UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR METEMATIKA PADA SISWA MAN 5 BOJONEGORO

OLEH SITI AFIF MUCHAYAROH, S Pd

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, di samping itu matematika juga merupakan faktor pendukung dalam laju perkembangan dan persaingan di berbagai bidang. Matematika lahir karena dorongan kebutuhan manusia, dengan bantuan matematika, banyak peristiwa atau kejadian alam semesta ini dapat dipelajari.

           Sebagai ilmu dasar, matematika dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya, sehingga dalam perkembangannya atau pembelajarannya di sekolah harus memperhatikan perkembangan – perkembangannya, baik masa lalu, masa sekarang maupun kemungkinan – kemungkinan untuk masa depan. Namun hal itu kurang mendapat dukungan, baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana, guru,  siswa dan metode belajar. Sehingga masih banyak sekolah–sekolah masih rendah hasil belajarnya, terutama pada mata pelajaran matematika.

          Seperti halnya pada hasil belajar matematika siswa kelas XII MIPA 2 MAN 5 Bojonegoro yang masih tergolong rendah, ini dapat dilihat dari hasil ulangan harian yang diperolehnya. Dari 40 siswa yang nilainya lebih dari 6,5 hanya berkisar 10 – 15 siswa.

Masih rendahnya hasil belajar matematika di MAN Padangan diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain :

  1. Faktor siswa, sebagai berikut
  2. Potensi siswa yang kurang (dilihat dari penerimaan siswa baru tahun pelajaran 2017/2018 dengan rata-rata NUN 6,3).
  3. Siswa beranggapan bahwa matematika sulit. Hal ini karena matematika adalah suatu mata pelajaran yang mempunyai objek kajian yang abstrak yaitu berupa fakta, konsep, ketrampilan dan prinsip, serta banyaknya rumus yang digunakan.
  4. Motivasi belajar siswa yang rendah, ini dapat dilihat dari cara siswa dalam mengikuti pelajaran, yaitu:
    • Siswa tidak begitu memperhatikan pada waktu guru menerangkan.
    • Siswa senantiasa pasrah bila diberi soal-soal latihan.
    • Siswa masih pasif atau tidak mau bertanya walaupun belum paham dengan apa yang disampaikan guru.
  5. Kesempatan belajar siswa yang relatif sedikit sebab mata pelajaran yang banyak dan waktu yang kurang.
  6. Siswa kurang percaya diri sehingga takut salah untuk mencoba menyelesaikan soal-soal matematika.
  7. Faktor guru, sebagai berikut
  8. Guru tidak membuat satuan palajaran maupun rencana pengajaran.
  9. Guru kurang mempersiapkan pengajaran secara matang.
  10. Guru tidak menggunakan alat peraga.
  11. Guru belum menemukan metode pengajaran yang tepat (guru cenderung menggunakan metode ceramah dan latihan soal-soal saja).

Untuk itu perlunya penggunaan suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah dengan pendayagunaan media (alat bantu ajar).

          Dalam hal ini pembelajaran berbasis masalah bukanlah sekedar pembelajaran yang dipenuhi dengan latihan-latihan saja, tetapi dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dihadapkan dengan permasalahan yang membangkitkan rasa keingintahuan untuk melakukan penyelidikan sehingga dapat menemukan sendiri jawabannya, dan mengemukakan hasilnya pada orang lain. Dalam melakukan penyelidikan sering dilakukan kerja sama dengan temannya.

          Selain itu pembelajaran berbasis masalah ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai suatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep penting.

          Guru dalam pembelajaran berbasis masalah berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah dan memberikan fasilitas penelitian. Selain itu, guru menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Dan dalam hal ini guru berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar siswa.

          Dalam artikel ini kita akan membahas masalah, apakah pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada siswa MAN 5 Bojonegoro

           Pemecahan masalah yang diajukan dilaksanakan dalam 5 tahap, yaitu :

  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi, siswa terlibat pada aktivitas yang dipilihnya.
  2. Guru membantu siswa menetapkan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut, dengan mendayagunakan media/alat bantu ajar.
  3. Guru mendorong siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
  4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model, dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
  5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan.

          Pembelajaran Berbasis Masalah adalah pembelajaran dengan ciri utama meliputi pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin, penyelidikan autentik, kerja sama, dan menghasilkan karya atau hasil peragaan (Ismail, 2002:2).

          Sedangkan pembelajaran berbasis masalah yang dimaksud di sini adalah suatu pembelajaran di mana guru menyajikan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dengan tahapan: orientasi siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual atau kelompok, mengembangkan atau menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

          Penjelasan ini diharapkan memberikan manfaat yang luas pada banyak pihak antara lain sebagai berikut.

  1. Manfaat yang diperoleh siswa, antara lain:
  1. Siswa merasa senang karena ikut terlibat langsung (aktif) dalam proses pembelajaran.
  2. Siswa makin berani dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan soal-soal matematika.
  3. Hasil belajar siswa dapat meningkat.
  4. Manfaat yang diperoleh guru, antara lain:
  5. Dapat dijadikan masukan untuk mengadakan evaluasi terhadap pengajaran.
  6. Pengalaman dan ilmu pengetahuan guru semakin bertambah.

Membahas pengertian hasil belajar tidak lepas dari belajar. Para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainnan tentang belajar sesuai dengan keahlian bidang masing-masing.

James O Whittaker (dalam Djamarah, 2002: 12), misalnya, merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.

Cronbach (dalam Djamarah, 2002: 13) berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as a result of experience

Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Slameto (dalam Djamarah, 2002: 13) juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

          Dari beberapa pendapat para ahli  tentang pengertian belajar yang dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga  untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku

sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. Perlu diingat bahwa belajar merupakan peristwa yang terjadi secara sadar dan sengaja.

           Pengertian hasil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah apa yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya).

           Dalam hal tersebut hasil merupakan apa yang telah dicapai dari suatu penilaian kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif. Penilaian kualitatif dinyatakan dengan huruf, sedangkan penilaian kuantitatif dinyatakan dengan angka yang mencerminkan hasil dari suatu pencapaian nilai pada periode tertentu.

           Maksud hasil belajar di atas adalah taraf pencapaian suatu penilaian dalam kegiatan yang telah dicapai oleh siswa setelah proses belajar mengajar.Pencapaian yang bisa di gunakan dapat dbedakan beberapa tahap:

A. Tahap Perencanaan

  1. Permasalahan diidentifikasikan dan masalah dirumuskan. Dalam hal ini guru menentukan materi pelajaran yang akan disajikan kepada siswa
  2. Guru merencanakan pembelajaran berbasis masalah dengan membuat rencana pengajaran untuk pokok bahasan yang akan dilaksanakan
  3. Mempersiapkan lembar pengamatan untuk mengamati situasi dan kondisi kegiatan pembelajaran

B. Tahap Pelaksanaan

  1. Guru menyuruh siswa mempersiapkan segala perlengkapan yang akan digunakan.
  2. Guru melakukan kegiatan apersepsi
  3. Guru mengajukan permasalahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.contoh Permasalahan tersebut adalah: “Dari puncak sebuah gedung yang tingginya 50 meter dari permukaan tanah datar terlihat dua buah bendera. Jika bendera di tiang pertama dan di tiang kedua terlihat dengan sudut elevasi 25° dan 50°, hitunglah jarak antara kedua tiang bendera tersebut”.
  4. Guru membagi siswa dalam kelompok berdasarkan penyebaran kemampuan di mana setiap kelompok terdiri 5 orang sehingga terbentuk 8 kelompok dengan nama kelompok A, sampai dengan kelompok H.
  5. Tahap Pengamatan
  6. Observer mengamati jalannya pembelajaran berbasis masalah
  7. Observer secara umum memiliki empat tugas, yaitu:
  • Mengamati komunikasi antar siswa.
  • Mengamati aktivitas siswa.
  • Mengamati kerjasama siswa dalam kelompoknya
  • Mengamati jalannya kinerja guru dalam pengelolaan pembelajaran berbasis masalah.

C. Tahap Refleksi

Setelah melaksanakan pengamatan atas tindakan pembelajaran di dalam kelas, selanjutnya diadakan rerleksi dari tindakan yang telah dilakukan. Pembahasan hasil ini didasarkan atas hasil pengamatan yang dilanjutkan dengan refleksi pengamatan pada setiap siklus tindakan. Pengelolaan pembelajaran matematika berbasis masalah belum dilaksanakan dengan baik karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang baru bagi guru. Pembelajaran berbasis masalah yang didahului dengan penjelasan oleh guru, pengajuan masalah oleh guru, pembentukan kelompok berdasarkan teman 2 meja, dan tiap dua kelompok memperoleh permasalahan yang sama, serta penyajian hasil diskusi kelompok di depan kelas merupakan salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa sehingga perlu diterapkan di sekolah menengah umum.Terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *