40, 79 atau QS. Al-An’am (6): 160.

Lebih jauh, lembaga alam kehidupan akhirat diciptakan untuk tujuan yang semata Allah sendiri yang tahu persis hakikatnya. Akan tetapi jelas bahwa lembaga akhirati tersebut memiliki hubungan erat dengan persoalan tanggung jawab manusia atas segala sepak terjangnya selama hidup di dunia. Selaras dengan pandangan ini Amer Ali (1848-1928), seorang pembaharu asal India, mengemukakan bahwa inti ajaran yang diyakini oleh masyarakat muslim tersebut adalah ajaran tentang pertanggungjawaban. Di akhirat nanti semua orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia, laki-laki maupun perempuan. Kebahagiaan dan kesengsaraan setiap orang bergantung kepada bagaimana dan sejauhmana dia melaksanakan perintah Allah. Karena Tuhan bersifat Pengasih, maka kasih rahmat-Nya akan dilimpahkan secara adil kepada semua makhluk-Nya. Dengan kata lain, masalah pokok di akhirat adalah tanggung jawab manusia di masa depan. Mengenai bentuk balasan dan hukuman yang bisa berbentuk material atau spiritual bukanlah masalah pokok.[84] Dan bagi orang yang di dunia yang kebetulan tidak mendapatkan keadilan, di akhirat nanti akan dipenuhcukupi dengan keadilan yang seadil-adilnya. Lembaga peradilan akhirat bisa diandalkan sebagai harapan terakhir.

 

  1. Allah Berada di Luar Dimensi Ruang dan Waktu
  2. Nalar Penciptaan

Tuhan adalah prinsip awal dari segala yang ada (mawjudat). Ia wajib adanya (wajib al-wujud), sedangkan selain-Nya yang biasa disebut alam atau makhluk adalah mungkin adanya (mumkin al-wujud). Bukti keberadaan Tuhan adalah fakta bahwa alam ini ada. Kenyataan bahwa alam ada di hadapan kita menunjukkan bahwa Tuhan telah ada sejak semula.[85]

Allah selalu menjadi sebab bagi adanya ciptaan dan ciptaan tidak pernah menjadi sebab bagi adanya Pencipta-nya. Pencipta selalu mendahului ciptaan. Secara derajat Pencipta juga lebih tinggi dari ciptaan. Tidak pernah dan tidak akan pernah ada catatan ciptaan melebih Penciptanya. Juga belum ada catatan ciptaan melebih penciptanya (‘p’ kecil). Secanggih apapun perkakas teknologi yang dibuat manusia ia tidak akan pernah mengalahkan manusia. Selalu tersedia bagi manusia cara untuk tetap di atas dan memegang kendali.

Pencipta juga tidak pernah menjadi bahan bagi ciptaan. Ciptaan tidak pernah dibuat atau disusun dari Penciptanya atau penciptanya (‘p’ kecil). Logis bila Allah berada di luar makhluk, tidak terkurung oleh ciptaan. Bila Pencipta menjadi bagian bagi ciptaan (dalam pengertian bahan dan susunan) atau terbelenggu oleh ciptaan, tidak bisa tidak memperlihatkan kelemahan di sisi Pencipta. Hujjah seperti ini sahih adanya. Karenanya setiap penyimpangan atau pembelokan dari nalar pemahaman ini berarti menunjukkan tidak lain melainkan satu hal yaitu kesalahan berpikir.

Allah adalah Rabb bagi segenap makhluk di alam semesta seisinya, tidak terkecuali makhluk yang bernama dimensi ruang dan waktu. Sepasang dimensi ini adalah satu kesatuan. Yang satu hanya bisa ada bila ada yang lain, demikian sebaliknya. Dimensi waktu bergulir di dalam dimensi ruang. Dimensi ruang berkembang di dalam alur dimensi waktu. Ketidakhadiran salah satu berarti ketiadaan bagi semua.

Dimensi ruang dan waktu yang diteropong dari titik pengamat ketika sang pengamat berada di dalam dimensi itu sendiri menjadikan kesadaranakan adanya besaran waktu (detik, menit, jam dan seterusnya atau sebentar, lama, amat lama, terlalu lama dan seterusnya) dan adanya besaran ruang (luas, amat luas, isi, kubik, meter, kilometer dan seterusnya) lebih mudah dibangun. Sebaliknya bila ditilik dari titik pengamat yang berada di luar dimensi ruang dan waktu menjadikan besaran-besaran ruang dan waktu amat nisbi. Keduanya maya adanya. Adakah sesuatu yang berada di luar dualisme dimensi ini ?.

Dalam keseluruhan jagat realitas, sesuatu yang berada di luar dimensi ruang dan waktu hanya satu dan satu-satunya, yaitu Allah. Mungkin timbul pertanyaan tentang bagaimana kejadian agung ikhwal keinginan dan harapan Nabi Musa untuk bertemu Allah secara langsung (?). Allah mengabulkannya dengan cara hadir dalam citra nur di balik bukit Tursina. Peristiwa tersebut tidak serta merta harus disimpulkan bahwa Allah masuk dalam dimensi-dimensi tersebut. Apakah perkara seperti ini sepengertian dengan manusia yang membuat rumah untuk akhirnya juga masuk ke dalam rumah?. Tentu saja pertanyaan masih bisa dibuat berderet. Apapun yang terjadi yang jelas tidak harus dipahami seperti orang bertemu dengan orang di mana secara lahiriah dimungkinkan bisa saling berhadapan. Menyimpulkan bahwa Allah berada dalam dimensi ruang dan waktu ciptaan-Nya sendiri memang membuka peluang untuk mengangankan besaran, ukuran, warna dan semacamnya tentang Allah. Padahal Maha Qudus Allah dari gambaran-gambaran liar demikian.

Allah adalah Al-Ahad dan semata Dia yang tidak terkurung dalam dualisme dimensi yang ada. Yang ingin ditegaskan di sini, dalam hubungannya dengan fasal-fasal terdahulu, adalah untuk lebih menggarisbawahi bahwa selain Allah terkurung adanya di dalam dimensi ruang dan waktu dengan segala hubungan sebab akibatnya. Yang terkurung dalam dua dimensi tersebut adalah yang terkurung dalam semesta sunnatullah. Hanya Allah yang tidak terkurung dalam sunnatullah.

Semua makhluk mengejawantahkan diri dalam pelataran dimensi ruang dan waktu. Tingkah laku semua yang ada dalam pelataran perkara seperti ini menjadi terikat adanya. Lebih-lebih bila disadari, berada dalam genggaman kedua dimensi tadi adalah selingkup dengan berada dalam genggaman sunnatullah. Sebuah watak fatalis. Bilapun ada perkara yang beraspek deterministik bukanlah merupakan kenyataan umum dari segenap hal yang bertabiat fatalistik. Dunia determinis berekspresi dalam dunia fatalis. Dunia yang khusus ini pada galibnya lebih merupakan rahmat, kasih sayang, pemuliaan dan semacamnya dari Allah kepada sang makhluk, dalam hal ini manusia. Dengan demikian terlalu pongah dan jumawa bila manusia menjadi budak bagi kesalahan berpikir sendiri dengan mendewakan dan menempatkan diri sendiri sebagai pusat semesta perkara.

  1. Hubungan Timbal-balik antara Al-Khaliq dengan al-Makhluq

Perenungan lebih jauh tentang pola hubungan antara Allah dan makhluk akan menerbitkan kesadaran mendalam bahwa yang selalu tampak adalah kasih sayang dan welas asih. Yang tidak pernah tidak tampak adalah rahman dan rahim Allah pada semua makhluk-Nya, khususnya manusia. Bilapun di sejumlah nash Al-Qur’an mengabarkan ancaman dan siksa pedih bagi para pendosa itu bukan berasal dari semangat balas dendam Allah bagi hamba-hamba yang mungkar melainkan dari semangat kasih sayang dan welas asih juga. Demi kemaslahatan manusia sendiri pekabaran ancaman dan siksa pedih memang harus diberikan justru agar manusia menjauhi kemungkaran. Sebab setiap kemungkaran pasti merugikan manusia. Ini juga selaras dengan konsep reward dan punishment.

Hubungan kasih sayang selalu tampak terlihat. Seandainya setelah setiap kejadian penciptaan tidak ada kelanjutan hubungan antara Allah dan makhluk-Nya itupun hak mutlak-Nya. Dan memang tidak harus ada penerusan hubungan. Akan tetapi kenyataan bertutur berbeda. Setelah Allah menciptakan semesta alam semesta dan terus menciptakan makhluk-makhluk yang menghuninya, walaupun alam semesta sudah terbentang kukuh, hubungan antara Allah dan makhluk ternyata tetap terpelihara dengan baik. Yang memperkenankan hubungan tetap terpelihara adalah Allah sendiri. Sang tercipta tidak mungkin sanggup melakukannya untuk membuatnya ada dan terselenggara. Padahal bisa-bisa saja setelah kejadian penciptaan setiap makhluk lalu dicampakkan oleh Allah begitu saja. Adanya dunia seisinya dan seluruh anugerah kenikmatan dan kema’rufan yang diterimakan kepada manusia adalah bukti bahwa hubungan kasih sayang dan welas asih dari Allah ada sejak mula penciptaan hingga terselenggara sampai detik ini.

Allah Rububiyah adanya sehingga alam semesta seisinya tetap terpelihara, tumbuh dan berkembang dengan baik. Allah senantiasa memberi, melindungi, menjaga, menghidupkan, mangasihi dan seterusnya. Semua ini semata karena rahman dan rahim-Nya yang tiada tara. Begitu terus menerus sejak awal kejadiannya. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya nasib langit, bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya bila hubungan baik tadi diputus. Sifat Rububiyah menggambarkan pola hubungan hierarki yang bersifat dari atas ke bawah.

Allah juga Uluhiyah. Segala apa dan segala siapa menuhankan tidak lain melainkan Dia. Hanya Allah-lah yang layak untuk di-Tuhan-kan. Ini penting untuk jadi ingatan selama hayat sebab banyak hamba salah alamat dengan menuhankan apa yang sejatinya bukan Tuhan. Perkara seperti ini bukan berangkat dari semangat Allah (meminjam bahasa manusia) gila kehormatan sehingga harus meminta atau menyeru semua makhluk untuk menuhankan-Nya saja. Padahal hikmah seruan sifat Uluhiyah adalah supaya manusia terbebas dari perbudakan hidup sehingga dapat memiliki kebebasan jiwa. Hal ini untuk kemaslahatan manusia juga, bukan untuk kemaslahatan-Nya. Allah tidak berhajat apapun dari para makhluk-Nya. Pun yang terlihat di sini adalah kasih sayang dan welas asih-Nya semata. Hubungan hierarki yang tergambar lebih bersuasana dari bawah ke atas dalam pengertian yang di bawah bergantung dan berhajat ke atas.

Allah Ubudiyah pula. Segala apa dan siapa, setelah mendapat curahan apa saja dari atas, wajar bagi semua menuhankan-Nya dengan mengejawantahkannya dalam bentuk peribadatan dalam kerangka karena-Nya. Langit, bumi dan seisinya beribadat dengan bertasbih memuji-Nya. Bersujud simpuh di hadapan-Nya. Berbuat ma’ruf terhadap sesama karena-Nya. Sejatinya memang hanyalah Allah yang patut dan layak bagi manusia seru sekalian alam menyerahkan diri dan hidupnya.Manusia sendiri juga butuh mengekspresikan kecenderungan menyembah pada kekuatan sebab atas segala sesuatu. Pada dasarnya manusia butuh beribadah. Cara ini menjadikan sang hamba memperoleh keselamatan dan kemaslahatan hidup. Segala bentuk peribadatan sang makhluk bukan untuk kepentingan Allah melainkan untuk faedah para hamba sendiri. Agar para hamba tetap terus menerus dalam kemaslahatan. Yang tampak juga tidak lain melainkan kasih sayang dan welas asih Allah kepada seluruh hamba-Nya. Pola hubungan hierarki di sini lebih bersuasana dari bawah ke atas.Ini dapat membangun para hamba berderajat muttaqin yang siap mengantarkannya ke kebahagiaan hidup.

Manusia hidup dan berkembang memang dalam samudera sunnatullah. Sebahagian sunnatullahberkarakter deterministik. Sebahagian yang lain berkarakter fatalistik. Kedua ranah sunnatullah yang diselenggarakan dalam hidup manusia tersebut pada dasarnya untuk penyempurnaan penciptaan dan kejadiannya itu sendiri. Dengan ini makhluk manusia dapat dikenali dan dibedakan dari makhluk lain yang tidak berakal. Menurut watak kejadiannya manusia memang harus bisa dibedakan dari yang lain.Hikmahnya adalah peninggian derajat kemanusiaan itu sendiri. Dengan berpadunya sisi-sisi deterministik dengan sisi-sisi fatalistik, di dalam lautan sunnatullah, dalam dimensi ruang dan waktu yang sama, menjadikan manusia tampil genap dan utuh. Manusia terbukti bisa menjalani kehidupan deterministik sekaligus fatalistik secara bersamaan.Bisa menjalani keduanya secara seimbang dan berimbang. Grand-design penciptaan makhluk manusia memang seperti itu. Ini sungguh anugerah yang tidak mungkin manusia mampu menghitungnya. Sekali lagi ini karena kasih sayang dan welas asih Allah juga.

 

BAGIAN C

KHOTIMAH

 

  1. PERCIKAN-PERCIKAN TADABBUR

Tidak jemu-jemunya Allah mendorong dan memerintahkan manusia untuk selalu berpikir. Dalam agama dikenal dengan sebutan tafakkur. Tuntutan yang menggugah dan memiliki greget ini tersebar di berbagai ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Berpikir sering dibarengi dengan merenung. Berpikir berbeda dengan merenung, tetapi keduanya bisa hadir bersama. Berpikir, juga merenung, sambil menimbang-nimbang jadilah tadabbur. Tadabbur itu sendiri bisa digambarkan sebagai olah hati olah akal di keheningan, kebeningan dan kejernihan suasana.

Tidak diragukan faedah bergiat dalam lautan tadabbur. Cakrawala pemahaman baru, wawasan, pengetahuan juga ilmu akan menyertai untuk akhirnya dapat mengantarkan sang hamba menemui Allah dengan bekal yang lebih bertambah. Peduli dalam tadabbur mendapat tempat penting dalam agama dan orang-orang yang menyibukkan diri di dalamnya memperoleh penghargaan tinggi. Ulul albab adalah sebutan Al-Qur’an untuk kepedulian ini.

Bukanlah suatu kebetulan manakala perintah Allah yang paling dini kepada umat manusia adalah “iqra’!”. “Bacalah!”. Sudah barang tentu bukan sekedar membaca huruf demi huruf, kata demi kata dan semacamnya. Senyatanya banyak hal yang bisa dibaca dari sekeliling. Kapanpun dan di manapun.

Dalam pertaliannya dengan pemikiran yang diusung dalam buku ini, banyak perkara dan hal yang bisa dijadikan bahan tadabbur. Khususnya ikhwal determinisme dan fatalisme dalam konsep sunnatullah. Apabila kegiatan semacam diarahkan untuk dapat memenuhi sasaran yang diinginkan, maka persoalan-persoalan tersebut akan lebih bisa dipahami secara lebih sederhana, tuntas, tidak rumit, tidak berbelit. Dapat memuaskan hati dan akal pikiran.

Ada sejumlah hal yang sekiranya amat baik untuk dijadikan bahan olah hati olah akal. Tidak beranjak jauh dari persoalan-persoalan pokok yang tengah dibicarakan. Bila fasal-fasal sebelumnya berbicara dari sesuatu arah tertentu maka semesta percikan-percikan ini berbicara dari sesuatu arah tertentu yang lain. Berangkat dari awal arah berbeda, menuju titik tidak berbeda, berharap adanya sesuatu yang saling isi dan menggenapi.

Tadabbur dapat merupakan pantulan pelibatan segenap hati dan akal. Melakukannya dengan seluruh kerendahan hati dan pikiran terbuka akan amat membantu. Keberhasilannya amat ditentukan banyak hal, namun memulainya dengan semangat yang hanif sudah merupakan awal yang baik.

  1. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Allah mampu menjadikan manusia seluruhnya serba sama. Sama dalam perkara iman, kesukuan, ras, keyakinan / kepercayaan, macam, jenis, sifat dan seterusnya. Namun dalam kenyataan tidak demikian. Manusia sungguh majemuk adanya. Antara bukti dan angan penyeragaman tidak berpadu dalam hal-hal seperti ini.

Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus (10): 99).

Keseluruhan sifat Maha yang dimiliki Allah tidak menggambarkan tentang penyeragaman menyeluruh umat manusia. Walaupun bisa bila dikehendaki. Berarti ada hikmah besar di balik kenyataan majemuk yang ada. Kemajemukan yang ada terselenggara sedemikian rupa sehingga di dalamnya menyajikan adanya pilihan-pilihan determinisme. Menyajikan anugerah kehidupan deterministik. Determinisme digulirkan melalui sunnatullah ciptaan-Nya. Sampai ke urusan imanpun tidak dipaksakan.[86]

Al-Qur’an juga mengakui adanya kemajemukan umat manusia sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hujurat (49): 13. Arah dari kemajemukan ternyata amat bagus dan bersifat membangun, yaitu untuk saling kenal-mengenal. Mengenal dalam arti luas.

Sesungguhnyalah di dalam kemajemukan terhampar tantangan untuk bergiat dan bergerak terus. “Berlomba-lombalah menuju kebajikan . . .!” (QS. Al-Ma’idah (5): 48) akan lebih mudah dimengerti dalam pelataran kemajemukandan tidak untuk sebaliknya.

Kun!”. Hanya dengan satu kata bila Allah berkehendak maka akan “Fa Yakun . . .”. Tidak akan ada seorangpun manusia yang durhaka dan ingkar kepada-Nya. Nyatanya di dalam Al-Qur’an sendiri bertabur seruan untuk menjauhi kedurhakaan dan keingkaran. Ini artinya kemajemukan dimaksud nyata-nyata ada. Tanpa kemajemukan justru manusia akan mengalami pengerdilan yang terus menerus. Manusia tidak akan tumbuh dan berkembang sebaik yang ada di dunia majemuk ini. Tetapi kemajemukan di sini tidak dalam pengertian untuk membuat variasi kesesatan dan kemungkaran sebanyak-banyaknya.

  1. Kekuasaan Allah mutlak adanya. Tidak akan berkurang sedikitpun bila manusia menjalani kehidupan deterministik. Toh sisi lainnya manusia menjalani kehidupan fatalistik. Sesungguhnya kekuasaan Allah akan tampak lebih agung bila manusia tertakdir menjalani keunikan hidup deterministik sekaligus fatalistik bersama-sama secara seimbang dalam lautan sunnatullah. Mengayuh kehidupan deterministik itu bagus.Mengayuh kehidupan fatalistik itu juga bagus.Mengayuh dalam kedua aspek kehidupan tersebut secara bersama-sama itu bukan saja bagus dan bagus tetapi kelebihan.Bernilai lebih. Sesuatu citra maha karya dari Allah sekaligus mewakili citra kehebatan-Nya.
  2. Barangkali manusia adalah satu-satunya jenis makhluk yang didesain secara khusus dan berbeda. Berpadunya kehidupan deterministik dan kehidupan fatalistik dalam takdir yang tepat dan selaras yang disangga oleh sunnatullah ada dalam diri manusia, tidak untuk makhluk jenis lain. Perkara nyata ini sungguh amat besar artinya bagi manusia. Tetapi menjadi tidak seberapa bila ditilik dari perspektif alam semesta. Bilapun manusia diberi kekuasaan dan wewenang luas senilai bumi dan paling jauh bulan (tingkat pencapaian perjalanan ruang angkasa berawak hingga saat ini dalam pengertian jauhnya) nilainya tidak juga seberapa di hadapan alam semesta. Alam semesta seisinya, minus separuh manusia, hanya kehidupan fatalistik yang juga disangga oleh sunnatullah yang dijalani. Disebut separuh manusia karena sebagian dari diri setiap manusia adalah deterministik dan sebagian lainnya fatalistik. Bisa dikatakan, wilayah hidup deterministik terlahap dan tenggelam oleh wilayah hidup fatalistik.

Bumi cumalah liliput bila dibanding tata surya di mana matahari adalah pusatnya. Di hadapan keluarga tata surya ini saja bumi sudah tenggelam karena kecilnya. Apa yang sudah tenggelam ini akan lebih tenggelam lagi di hadapan galaksi Bima Sakti (kumpulan bermilyar tata surya atau bintang gemintang). Di galaksi yang luas dan besarnya tidak terperikan ini keluarga matahari (bumi di dalam keluarga ini) ada di dalamnya. Galaksi Bima Sakti inipun tidaklah sendirian di alam semesta. Ada banyak galaksi lain yang kemudian membentuk keluarga yang jauh lebih besar kluster galaksi. Padahal kluster galaksi semacam ini di alam semesta tidak sedikit. Masing-masing semua itu adalah keluarga-keluarga super raksasa.Alhasil bumi menjadi semakin jauh terbenam dan tenggelam, bahkan sekedar terlihatpun tidak. Betul-betul laksana sebutir pasir yang dibelah ribuan kali di antara hamparan padang pasir yang tak bertepi. Bila begitu manusia hanya maha renik di hadapan alam. Determinisme kehidupan manusia seperti tidak ada karena saking tenggelamnya.

Perbandingan antara bumi (bumi dipandang sebagai dunia tersendiri) dan semesta alam semesta adalah perbandingan yang sangat tidak seimbang. Bila perbandingan ini meminjam bahasa atau persamaan ilmu hitung, pernyataannya menjadi nol dibanding tidak terhingga. Padahal apa yang tidak terhingga ini bila dibandingkan dengan Penciptanya sendiri, Allah, sungguh tidak seberapa. Persamaan ilmu hitung antara alam semesta dengan Allah adalah juga nol dibanding tidak terhingga. Alhasil, bumi yang sudah tenggelam di hadapan semesta alam semesta akan semakin terbenam dan tenggelam jauh di hadapan kekuasaan Allah. Jadi di mana-mana, di setiap titik di dalam dimensi ruang dan waktu yang ada, yang tampak adalah kekuasaan Allah semata. Manusia akan ternganga dengan sendirinya di hadapan semua ini. Dalam perspekstif ini, di mana-mana di setiap titik di dalam dua dimensi tersebut, yang tampak adalah fakta fatalisme.Walaupun demikian determinisme tetap bermakna bagi manusia.

Manusia, apalah artinya ia di depan belantara semesta perkara yang ada. Manusia bukanlah apa-apa, betapapun sangat berkuasanya ia di muka bumi. Akan tetapi yang bukan apa-apa ini ternyata dimuliakan Allah. Allah yang mutlak tidak terhingga saja berkenan menengok ke belakang pada bumi dan manusia yang menghuninya lalu mencurahkan semua rahmat-Nya di sana. Sungguh ini kenyataan luar biasa. Sedangkan manusia, bila berkuasa sedikit saja sudah lupa kanankiri malah kemudian sering berbuat zalim. Padahal Allah bisa saja mencampakkan manusia begitu saja, tetapi justru tidak demikian kejadiannya. Sesuatu Yang Sempurna tidak terhingga bersedia menimang-nimang si-nol sementara si-nol ini acap kotor dan mendurhakai-Nya (dimaafkan bila bersedia kembali) tidak akan ada atau terjadi bila bukan sesuatu yang memang sungguh luar biasa. Bila manusia berkedudukan di atas seperti ini sudah tentu akan gengsi. Tetapi Dia tidak. Dialah Allah terhadap semua makhluk-Nya. Manusia seharusnya heran dan takjub untuk kenyataan ini, namun acap terlalu sombong untuk mengakuinya.

Sungguh amat wajar bila dengan kemahabesaran yang ada, Allah tidak merasa perlu memperhatikan dan mengasihi manusia. Sementara di luar manusia, di luar bumi, ada terhampar sasaran perhatian yang jauh lebih besar. Nyatanya manusia tidak pernah ditinggalkan. Jadi ada sesuatu yang jauh melampaui apa yang dipikirkan atau apa yang mungkin sanggup dipikirkan oleh manusia. Sungguh manusia wajib bersyukur memiliki Tuhan yang seperti ini. Sayangnya selalu saja ada banyak manusia yang tidak memberikan sikap sepadan untuk kenyataan ini.

Bila diandaikan manusia memiliki kekuatan, kekuasaan sekaligus wewenang yang bobot nilainya setara langit, bumi dan seluruh isinya, di hadapan Allah tetap tidak ada artinya apa-apa. Tidak akan mengurangi sedikitpun kekuasaan Allah. Perbandingannya tetap nol melawan tidak terhingga. Seberapapun kedigdayaan yang diimpikan untuk dimiliki manusia tidak akan pernah menjadi unsur perubah atau pengurang terhadap kekuasaan-Nya. Dalam hamparan pelataran persoalan ini, apalah artinya kepemilikan hidup deterministik (?). Toh kehidupan deterministik tersebut tidak berdiri sendiri, karena di sebelah dekatnya ada kehidupan fatalistik.

  1. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, manusia acap dihadapkan pada persoalan-persoalan sulit, pelik, getir dan semacamnya hingga tidak jarang berbuntut putus asa. Sudah terlampau keras upaya yang dikerahkan tidak kunjung cita-cita dan harapan terwujud. Jangan disebut perkara-perkara semacam tidak memberi makna apa-apa. Juga bukan Allah tidak lagi memperhatikan para hamba-Nya.

Ada hikmah tersembunyi di balik perkara-perkara di atas dan selalu demikian adanya. Paling tidak menjelaskan tiga hal. Pertama, merupakan bukti tersendiri dalam bentuk yang lain bahwa terdapat kekuatan dan kekuasaan besar di luar diri manusia yang mengendalikan dan atau menunda tercapainya keinginan. Dialah Allah. Nalar sebuah keinginan adalah tercapainya keinginan itu sendiri. Kenyataannya tidak semua keinginan berujung keteraihan. Kedua, tidak / belum bertemunya harapan dan peraihan memberikan petunjuk tersendiri terhadap pentingnya kesabaran atau perlunya pengembangan dan peningkatan ikhtiar. Ini menuntut pemberdayaan lebih lanjut, kerja lebih giat. Ketiga, menyiratkan arti pentingnya sebuah penilaian kembali yang bersifat ke dalam. Apapun alasannya akan merupakan nilai tambah tersendiri bila tindakan mawas diri ini dilakukan. Kegagalan atau kebelumberhasilan menuntut kesediaan untuk menengok ke dalam untuk kemudian merumuskan langkah-langkah berikutnya. Di samping itu penting untuk diingat ajaran tentang tawakkal. Berserah diri kepada Allah setelah berusaha sebaik mungkin. Lebih-lebih bila usaha belum berbuah. Tawakkal menyodorkan sandaran vertikal yang kuat dan memberikan rasa aman, tenang, tenteram, tetap memiliki harapan untuk ke depan sehingga dapat menikmati hidup walaupun dalam keadaan sulit. Banyaknya kasus bunuh diri dalam kesulitan yang membalut memperlihatkan nilai tawakkal yang rendah. Bukan menghadapi kenyataan hidup dengan tegar tetapi malah menjadi pengecut dengan memilih lari dari tantangan hidup yang menghadang di depan. Dalam keadaan seperti ini memperkuat pandangan fatalisme bahwa segala sesuatunya telah diciptakan Allah, termasuk usaha dan hasilnya, mendapatkan pertautan keselarasannya.

  1. Allah Maha Peduli pada para hamba-Nya. Allah menyukai para hamba-Nya yang kuat daripada yang lemah. Banyak keuntungan menjadi orang kuat. Nabi Muhammad dalam salah satu sabdanya menyebutkan:

Seorang mukmin yang kuat itu lebih baikdan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah, meskipun masing-masing dari keduanya adalah baik. Bergegasemangatlah terhadap sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah kamu mengatakan: “Seandainya aku lakukan niscaya akan begini dan begini”. Akan tetapi katakanlah: “Semua memang sudah menjadi suratan taqdir Allah. Apa yang dikehendaki Allah pasti terlaksana, sekalipun misalnya kamu harus menaklukkan perbuatannya syetan”. (H.R. Imam Muslim)

Salah satu piranti untuk mendidik agar manusia kuat, kuat lahir batin, adalah dengan ujian hidup. Tentu saja ujian dimaksud jauh dari semangat kebencian melainkan selalu sebaliknya, semangat kasih sayang dan welas asih yang besar. Allah menginginkan para hamba-Nya menjadi pribadi-pribadi kuat dan bermutu. Teruji mutu keimanan, ketaatan, ketaqwaan dan keseluruhan anasir kemanusiaannya. Semua itu diarahkan pada peninggian, penguatan dan pemuliaan derajat dan martabat manusia. Untuk itulah ujian-ujian hidup selalu ada karena dalam hidup dibutuhkan pribadi-pribadi kuat lagi teruji. Kapanpun, di manapun dan terhadap siapapun demikian adanya. Soal jenis, sifat dan bentuk serta bobot ujian amat tergantung dari hak dan kewenangan Allah. Penguji hidup. Manusia tidak memilih ujian melainkan dipilihkan.

 

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-An’am (6): 165).

Ujian hidup itu sendiri berpengertian luas. Bukan saja ketika orang menghadapi kesempitan, kesulitan, keterhempitan maupun kegetiran, melainkan juga ketika mereguk kelapangan, kelimpahan, kemewahan maupun kelebihan.

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?”(Allah berfirman):“Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?” (QS. Al-An’am (6): 53).

Ayat-ayat tentang ujian hidup di dalamAl-Qur’an banyak.[87] Jadi mengandaikan hidup tanpa ujian hidup adalah bertentangan dengan tujuan hidup itu sendiri. Kenyataannya tidak ada orang yang kuat dan menonjol tanpa ujian hidup. Tamsil di dunia pendidikan: Tidak pernah ada anak manusia di sekolah yang naik kelas (derajat) tanpa melewati ujian berkala tiap jenjang waktu tertentu. Padahal semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, bobot dan tingkat kesulitan ujian juga tidak semakin mudah, melainkan sebaliknya. Hanya bagi yang mampu, sanggup lagi sabarlah yang berhak menyandang gelaran-gelaran kehormatan terkait.

Ujian hidup dapat dipandang sebagai salah satu bentuk keadilan hidup juga. Segala bentuk ujian memiliki kesejajaran dengan sisi-sisi determinisme hidup. Karena itu untuk menyelesaikan ujian-ujian yang ada diperlukan wilayah hidup deterministik untuk bisa menentukan pilihan-pilihan pemecahan.

  1. Pengertian dan pemahaman mendalam tentang kehendak dan perbuatan dalam pengejawantahan hidup keseharian yang dipertautkan dengan kemahaadilan dan kemahakuasaan Allah memungkinkan manusia menjalani hidup dengan baik dan senantiasa memiliki jawaban tepat atas seluruh persoalan hidup yang dihadapi. Persoalan hidup senantiasa majemuk dan bergulir silih berganti. Keselamatan hidup di berbagai kemungkinan (baik atau buruk) persoalan adalah harga yang tidak bisa ditawar. Hidup bisa lapang atau sempit, namun unsur keselamatan adalah utama. Selamat di dunia, selamat di akhirat.

Adakalanya dalam hidup ini diperlukan sikap menerima kenyataan hidup. Tidak lari dari kenyataan, tidak juga menyalahkan sekeliling atau mengkambinghitamkan pihak lain, apalagi terhadap Allah, ketika menghadapi kesulitan, kepahitan, kegetiran dan semacamnya. Penerimaan ini memungkinkan hidup tetap bahagia, ceria, damai, tenteram, tersenyum walau tengah dalam berbagai kesulitan. Resep jitu untuk keadaan ini adalah menyandarkan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa telah mendesain hidup dengan tabiat fatalistik-nya. Semua itu dikuasai dan diciptakan Allah adanya.

Adakalanya dalam hidup ini dihadapkan banyak pilihan, kelapangan, ketercukupan, kelebihan, kelimpahan dan semacamnya. Segala sesuatu tampak berpihak dan bersahabat. Manusia bergairah dalam hidup dan melihat dirinya leluasa melakukan berbagai perkara. Merdeka dalam mengatur dan menjalani dinamika hidup keseharian. Terasa tidak ada yang menghalangi. Resep ampuh untuk keadaan ini adalah menyandarkan keyakinan bahwa Allah Maha Adil telah menganugerahi determinisme hidup. Manusia dituntut untuk bersyukur.

Seandainya agama hanya mengajarkan salah satu saja dari dua landasan penyandaran di atas dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan hidup maka akan terasa ada sesuatu yang pincang. Hanya bisa memberikan jawaban untuk satu sisi persoalan hidup dan tidak berdaya di sisi lainnya. Padahal manusia disodori untuk menjalani hal-hal yang terkait dengan kehidupan deterministik dan hal-hal yang terkait dengan kehidupan fatalistik secara silih berganti dalam seluruh perjalanan hidupnya. Oleh karena itu amat tepat bila kedua-duanya diberikan sekaligus.

Bila hidup sedang suka, maka damai, tenteram, bahagia, ingat Allah menyertai adanya. Bila hidup tengah duka, maka akan tetap diselimuti rasa damai, tenteram, bahagia, ingat Allah. Jadi dalam suka maupun duka, hidup tetap tersenyum dan berpengharapan. Tidak perlu lalai ketika dalam suka, tidak perlu mengambil jalan pintas ketika dalam duka.

  1. Persenyawaan yang berhasil, dalam takaran serasi dan tepat antara determinisme dan fatalisme hidup, di dalam lautan sunnatullah, terjadi pada waktu dan tempat yang sama. Ini desain konsep yang luar biasa. Ciptaan yang luar biasa mencerminkan Penciptanya yang jauh lebih luar biasa.

Kiranya hanya manusia yang kepadanya dititahkan untuk menjalani hidup dalam desain konsep yang luar biasa tersebut. Rasa-rasanya hanya umat manusia dari antara seluruh makhluk yang ada yang didesain secara istimewa dan khusus tadi. Tugas sebagai abdun dan khalifah di muka bumi menuntut desain konsep tersendiri memang. Ini merupakan perkecualian tersendiri yang tidak dimiliki makhluk lain. Ini juga membuat manusia berbeda dan dibedakan dari makhluk lain. Sebuah peluang sekaligus tantangan. Kemaslahatan atau kemudaratan.

 

  1. BERCENGKERAMA UNTUK SEBUAH HARAPAN

Ada sesuatu dalam dunia Islam yang dapat dipandang sebagai ‘emas yang hilang’. Karena merupakan barang berharga, menjadi kewajiban muslim seluruhnya untuk mencari dan menemukannya kembali. Tidak mudah memang tetapi bukan sama sekali tidak mungkin.

Al-Qur’an, sebagai sumber nilai utama, berpandangan bahwa iman senantiasa mengundang amal saleh dan dapat diharapkan menjadi anasir perubah agar kehidupan perorangan dan kelompok tampil lebih anggun, adil dan bermutu tinggi. Iman juga perlu ditopang dengan ilmu untuk mengekspresikannya ke dunia nyata (QS. Al-Mujadalah (58): 11). Iman tanpa pembumian menuju hal-hal nyata dalam kehidupan umat manusia belumlah kaffah. Kehidupan yang indah penuh ampunan Allah atau Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur menghajatkan banyak prasyarat dan syarat untuk meraihnya. Ilmu salah sebuahnya. Dan ilmu akan berjalan di rel shiratal-mustaqim bila dibimbing iman. Iman yang bertahta di menara gading semata juga belum cukup. Iman harus bertahta di menara air pula. Dengan kata lain membumi. Sementara pemikiran yang diusung dalam buku ini pada dasarnya juga berangkat dari semangat iman.

Dalam pelataran sejarah, pengaruh pandangan hidup deterministik dalam hubungannya dengan keadilan dan kekuasaan Allah terbukti memberikan pengaruh yang tidak bisa diabaikan. Etos kerja, elan perilaku, cara seseorang melihat serba hal, serba perkara dan hari depan, cara seseorang mengambil keputusan untuk bertindak dan beraktifitasbisa dikemudikan dinamikanya dengan cara hidup deterministik. Oleh karena itu pandangan deterministik harus diarahkan untuk meraih, membangun dan meninggikan negeri sejahtera penuh ampunan Tuhan. Bukan sebaliknya, membuat tenggelam dalam buih.

Abbas Mahmud al-Aqqad, sebagaimana ditulis oleh Syafi’i Ma’arif, dalam karyanya Al-Insaan fii al-Qur’aan al-Kariim, memperkirakan bahwa semua aliran pemikiran dan ideologi ciptaan manusia ini akan larut bersama larutnya abad XX ini, sedang pesan-pesan yang ditimba Al-Qur’an akan tetap bertahan menghadapi bantingan dan tantangan zaman. Kita tidaklah dapat mengatakan dengan pasti bahwa pemikiran Al-Aqqad ini akan benar-benar menjadi kenyataan sejarah pada permulaan abad yang akan datang (abad sekarang, pen.). Tetapi bahwa dunia kini sedang mencari pergantungan spiritual yang kokoh yang tidak lagi diombang-ambingkan oleh tarikan gelombang materialisme-atheisme yang kasar dan ganas, mungkin dapat kita sepakati.[88] Ini artinya adalah persoalan waktu, cepat atau lambat. Yang diharapkan adalah pemikiran yang disajikan dalam buku ini bisa menjadi salah satu pemenuh kebutuhan tersebut.

Dalam jagat dialog pemikiran, ihwal gagasan yang muncul dan tenggelam untuk kemudian ada yang muncul kembali, baik dalam bentuk lama ataupun yang sudah diperbaharui, merupakan hal yang acap terjadi. Tidak menyimpang dari arah Al-Aqqad, dinamika pemikiran dalamranah seperti di atas juga terjadi di Indonesia. Dalam buku Islam Rasional (1995) yang merekam hampir seluruh pemikiran keislaman Harun Nasution sejak tahun 1970 sampai 1994 (diedit oleh Syaiful Muzani), terutama mengenai tuntutan modernisasi bagi masyarakat muslim. Dalam buku itu, Harun berpendapat bahwa keterbelakangan masyarakat muslim, tak terkecuali di Indonesia, disebabkan lambatnya mengambil bagian dalam modernisasi dan dominannya pandangan hidup tradisional, khususnya theologi Asy’ariyah. Hal itu, menurut Harun, harus diubah dengan pandangan rasional yang sebenarnya telah dikembangkan oleh theologi Mu’tazilah. Karena itu, reaktualisasi dan sosialisasi theologi Mu’tazilah merupakan langkah strategis yang harus diambil, sehingga umat Islam secara kultural siap terlibat dalam pembangunan dan modernisasi dengan tetap berpijak pada tradisi sendiri. Karena itulah, buku ini memiliki kekuatan analisis terhadap berbagai kemandegan umat, serta menawarkan alternatif solusi fundamental bagi persoalan keislaman.[89]

Jelas bahwa pemikiran Mu’tazilah yang menopang pandangan determinisme dilirik dan ditautkan dengan pembalikan kemandegan masyarakat muslim. Masyarakat muslim terlalu jumud untuk dinamis. Kerinduan untuk menguatkan pemikiran Mu’tazilah dapat dimengerti. Sebaiknya tidak menekankan sisi Mu’tazilah-nya tetapi menekankan kebaikan pandangan hidup deterministik yang nyata ditopang oleh nash-nash Al-Qur’an.Penguatan kerinduan tersebut akan lebih baik bila dibarengi semacam penyeimbangan. Artinya penguatan pandangan hidup deterministik harus menyertakan penguatan pandangan hidup fatalistik yang juga nyata ditopang oleh nash-nash Al-Qur’an. Ini karena hidup fatalistik juga memiliki kebaikan-kebaikan.Bila membayangkan determinisme tidak bisa hidup bersama fatalisme itu karena belum melihat konsep sunnatullah yang bisa menjadi rumah sehat dan nyaman bagi keduanya.

Dalam tubuh umat memang tidak pernah sepi dari dinamika pemikiran. Semua beragam dan berbagai.Menyikapi dinamika pemikiran tersebut, bersikap dewasa dan sehat amatlah penting. Membiasakan musyawarah atau bercengkerama termasuk di dalamnya. Berulangkali Al-Qur’an menekankan keutamaan sikap ini.[90] Lebih-lebih dalam perbedaan pandangan. Bila kuntum khaira ummatin adalah sebuah harapan maka bersikap dewasa di depan dinamika dimaksudadalah sebuah harapan.

Umat dalam bingkaikuntum khaira ummatinakan menilai dan mengukur setiap pemikiran yang tumbuh dan berkembang dalam dinamika yang ada. Jika ternyata maslahat,sesuai dengan nilai-nilai agama, akan diterima. Bila sebaliknya, mudarat, akan tertolak atau terkubur oleh waktu dengan sendirinya. Untuk yang tertolak kadang pertaruhannya lebih besar dari harapannya. Yang demikian tidak harus menjadi masalah. Mungkin ada hal-hal yang masih harus diperbaiki.

Emas yang hilang adalah sebuah lukisan yang tidak nyaman, tetapi juga merupakan kerinduan panjang untuk menggenggamnya kembali. Oleh karenanya pengayaan kehidupan bersama umat dengan pengayaan berbagai pemikiran di dalamnya dapat menjadi pertalian sebab-akibat secara langsung. Bahkan derajat kemajuan umat dapat dipandang sebagai berbanding lurus dengan derajat pengayaan dinamika pemikiran yang tumbuh dan berkembang dalamnya. Di hamparan pelataran ini, lahirnya karya-karya besar di jagat pemikiran senantiasa menjadi asa dan penantian.

Para pakar kemasadepanan meramalkan bahwa abad XXI adalah abad agama. Agama, atau dalam hal ini pemeluknya, akan lebih hidup. Ini ada hubungannya dengan kenyataan yang sudah ada dan terjadi sudah lama di mana dunia semakin kering dari gizi batiniah. Semakin tidak berjiwa. Orang kian jenuh dengan hanya bersandar pada dunia materi. Dalam keadaan kerontang dunia tengah mencari sandaran vertikal yang kokoh. Tidak ada artinya hidup basah jasmani namun kering rohani, melainkan seimbang dan berimbang antara keduanya. Di antara para pakar kemasadepanan yang mengetengahkan era kebangkitan agama adalah Ziauddin Sardar, John Naisbitt–PatAburdene, Joseph Arnold Toynbee.

Tidaklah berlebihan dan bukan pula kebetulan bila Islam dilirik oleh masa depan. Islam diakui memiliki syarat dan prasyarat meyakinkan untuk mengisi ruang jiwani abad dimaksud. Islam memiliki hal-hal yang menjadikannya sebuah negeri idaman.

OIC (Organization of Islamic Conference) atau di dalam negeri dikenal dengan OKI (Organisasi Konferensi Islam) dalam salah satu KTT menelorkan keputusan yang mencanangkan abad XV Hijriyah adalah abad kebangkitan masyarakat muslim kedua. Kini di hadapan umatmuslim seluruhnya abad dimaksud merupakan peluang dan tantangan sekaligus pertaruhan. Oleh karena itu segenap warga kuntum khaira ummatin harus mengisinya dengan sebanyak mungkin karya-karya yang bermanfaat. Lalu, pemikiran-pemikiran yang diusung dalam buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu pengisinya. Menjadi bagian yang memasuki wilayah ruang publik untuk bercengkerama.

 

XII. BEBERAPA CATATAN

Pemikiran yang diusung dalam buku ini tidak diarahkan untuk menerbitkan pertentangan-pertentangan baru dengan pemikiran-pemikiran yang sudah ada seperti Qadariyah, Mu’tazilah, Jabariyah, Asy’ariyah, Maturidiyah, Murji’ah maupun Khawarij. Titik arah yang diinginkan justru untuk mengulurkan salam persahabatan, untuk merangkul semua dalam satu rumusan padu. Tidak ada penguburan. Bila tidak terlampau berlebihan, keinginan untuk merajut kalimatun wasathan adalah harapan yang ada.

Semua pandangan aliran-aliran Teologi, yang membahas determinisme dan fatalisme hidup, yang pernah ada telah terekam oleh sejarah.Semua bisa didialogkan. Semua tetap menuai faidah untuk saling isi dan menggenapi. Yang baik dan relevan dipakai, yang tidak baik dan tidak relevan tidak dipakai.

Tidak bisa dilupakan begitu saja peran yang pernah dimainkan oleh aliran-aliran Teologi yang pernah ada dan yang masih ada dalam percaturan sejarah perkembangan dunia Islam. Di antara semuanya terdapat hubungan sebab-akibat. Tidak pernah ada pemikiran yang terbit di sebuah ruang kosong. Bila hari ini adalah bagian atau kelanjutan hari-hari sebelumnya maka tidak layak ada gesekan terhadap yang manapun, betapapun ada yang tidak disetujui. Yang tidak disetujui atau tertolak (tesa), karena menyimpang misalnya, tetap bermanfaat di sisi tertentu.Manfaatnya adalah melahirkan anti-tesa yang dibangun orang yang menolaknya.Dari tesa, lalu anti-tesa, muncullah sintesa. Begitu salah satu cara ilmu berkembang. Akhirnya kembali kepada umat. Umat mempunyai cara melihat, cara menakar, lalu menilai sebelum menolak atau menyetujui. Selalu demikian dalam seluruh pusaran sejarahnya.

Pemikiran dalam buku ini diusahakan dalam rumusan sesederhana mungkin agar bisa dipahami oleh khalayak seluas mungkin. Kiranya menjadi rumah yang jembar bagi semua. Sederhana itu kata kunci. Dapat dimengerti tanpa kesulitan berarti itu setelah kunci ada di tangan. Menyiapkan pikiran terbuka adalah salah satu cara memulai. Hadir secara inklusif adalah hadir yang merangkul.

Manusia memandang tingkah lakunya dalam gambaran berbeda dari flora, fauna maupun alam sekeliling pada dasarnya merupakan pantulan dari caranya memandang sifat-sifat Allah. Pemutlakan keadilan Allah atas segenap kehendak dan perbuatan menggiring manusia menghayati kehidupan deterministik. Pemutlakan kekuasaan Allah atas segala kehendak dan perbuatan menggiring manusia menghayati kehidupan fatalistik. Untuk seterusnya, pemahaman yang baik atas berbagai anasir dan pernik sunnatullah memungkinkan untukmengerti bahwa manusia memang berenang di dalamnya. Manusia itu deterministik, manusia itu juga fatalistik, berenang dalam lautan sunnatullah, menjalani dualisme kehendak dan perbuatan.Begitu seterusnya.

Dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar ungkapan ‘bebas dan bertanggung jawab’. Di banyak kesempatan acap dijadikan kalimat kunci. Bila direnungkan dalam-dalam ungkapan tadi dapat melampaui suratan bunyi lisannya. Ungkapan tersebut memang terbit bukan dari rumah pemikiran wilayah Teologi. Namun memiliki nuansa dan sisi-sisi menarik bila didekati dari wilayah tersebut. Bebas dan bertanggung jawab juga berpelataran pada perkara perilaku manusia. Bebas menggambarkan adanya pilihan-pilihan perilaku. Bertanggung jawab menggambarkan adanya ikatan-ikatan, keharusan atau ketidakharusan, kebolehan atau ketidakbolehan. Pemahaman yang disederhanakan dari penggambaran ini adalah adanya suasana keterpaksaan. Bertanggung jawab juga dapat dimengerti sebagai pantulan langsung dari adanya bebas. Secara umum menggambarkan determinisme dan fatalisme tingkah laku juga.

Dalam masyarakat, untaian kalimat dimaksud juga diterima sebagai nilai. Ini semacam kearifan lokal dalam bentuknya tersendiri. Tidak ada penyangkalan atasnya. Dengan demikian kandungan-kandungan yang ada dalam ungkapan tersebut dapat diharapkan untuk lebih mempermudah pemahaman dan pencerapan atas pemikiran-pemikiran yang diusung dalam buku ini.

Di sudut lain, Mu’tazilah dalam sejarah perkembangannya berawal melalui peradaban Yunani kuno yang dinilai memiliki penghargaan tinggi terhadap kekuatan akal. Hal ini menarik perhatian kalangan cendekiawan dinasti Abbasiyah pada waktu itu sehingga dijadikan paham resmi negara. Lain dulu lain sekarang. Kini Mu’tazilah mulai muncul melalui peradaban Barat. Diperkirakan akan menarik minat dan perhatian kaum cendekia masyarakat muslim dewasa ini. Itulah sebabnya mulai dikenal nama neo-Mu’tazilah.

Dalam perspektif pemikiran di buku ini: jangan dilihat Mu’tazilah-nya, tetapi dilihat dari kebaikan-kebaikan pandangan hidup deterministik. Untuk kebaikan-kebaikan pandangan hidup deterministik tidak harus Mu’tazilah. Tinggal berikutnya adalah bagaimana memberikan keseimbangan terhadap sisi positif dari kebaikan-kebaikan tersebut. Di sini penting dan perlu dilihat juga kebaikan-kebaikan pandangan hidup fatalistik. Keduanya sama-sama ditopang nash-nash Al-Qur’an. Melalui konsep sunnatullah keduanya saling memperkuat. Saling menggenapi. Jauh dari saling bertentangan.

Pandangan hidup deterministik dan pandangan hidup fatalistik yang dilihat sebagai dua perkara yang saling bertentangan itu lebih disebabkan oleh belum hadirnya jembatan penghubung yang cocok.Kini dengan sunnatullah, sebuah konsepsi yang ditawarkan, jembatan penghubung yang sebenarnya sudah lama dicari-cari tersebut sudah hadir.

Dinamika pemikiran memang acap memperoleh guyuran in-put dari berbagai sisi. Pengayaan wawasan amat baik bila dipahami sebagai rahmat. Bahan kajian menjadi tidak kering. Cengkerama menjadi lebih hidup. Dalam nuansa dan suasana inilah apa yang diusung dalam buku yang dibeber di sini itu ikut bercengkerama. Berharap untuk bisa turut memperkaya khazanah pemikiran. Untuk ke sana diupayakan dapat memberikan yang terbaik dari ikhtiar yang sungguh-sungguh. Ikhtiar berbalut ketulusan hati.

Mengulangi apa yang sudah ada dalam fasal-fasal sebelumnya, karena ingin lebih menggarisbawahi, tentang pokok-pokok pemikiran yang mendasar, yang menjadi titik keberangkatan dikembangkannya pemikiran yang tengah digelindingkan ini, adalah suatu kebutuhan. Bahwa manusia tidak bisa digambarkan laksana suatu tatanan, suatu cara, suatu mekanisme, suatu pola kerja biologis atau suatu bentuk kehidupan dan jiwa yang berjalan atau berperilaku dengan suatu pola yang tidak memiliki pilihan. Sebab manusia bukan kumpulan dari bidak-bidak catur. Tidak juga dapat dibayangkan bahwa kekuasaan Allah, sementara Allah sendiri juga Maha Lembut, Maha Welas Asih, terselenggara secara sewenang-wenang atas seluruh gerak dan kegiatan para hamba-Nya. Sebaliknya manusia juga tidak mungkin dipahami laksana suatu tatanan, suatu cara, suatu mekanisme, suatu pola kerja biologis atau suatu bentuk kehidupan dan jiwa, yang berjalan atau berperilaku tanpa aturan, ukuran, nilai, ketentuan, norma, syari’at, sunnah, hukum dan semacamnya yang sudah di-qadar-kan Allah sebelumnya. Sebab manusia tidak hidup di luar rumah megah yang bernama alam semesta yang dibangun dengan landasan dimensi ruang dan waktu yang dipenuhi berbagai jenis dan ragam sunnatullah di dalamnya.

Allah juga mustahil dilukiskan sebagai Dzat yang tidak berdaya, tidak berkuasa, atas seluruh ciptaan-Nya, baik yang bertakar renik, madya, raksasa maupun alam semesta yang tidak terperi luasnya, termasuk di dalamnya tentang kehendak dan perbuatan manusia. Ini karena Allah mutlak Maha Kuasa. Allah juga mustahil digambarkan sebagai Dzat yang zalim, tidak adil, sewenang-wenang terhadap seluruh makhluk-Nya terutama terhadap makhluk manusia. Ini karena Allah mutlak Maha Adil.

Dengan sunnatullah ternyata semua dapat dirangkul dan diselesaikan. Ini bukan suatu kebetulan. Sunnatullah sendiri sudah ada sejak dunia diciptakan. Hanya saja belum tersadari rahasia dan khasiatnya yang ternyata mampu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan pelik tentang kehendak dan perbuatan manusia dalam arus pemikiran terkait. Pemikiran-pemikiran yang diusung di sini mengajak untuk menyadarinya. Sunnatullahyang merangkum determinisme dan fatalisme membuat segala sesuatunya menjadi mudah dan sederhana.

Mudah-mudahan apa yang tertuang dan terusung dalam buku ini dapat menyodorkan manfaat yang seluas-luasnya terhadap seluas-luasnya pihak. Kepada Allah jugalah semua ini pada akhirnya dikembalikan dan dimohonkan ridla.

Amin ya Rabbal alamin.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aceh, Abu Bakar, Prof. Dr. H., “Salaf, Islam dalam Masa Murni”, Ramadhani, Solo, 1986.

Al-Hasyimi, As-Sayyid Ahmad, “Mukhtarul Ahadits Hikamil Muhammadiyah”, diindonesiakan oleh H. Hadiyah Salim, “Tarjamah Mukhtarul Ahadits”, cetakan I, P.T. Al-Ma’arif, Bandung, 1977.

Al-Kalali, Asad, M., “Kamus Indonesia-Arab”, cetakan vii, Bulan Bintang, Jakarta, 1997.

Al-Syahrastani, Abu al-Fath Muhammad ’Abd al-Karim bin Abu Bakar Ahmad, “Al-Milal wa al-Nihal”, diedit oleh ’Abd al-Aziz Muhammad al-Wakil, Daar al-Fikr, Beirut, tanpa tahun.

Amin, Ahmad, “Fajr al-Islam”, Al-Nahdhal al-Mishriyyah, Cairo, 1975.

Asy’ary, Sukmadjaya dan Rosy Yusuf, “Indeks Al-Qur’an”, Penerbit Pustaka, Bandung, 1984.

Ba’al Baki, Munir, “Al-Mawrid, A Modern English-Arabic Dictionary”, Daar El-Ilm lil Malayen, Beirut, 1977.

Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam – Departemen Agama Republik Indonesia, “Aqidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah kelas III”, Jakarta, 1992.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – -, “Filsafat Pendidikan Islam”, Proyek Pembinaan Pra-sarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama, Jakarta, 1984.

Hadi, Sutrisno, Prof. Drs, MA., “Bimbingan Menulis Skripsi Thesis”, jilid II, cetakan viii, Andi Offset, Yogyakarta, 1993.

Hasyim, Umar, “Mencari Taqdir”, Ramadhani, Solo, 1983.

Lembaga Studi Agama dan Filsafat, “Ulumul Qur’an”, no. 1, volume iv, Jakarta, 1993.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – -, “Ulumul Qur’an”, no. 2, volume iv, Jakarta, 1993.

Ma’arif, Ahmad Syafi’i dan Said Tuhuleley, “Al-Qur’an dan Tantangan Modernitas”, cetakan II, SIPRESS, Yogyakarta, 1993.

Madjid, Nurcholis, Prof, Dr., et., “Teologi Islam Rasional, Apresiasi terhadap Wacana dan Praksis Harun Nasution”, editor Abdul Halim, Ciputat Press, Jakarta, 2005.

Ma’luf, Louis, “Al-Munjid fii al-A’lam”, Daar al-Masyriq, Beirut, 1991.

Muhammad, Jalal al-Din, Dr., “Nasy’ah al-Asy’ariyah wa Tathowwuruha”, Daar al-Kitab al-Lubnani, Beirut, 1975.

Munawwir, Achmad Warson, “Kamus Al-Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap”, edisi lux, Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, Pustaka Progressif, Yogyakarta, 1984.

Nasution, Harun, Prof. Dr., “Filsafat Agama”, cetakan vi, Bulan Bintang, Jakarta, 1987.

– – – – – – – – – – – – – – – – – -, “Teologi   Islam,   Aliran – aliran,  Sejarah,  Analisa Perbandingan”, UI Press, Jakarta, 1986.

Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta, “Tipologi Manusia Pembangunan dalam Al-Qur’an”, cetakan I, PTIQ Jakarta, Jakarta, 1988.

Peursen, C.A. Van, Prof. Dr.,  “Cultuur in Stroomversnelling” een geheel bewerkte uitgave van  “Strategie van de Cultuur, Elsevier”, diindonesiakan oleh Dick Hartoko, “Strategi Kebudayaan”, cet. V, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1985

Poedjawijatna, Prof. Ir., “Logika, Filsafat Berpikir”, cetakan VII, Rineka Cipta, Jakarta, 1992.

Rahman, Jalaluddin, Dr., “Konsep Perbuatan Manusia menurut Qur’an, Suatu Kajian Tafsir Tematik”, cetakan I, Bulan Bintang, Jakarta, 1992.

Rifa’i, Muhammad, Drs. H., “Perbandingan Agama”, cetakan VII, Wicaksana, Semarang, 1983.

– – – – – – – – – – – – – – – – – dan Drs. R.S. Abdul Aziz, “Aqidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah Kelas I”, edisi 1988 / 1989, jilid i, cetakan III, Wicaksana, Semarang, 1989.

– – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – – -, “Aqidah Akhlak untuk Madrasah Aliyah Kelas III”, Wicaksana, Semarang, 1989.

Sunarto, Ahmad, “Kumpulan Mutiara Hadits-hadits Pilihan Shahih Muslim”, cetakan Agustus 1996, Penerbit Husaini Bandung, Bandung, 1996.

Titus, Harold H. / Marylin S. Smith / Richard T. Nolan, “Living Issues in Phylosophy”, diindonesiakan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi, “Persoalan-persoalan Filsafat”, cetakan I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984.

Wojowasito, S., Prof. Dr. dan WJS. Poerwodarminto, “Kamus Lengkap, Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris”, cetakan X, Hasta, Bandung, 1980.

Yahya, Harun, Dr., “Kesempurnaan Penciptaan Atom”, Pustaka Sains Populer Islami, edisi Bahasa Indonesia, cetakan I Maret 2004, Dzikra, Bandung, Maret 2004 / Shafar 1425H.

Yayasan Penyelenggara Penterjemah / Pentafsir Al-Qur’an, “Al-Qur’an dan Terjemahnya”, Mushaf Al-Madinah An-Nabawiyah, Kompleks Percetakan Al-Qur’an Khadim Al-Haramain Asy-SyaRifa’in Raja Fahd, Madinah, 1412 H.

Zuhairini, Dra., dkk., “Sejarah Pendidikan Islam”, edisi i, cetakan IV, Bumi Aksara dan Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam – Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta, 1995.

[1] Prof. Dr. Harun Nasution, “Teologi Islam, Aliran-aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan”, UI Press, Jakarta, 1986, hal. ix

[2]Prof. Dr. H. Abu Bakar Atjeh, “Salaf, Islam dalam Masa Murni”, Ramadhani, Solo, 1986.

[3]Ibid., hal. 123

[4]Dra. Zuhairini, dkk, “Sejarah Pendidikan Islam”, Bumi Aksara dan Dirjen Bin Bagais Depag RI, edisi-I, cet. IV, Jakarta, 1995, hal. 106

[5]Harun Nasution, “Teologi Islam”, op.cit., hal. 1

[6]Ibid., hal. 7

[7]Ibid., hal. 31

[8]Harold H. Titus/Marylin S. Smith/Richard T. Nolan, “Living Issues in Phylosophy”, diindonesiakan oleh Prof. Dr. HM. Rasyidi, “Persoalan-persoalan Filsafat”, cet. I, Bulan Bintang, Jakarta, 1984, hal. 100.

[9]Oleh Harold H. Titus, dkk., istilah determinisme ini dipakai untuk pengertian perilaku terpaksa. Namun oleh sarjana-sarjana lain, istilah tersebut dipakai untuk pengertian sebaliknya, yaitu perilaku merdeka. Sebenarnya secara kebahasaan, perbedaan tadi ada penjelasannya. Determinisme berakar dari kata ‘determine’ (Inggris) yang artinya membuat penentuan. Untuk bentuk kata aktif berarti ‘menentukan’. Dengan demikian sang pelaku: bebas. Sebaliknya untuk bentuk kata pasif berarti ‘ditentukan’. Sang pelaku: terpaksa.

Harold, dkk., memakai kata determinisme dalam bentuk kata pasif. Yang lain mengambil bentuk aktifnya. Jadi satu kata mewakili dua pengertian. Dalam yel-yel acap muncul istilah ‘self-determination’, artinya penentuan nasib oleh diri sendiri. Bentuk kata yang dipakai aktif.

[10]Harold, dkk., op.cit., hal. 98

[11]Ibid., hal. 104

[12]Ibid., hal. 105

[13]Abu Bakar Atjeh, op.cit., hal. 124

[14]Percaya adanya qadar dan qadla adalah Rukun Iman ke-6, setelah beriman kepada Allah, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan hari akhir.

[15]Ahmad Syafii Ma’arif dan Said Tuhuleley, “Al-Qur’an dan Tantangan Modernitas”, cet.  II, SIPress, Yogyakarta, 1993, hal. 7.

[16]H. Muhammad Rifai dan RS. Abdul Aziz, “Aqidah Akhlaq, untuk Madrasah Aliyah kelas III”, Wicaksana, Semarang, t.t., hal. 12.

[17]Harun Nasution, “Filsafat Agama”, cet. VI, Bulan Bintang, Jakarta, 1987, hal. 103

[18]Abu Al-Fath Muhammad Abd Al-Karim bin Abi Bakar Ahmad al-Syahrastani, “Al-Milal wa al-Nihal”, diedit oleh Abd al-Aziz Muhammad al-Washil, Daar al-Fikr, Beirut, t.t., hal. 47 dan Louis Ma’luf, “Al-Munjid fi al-A’lam”, Daar al-Masyriq, Beirut: 1991, hal. 673

[19]Berbeda dengan sikap kholifah dalam catatan kaki no. 3. Bila bukan karena mengusik paham resmi Negara untuk wacana yang sama, tentu ada penjelasan lain.

[20]Harun Nasution,“Teologi Islam”, op.cit., hal. 33

[21]Ibid., hal. 31.

[22]Harun Nasution, “Filsafat Agama”, op.cit.,, hal. 103

[23]Lihat Drs. H. Muhammad Rifai, “Perbandingan Agama”, cet. VII, Wicaksana, Semarang, 1983

[24]Dr. Jalaluddin Rahman, “Konsep Perbuatan Manusia menurut Al-Qur’an – Suatu Kajian Tafsir Tematik”, cet. I, Bulan Bintang, Jakarta,  1992, hal. 89

[25]Dirjen Binbagais Depag RI, “Aqidah-Akhlaq untuk Madrasah Aliyah kelas III”, t.p., Jakarta, 1992, hal. 10-11.

[26]Al-Syahrastani, op.cit., hal. 46 dan Louis Ma’luf, op.cit., hal. 470

[27]Harun Nasution, “Teologi Islam”,op.cit., hal. 8.

[28]Umar Hasyim,“Mencari Taqdir”, Ramadhani, Solo, 1983, hal. 82

[29]M. Rifai, “Perbandingan Agama”,loc.cit.

[30]Lima ajaran pokok Mu’tazilah: (a) Tentang Dosa Besar. Orang Islam yang mengerjakan dosa besar sehingga matinya belum bertaubat maka orang itu dihukumkan tidak kafir dan tidak mukmin tetapi berada di antara keduanya (al-manzilat baina al-manzilataini); (b) Tentang Qadar. Bukanlah Allah yang menjadikan segala perbuatan ini, tetapi makhluk sendirilah yang mengerjakan dan menjadikan perbuatannya. Oleh karena itu maka diberi siksa dan pahala. Dengan jalan itulah berarti Allah memiliki sifat-sifat keadilan dan Allah tentu tidak menyukai perbuatan kebinasaan dan kezaliman; (c) Tentang Ketauhidan. Mu’tazilah menafikan Allah dengan sifat-sifat yang azali, seperti Ilmu, Qudrot, Hayat dan sebagainya selain Dzat-Nya. Bahkan Allah itu bersifat Aliman, Qodiron, Hayyan, Sami’an, Bashiron dan sebagainya adalah dengan Dzat-Nya demikian; (d) Tentang Akal. Manusia dengan akalnya dapat mengetahui yang baik dan yang buruk, sekalipun tidak diberikan oleh Syara’. Umpamanya, mengingkari baiknya bersyukur kepada Allah dan buruknya mengingkari nikmat Allah; (e) Tentang Janji dan Sangsi. Janji dan sangsi pasti terlaksana. Janji dengan pahala, sangsi dengan siksa, janji menerima taubat –Tuhan tidak akan  mema’afkan dosa besar tanpa taubat– tidak akan menutupi pintu pahala bagi orang yang bertaubat dan berbuat kebaikan. Lihat H.Muhammad Rifai dan R.S. Abdul Aziz, “Aqidah Akhlaq untuk Madrasah Aliyah kelas I”, edisi 1988/1989, jilid I, cet. III, Wicaksana, Semarang, 1989, hal. 35-36.

[31]Jalaluddin Rahmad, op.cit., hal. 91.

[32]Ibid., hal. 90.

[33]Ibid., hal. 91.

[34]Dirjen Binbagais-Depag RI, op.cit., hal. 9; Harun Nasution, “Teologi Islam”, op.cit., hal. 33; H.Muhammad Rifai, “Aqidah Akhlaq untuk Madrasah Aliyah Kelas III”, op.cit., hal. 12.

Catatan: Dalam pemaparan sebelumnya, al-Ja’du bin Dirham disebut memiliki andil kepeloporan bagi aliran Qadariyah. Bila ini benar, berarti tokoh ini mengalami pergeseran pemikiran oleh sesuatu sebab.

[35]Ahmad Amin, “Fajr al-Islam”, Al-Nahdhoh al-Mishriyah, Kairo, 1975, hal. 286-287.

[36]Harun Nasution, “Teologi Islam”, op.cit., hal. 31.

[37]Dirjen Binbagais-Depag RI, loc.cit.

[38]H. Muhammad Rifai, “Aqidah Akhlaq untuk Madrasah Aliyah Kelas III”, loc.cit.

[39]Jalaluddin Rahman, op.cit., hal. 86

[40]Dirjen Binbagais-Depag RI, op.cit., hal. 13.

[41]Jalal al-Din Muhammad, “Nasy’ah al-Asy’ariyah wa Tathowwuruha”, Dar al-Kitab al-Lubnany, Beirut, 1975, hal. 165-166.

[42]Umar Hasyim, op.cit., hal. 64.

[43]Ibid., hal. 85.

[44]Dirjen Binbagais-Depag RI, loc.cit. dan H. Muhammad Rifa’i, “Aqidah Akhlaq untuk Madrasah Aliyah Kelas III”, op.cit., hal. 14

[45]Jalaluddin Rahman, op.cit., hal. 87 dan Harun Nasution, “Teologi Islam”,op.cit., hal. 108.

[46]Jalaluddin Rahman, loc.cit.

[47]Zuhairini dkk., op.cit., hal. 106

[48]Harun Nasution, “Teologi Islam”, op.cit., hal. 37.

[49]Dirjen Binbagais-Depag RI, op.cit., hal. 14.

[50]Harun Nasution, “Teologi Islam”, op.cit., hal. 9.

[51]Dirjen Binbagais-Depag RI, loc.cit. dan H. Muhammad Rifa’i, “Aqidah Akhlaq untuk Madrasah Aliyah Kelas III”, op.cit., hal. 15.

[52]Umar Hasyim, op.cit., hal. 83

[53]LSAF, “Ulumul Qur’an”, no. 2, vol. IV, 1993, hal. 54.

[54]Ibid

[55]Umar Hasyim, op.cit., hal. 83

[56]Ini menyangkut ayat-ayat Al-Qur’an yang dipakai sebagai dalil naqli untuk berhujjah. Dikumpulkannya di dalam fasal tersendiri untuk menghindari pengulangan penulisan ayat-ayat yang sama ketika menguraikan aliran pemikiran demi aliran pemikiran. Sedangkan kecenderungan polarisasi aliran-aliran yang ada, secara garis besar, ada dua. Sementara jumlah aliran yang telah membukukan diri dalam catatan sejarah ada lebih dari bilangan kecenderungan polarisasi yang ada. Berdasarkan dua kecenderungan pokok tersebut maka ayat-ayat yang ditulis dalam fasal ini juga terbagi ke dalam dua kecenderungan dimaksud.

[57]Jalaluddin Rahman, op.cit., hal. 91-92.

[58]Ibid., hal. 103

[59]Bandingkan dengan cara mengambil kesimpulan dalam logika berpikir silogisme (Lihat Prof. I. R. Poedjawijatna, “Logika, Filsafat Berpikir”, cet. VII, Rineka Cipta, Jakarta, 1992, hal. 82-84).

[60]Umar Hasyim, op.cit., hal. 96

[61]Prof. Dr. Nurkholis Madjid et., “Teologi Islam Rasional, Apresiasi terhadap Wacana dan Praksis Harun Nasution” (editor: Abdul Hakim), Ciputat Press, Jakarta, 2005, hal. 98

[62]Sifat-sifat Allah (juga sekaligus menjadi Asma’-asma’Nya), dapat menjadi cermin bagi akhlak manusia. Manusia harus mampu meneladani akhlak Allah (meskipun tidak mungkin sesempurna Allah) sesuai pesan Nabi Muhammad, ”Takhallaquu bi akhlaaqi Allah”, ”Berakhlaklah kamu dengan akhlak Allah!”. Akhlak Allah ditunjukkan lewat sifat-sifat atau nama-nama-Nya yang Agung. Perintah ini mengandung makna manusia harus ’menyerap’ sifat-sifat Allah ke dalam dirinya. Manusia membiarkan sifat-sifat Allah memantul dalam dirinya. Menurut kaum Sufi, setiap kali manusia menyerap sifat-sifat Allah maka hakekat kemanusiaannya akan berubah dan berkembang serta timbul perpindahan nilai dalam dirinya. Hal ini terjadi karena setiap kali penyerapan senantiasa diikuti oleh penyinaran dari Allah. Penyinaran ini menurut Al-Jilli, penulis buku Al-Insaan al-Kaamil fii Ma’rifati al-Awaa’il wa al-Awaakhir, terjadi melalui tiga tahap. Pertama, penyinaran dengan nama-nama-Nya; kedua, penyinaran dengan sifa-sifat-Nya; ketiga, penyinaran dengan Dzat-Nya.

[63]Disarikan dari sejumlah sumber, terutama dari Dr. Harun Yahya, “Kesempurnaan Penciptaan Atom”, cet. I, Dzikro, Bandung, 2004, hal. 22-23

[64]Nurcholis Madjid, op.cit., hal. 101

[65]Untuk cara-cara mengambil kesimpulan seperti ini dapat ditengok pada Prof. I.R. Poedjawijatna, loc.cit.

[66]Mujamma’ Khadim al-Haramain asy-Syarifain al-Malik Fahd, “Al-Qur’an dan Terjemahnya”, Madinah Munawwarah, 1412 H, catatan kaki no. 14.

[67]Harun Yahya, loc.cit.

[68]Hukum-hukum dalam ilmu kealaman sangat banyak dan beragam dan acap diberi nama tokoh ilmuwan untuk menghormati jasanya dalam persoalan terkait, misalnya hukum Newton, hukum Archimedes, hukum Dalton, Limit Chandrasekkar, dan seterusnya.

[69]Hingga dewasa ini, para ilmuwan ilmiah masih mencari semacam rumusan tunggal yang merangkum Empat Gaya Dasar yang ada ke dalam sebuah teori tunggal. Jika ini ditemukan atau sudah dapat dirumuskan, maka penjelasan tentang “Kun” dan “Fa Yakun” dalam hubungannya segala sesuatu yang maujud (alam semesta) akan jauh lebih mudah diterangkan. Alam semesta ada atau tidak ada cukup dengan satu kata “Kun”, maka akan berproses menjadi “Fa Yakun”.

[70] Istilah sel, kromosom, gen dan genetik masih sulit dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia tetapi sudah familiar dalam dunia sains.

[71]Prof. Dr. C.A. Van Peursen, “Cultuur in Stroomversnelling” een geheel bewerkte uitgave van  “Strategie van de Cultuur, Elsevier”, diindonesiakan oleh Dick Hartoko, “Strategi Kebudayaan”, cet. V, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1985, hal. 208.

[72]Nurcholis Madjid, op.cit., hal. 104

[73]Dalam fasal sebelumnya, titik singgung antara diri ruhani dan diri jasmani disebut tidak terpetakan tempatnya. Dan memang secara titik singgung ‘ketubuhannya’ tidak mudah dipahami. Sementara dalam fasal ini lebih menyoroti perjalanan kehendak dan perbuatan dari titik awal hingga terwujud di alam nyata di mana diri ruhani dan diri jasmani beretemu pada titik al-qudrah dan al-istitha’ah.

[74]Lihat “Irwaul Ghalil”, no. 2062.

[75]Niat dalam dunia penyidikan dan penegakan hukum disebut ‘motif’.

[76]Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah.

[77]C.A. Van Peursen, op.cit., hal. 112.

[78]Ahmad Syafi’i Ma’arif, op.cit., hal. 14

[79]Jalaluddin Rahmat, op.cit., hal. 131

[80]yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan.

[81]Yang dimaksud dengan ‘amanat’ (ada yang memberi penafsiran demikian) ialah tugas-tugas keagamaan, yakni tugas keibadahan dan kekholifahan.

[82]Dirjen Binbagais Depag RI, “Filsafat Pendidikan Islam”, Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama, Jakarta, 1984, hal. 37.

[83]Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

[84]Jalaluddin Rahmat, op.cit., hal. 129-130.

[85]Nurkhalis Madjid, op.cit., hal. 97-98.

[86]Disarikan dari: Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an Jakarta, “Tipologi Manusia Pembangunan dalam Al-Qur’an”, Cet. I, PTIQ Jakarta, Jakarta, 1988, hal. 188

[87]Ayat-ayat Al-Qur’an yang lain tentang ujian hidup yang harus dijalani manusia dapat juga dirujuk pada: QS. Al-Baqarah (2): 56; QS. Ali Imron (3): 186; QS. Al-Ma’idah (5): 48; QS. Hud (11): 7; QS. Muhammad (47): 4, 31; QS. Al-Mulk (67): 2.

[88]Ahmad Syafi’i Ma’arif, op.cit., hal. vii

[89]Nurcholis Madjid, op.cit., hal. 22

[90]Lihat Al-Qur’an surat Asy-Syuura (42): 38, Ali Imron (3): 159. Kedua ayat ini berisi keutamaan tentang musyawarah –menyelesaikan persoalan dalam semangat kebersamaan– untuk semua urusan dan perkara. Banyak urusan dan perkara yang bisa diselesaikan dalam semangat kebersamaan secara bersama-sama. Pula banyak perkara dan urusan yang pupus karena enggan mengambil cara ini sebagai jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *